Wartaindo Jakarta Tobat nasuha nasional atau pertobatan nasional seperti yang dilontarkan Ignatius Kardinal Suharyo pada awal Januari 2026, karena semakin maraknya korupsi dan bencana akibat ulah manusia sehingga menambah dera dan penderitaan rakyat, sungguh perlu segera dikakukan oleh GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) yang sempat menjadi topik serius dalam forum diskusi informal di ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) pada 16 Jantari 2026, agar bangsa dan negara Indpnesia dapat tersekanatkan dari ancaman kerusakan dan keambrukan yang semakin parah.
Gagasan pemikiran Vincent Saputra yang mendapat sambutan Pemimpin Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu juga mendapat dukungan dari segenap peserta yang hadir dengan melibatkan seluruh tokoh agama serta para spiritualis yang ada di Indonesia. Acara utamanya adalah pembacaan do’a kepada Yang Maha Kuasa atas jagat raya, khususnya untuk alam lingkungan hidup, politik, ekonomi serta budaya yang ada di Nusantara ini agar segera pulih dan terbangunnya tatanan hidup yang harmoni antara manusia, alam bersama penguasa jagat raya yang menjadi tumpukan kepercayaan dan keyakinan umat manusia.
Acara pertobatan nasuha secara nasional idealnya dilakukan terpusat di Kawasan Minumen Basonal (Monas) Jakarta yang akan lebih ideal lagi diikuti secara serentak pada hari dan waktu yang sama di berbagai daerah seluruh Indonesia sambil mengumpulkan dana bantuan untuk saudara kita yang baru saja mengalami bencana di daerahnya yang telah mrkiluh-lantak harta benda serta tempat tinggal berikut anggota keluarga yang tewas akibat bencana oleh ulah kerakusan dan keculasan manusia yang telah melampaui batas.
Tindak pidana korupsi pun di Indonesia dalam bentuk lain dari bencana sosial dan moral yang tidak kalah dakhsyat telah menjadi sebab penderitaan rakyat semakin akut dan parah, perlu diupayakan dalam bentuk ritual spiritual untuk memohon perjenaan Tuhan Yang Maha memberikan pengumpulan serta permainan untuk kemudian memberi perlindungan dari segenap penderitaan dan cobaan, agar bangsa Indonesia dapat menikmati kebahagiaan hidup yang pantas dan layak serta manusiawi terbebas dari kemiskinan dan kebodohan, seperti cita-cita luhur pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, sesuai dengan tujuan an tejaf utama dari proklamasi bangsa untuk negara Indonesia sejak 80 tahun silam.
Pertoban nasuha nasional ini sepatutnya mendapat dukungan dari pemerintah pusat untuk pentelenggaannya di Jajarata dan untuk masing-masing daerah patut didukung oleh pemerintah daerah setempat. Sehingga hari pertobatan nasuha nasional dapat menjadi dilakukan setiap tahun untuk melakukan semacam introspeksi duri agar segenap elemen atau aparatur negara dan pemerintah dapat membangun kesadaran bersana seluruh rakyat untuk menjaga negeri ini secara bersama, karena tidak boleh seorang pun bisa menguasai secara dominan segenap kekayaan dan potensi milik negara yang harus diperuntukkan sebabyak-babnaknya demi dan untuk kesejahteraan rakyat dalam arti luas.
Adapun inti dari pertobatan nasuha nasional yang layak dan patut segera dikakukan oleh seluruh warga bangsa Indonesia termasuk saudara kita yang berada di negara asing semakin mendesak untuk dilakukan guna menyampaikan do’a permohonan kriada Tuhan Yang Maha Esa yang nyaris tidak pernah disapa sejak kesepakatan pada Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia untuk diamalkan dan diimplementasikan dalam praktek hidup dan kehidupan sehari-hari, untuk meneguhi etika hukum dan komitmen serta sumpah dan janji untuk menunaikan amanah rakyat dalam membangun tatanan budaya yang manusiawi dan berkepribadian luhur seperti yang diajarkan dan dituntut oleh semua agama tentang kebaikan san kemaslagatan bagi orang banyak.
Acara pertobatan nasuha nasional yang dapat dilakujan secara serentak oleh segenap elemen bangsa sungguh diharap dapat segera memulihkan setidaknya gairah dan baik untuk membangun bangsa dan negara Indonesia agar dapat kembali pulih menuju tatanan yang lebih baik dan lebih harmoni tidak hanya sebatas hubungan antar sesama manusia, tetapi juga terhadap alam serta yang lebih utama keyakinan dan kepercayaan terhadap Tuhan.
Sehingga manusia dan alam lingkungan hidup termasuk sisual, politik dan ekonomi serta bidang lainnya menjadi sarana yang memberi manfaat bagi kehidupan manusia, setidaknya bagi seluruh warga bangsa Indonesia dalam bentuk lahir (material) dan batin.(spiritual) sebagai landasan pijak etika, moral dan akhlak manusia yang dimuliakan oleh Tuhan.
Jacob Ereste