Wartaindo Jakarta Cerdas, Berani dan jujur serta ikhlas bagi sosok seorang aktivis pergerakan dapat menjadi jaminan bahwa sikap dan sifat konsisten untuk berjuang demi rakyat, lebih dari cukup. Demikian topik diskusi rutin GMRI, Kamis, 14 Mei 2026 di Sekretariat, Jl. Ir. H. Juanda No. 4 A, Jakarta Pusat. Tampaknya, inilah yang dimaksud oleh Joyo Yudhantoro sebagai utusannya utusan yang sejati dalam mengemban amanah rakyat yang dititahkan langit dalam perspektif spiritual seperti yang dimaksudkan Sri Eko Sriyanto Galgendu dalam obrolannya pada pelbagai kesempatan.
Penegasan itu, kembali dilontarkan pada diskusi kali ini yang cukup serius dalam suasana yang tetap santai dengan berpijak pada realitas politik di Indonesia yang semakin memanas, seakan ikut tersengat oleh suhu bumi yang terasa sangat gerah sejak beberapa pekan terakhir, yang tak begitu jelas keterkaitannya dengan perang antara Israel dan Amerika Serikat yang terkesan begitu ambisi untuk menguasai Iran.
Sambil menyantap Sate bumbu Kacang Mede bagian dari produk Rumah Makan Ayam Ancuur, diskusi informal antara sahabat dan kerabat GMRI sempat membahas rencana launching “Kitab MA HA IS MA YA” yang memuat 79 do’a untuk tokoh dan pemuka masyarakat yang diharap terlaksana pada bulan Agustus 2026, sehingga genap satu tahun dari pembacaan do’a yang termuat dalam “Kitab MA HA IS MA YA”, hasil monolog selama 20 jam non stop pada 2-3 Agustus 2025 silam di Auditorium Wisma Antara, Jakarta Pusat.
Sementara program lain — penyela diantara program besar GMRI yang juga hendak melakukan safari Diplomasi Spiritual Global ke berbagai negara sahabat, juga semakin matang dan terang untuk diwujudkan. Karena itu, untuk menjaga semangat, GMRI akan melaksanakan acara pada hari kelahiran Pancasila pada 1 Juni 2026 dengan sponsor utama Forum Negarawan dan Forum Lintas Agama dengan tema utama Memaknai Nilai-nilai Kebangsaan dan Kenegarawanan dalam perspektif spiritual global.
Diplomasi Spiritual Global sendiri menurut Sri Eko Sriyanto Galgendu merupakan upaya untuk memperkuat kehadiran bangsa dan negara Indonesia dalam pergaulan kancah dunia internasional, sekaligus untuk mewujudkan Indonesia sebagai Mercu Suar yang akan memberi cahaya terang bagi seluruh bangsa di dunia untuk secara bersama-sama membangun suasana yang damai dan harmoni dalam tatanan etika dan moral sebagai pilar peradaban masa depan manusia di muka bumi.
Atas dasar itulah, gerakan kesadaran dan pemahaman spiritual semakin mendesak bukan saja sebagai gagasan dan buah pikir manusia Indonesia untuk memposisikan diri sebagai pusat cahaya penerang dunia, tetapi juga untuk menjadi pelopor membangun konstruksi peradaban dunia yang lebih beradab.
Forum diskusi rutin informal yang dilakukan GMRI setiap Senin-Kamis atau sebaliknya — Kamis-Senin — telah menjadi semacam dapur pengolah menu perencanaan dari sajian yang dianggap paling mendesak untuk menjadi kudapan pemikiran intelektual dan permenungan spiritual yang disadari sangat diperlukan oleh bangsa dan negara Indonesia agar dapat lebih tangguh dan kuat menghadapi gesekan budaya — kalau tidak bisa dikatakan semacam benturan peradaban seperti yang sangat dicemaskan para pemikir Barat — akan terus menimbulkan turbulensi dahsyat — yang mengguncang dunia. Sejumlah pemikiran dan gagasan besar pun telah lahir dari forum diskusi rutin informal GMRI, seperti acara membacakan do’a dalam bahas bhumi hingga tebitnya “Kitab MA HA IS MA YA” yang akan segera dipublish dalam waktu dekat.
Penulis Jacob Ereste