Penutupan NBC III: 250 Peserta Berpakaian Adat, Merawat Kebhinekaan dalam Iman

 

Wartaido Denpasar Halaman Gedung DPRD Provinsi Bali tidak sekadar menjadi tempat berakhirnya sebuah rangkaian kegiatan. Di tengah suasana malam Kota Denpasar, 250 senior-seniorita Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) hadir mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.

Ada yang datang membawa identitas budaya daerahnya. Ada yang membawa kenangan panjang perjalanan sebagai kader GMKI. Namun, malam itu semuanya berdiri dalam satu persekutuan.

Ibadah penutupan National Bible Camp (NBC) III Perkumpulan Senior GMKI berlangsung dalam suasana khidmat dan reflektif, Senin (24/8/2026). Konsep malam budaya menjadi bagian dari penutupan, mempertemukan iman dengan keragaman budaya yang dibawa para peserta dari berbagai penjuru Indonesia.

Renungan disampaikan Pdt. Rudy Sembiring Meliala. Liturgi dipimpin Pdt. Ronald Richard bersama Natasya Siahaan, sedangkan doa syafaat dibawakan Pdt. Damaris Palinggi dari GMKI Cabang Makassar.

Firman Tuhan yang menjadi bahan refleksi diambil dari Mikha 6:8: tentang melakukan keadilan, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah.

Pesan tersebut menjadi ajakan bagi para kader dan senior GMKI untuk tidak berhenti pada pemahaman iman, tetapi menerjemahkannya dalam kehidupan nyata melalui keadilan, kesetiaan, dan kerendahan hati.

Iman yang Tetap Menyala

Di balik semarak malam budaya, terdapat kisah tentang usia, perjalanan hidup, dan kecintaan terhadap organisasi.

Pdt. Rudy Sembiring Meliala mengingatkan bahwa sebagian peserta mungkin secara fisik tidak lagi seperti ketika mereka masih aktif sebagai mahasiswa. Namun semangat untuk berkumpul dan merawat persaudaraan GMKI tetap menyala.

“Dilihat dari casing masih gagah dan kuat, namun ada senior-senior yang harus konsumsi obat setiap harinya. Contohnya saya, di luarnya seperti tidak apa-apa, namun harus mengonsumsi obat. Karena kecintaan terhadap GMKI, masih rela untuk hadir bersama-sama hingga malam penutupan,” ujar Rudy.

Kalimat tersebut menjadi salah satu refleksi yang paling manusiawi pada malam itu.

Di balik usia yang terus bertambah, terdapat semangat yang tidak ikut menua. Kecintaan terhadap GMKI membuat para senior kembali bertemu, meski sebagian harus menempuh perjalanan panjang dan menghadapi keterbatasan fisik.

NBC III akhirnya bukan hanya tentang agenda organisasi. Ia menjadi ruang untuk mengingat kembali persahabatan, perjuangan, dan nilai-nilai yang pernah dibangun bersama.

2027, Tahun Strategis

Semangat kebersamaan tersebut sekaligus diarahkan pada perjalanan organisasi ke depan.

Ketua Umum Perkumpulan Senior GMKI, William Sabandar, mengatakan tahun 2027 akan menjadi momentum penting bagi GMKI dan Perkumpulan Senior GMKI.

Tahun tersebut akan diwarnai sejumlah agenda besar, termasuk Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Perkumpulan Senior GMKI dan Kongres GMKI.

“Tahun depan, tahun 2027 merupakan tahun yang sibuk dan tentunya strategis untuk kegiatan dua organisasi nantinya,” ucap Willi.

Bagi para senior, keberadaan mereka bukan sekadar bagian dari masa lalu GMKI. Pengalaman, gagasan, dan jejaring yang dimiliki tetap dapat menjadi energi bagi perjalanan organisasi pada masa mendatang.

Ut Omnes Unum Sint

Di Bali, semangat Ut Omnes Unum Sint supaya mereka semua menjadi satu memperoleh bentuk yang nyata.

Kesatuan tidak berarti menyeragamkan semua orang. Justru pada malam itu, kesatuan tampak melalui keberagaman.

Pakaian adat yang dikenakan para peserta memperlihatkan betapa beragamnya Indonesia. Setiap daerah membawa warna, simbol, sejarah, dan kebudayaannya masing-masing.

Namun semuanya hadir dalam satu ruang.

Para senior GMKI dari berbagai daerah bertemu bukan karena memiliki latar belakang budaya yang sama, melainkan karena memiliki semangat persaudaraan yang sama.

Keberadaan mereka di Bali juga memberikan pesan tersendiri bagi masyarakat. Di sebuah pulau yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, komunitas Kristen dapat hidup dan berkembang dalam suasana kebersamaan.

Blimbingsari, yang menjadi lokasi utama NBC III, menjadi salah satu gambaran nyata dari kehidupan tersebut.

“Adanya salah satu desa Kristen di Pulau Bali yang mayoritas beragama Hindu memberikan kesan tentang keharmonisan bagi masyarakat Bali,” ungkap Willy.

Bagi GMKI, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa iman tidak dibangun untuk menciptakan jarak dengan yang berbeda. Sebaliknya, iman dapat menjadi jembatan untuk membangun persaudaraan dan kehidupan bersama.

Terima Kasih dan Permohonan Maaf

Di penghujung rangkaian kegiatan, Ketua Panitia NBC III Pontas Simamora menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan.

Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Ketua DPRD Provinsi Bali yang diwakili Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali, Nyoman Suyasa.

Menurut Pontas, pelaksanaan NBC III merupakan bagian dari semangat yang telah dibangun sejak 2012 melalui Pertemuan Raya Senior GMKI yang ketika itu dilaksanakan di Hotel Ancol, Jakarta.

Perjalanan panjang tersebut akhirnya mempertemukan kembali para senior di Bali.

Pontas juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh peserta apabila selama pelaksanaan Senior Gathering dan NBC III terdapat kekurangan.

“Mewakili panitia pelaksana, kami mengucapkan mohon maaf bagi abang/kakak senior-seniorita jika ada yang kurang berkenan selama berkegiatan,” ucapnya.

Mewakili Ketua DPRD Provinsi Bali, Nyoman Suyasa membacakan sambutan Ketua DPRD Provinsi Bali yang memberikan apresiasi atas dipilihnya Bali sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan Senior GMKI.

Sejumlah tokoh dan senior GMKI turut hadir, di antaranya mantan Anggota DPR RI Firman Jaya Daeli, Sekretaris Jenderal PNPS GMKI Jeirry Sumampouw, pengacara Bernard Nainggolan, serta Prof. Riana Mangesa.

Ketika Budaya Menjadi Kesaksian

Sebelum seluruh rangkaian Senior Gathering dan NBC III ditutup, halaman Gedung DPRD Provinsi Bali berubah menjadi panggung kebudayaan.

Para peserta menampilkan peragaan busana adat dan lagu daerah dari berbagai kontingen sesuai asal cabang masing-masing.

Peserta dari GMKI Wilayah 4 yang meliputi Yogyakarta, Solo, Semarang, Salatiga, dan Purwokerto tampil membawa identitas budaya daerahnya. Demikian pula peserta dari Bandung, Jakarta, Makassar, serta wilayah Indonesia Timur yang meliputi Ambon, Kupang, Papua, dan Jailolo.

Berbagai pakaian adat dikenakan dengan penuh kebanggaan. Lagu-lagu daerah dinyanyikan. Identitas yang berbeda-beda itu justru menjadi satu pertunjukan yang memperlihatkan wajah Indonesia dalam ruang kebersamaan.

Malam itu, kebhinekaan tidak hanya menjadi sebuah konsep yang dibicarakan dalam forum.

Ia dikenakan.

Ia dinyanyikan.

Ia dihidupi.

Di antara warna pakaian adat dan lantunan lagu daerah, para senior GMKI menunjukkan bahwa perbedaan daerah, budaya, dan pengalaman hidup tidak harus menjadi tembok pemisah.

Justru dari perbedaan itulah persaudaraan menemukan maknanya.

NBC III pun berakhir, tetapi pesan yang dibawa pulang jauh lebih panjang daripada rangkaian acara yang telah dilalui.

Dari Blimbingsari hingga Denpasar, para senior GMKI kembali diingatkan bahwa iman, persaudaraan, kebudayaan, dan pengabdian kepada bangsa dapat berjalan dalam satu jalan.

Ut Omnes Unum Sint.

Supaya mereka semua menjadi satu.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *