Oleh : Ryo Disastro | Periset Utama di Nusantara Centre
Wartaindo Jakarta Pada tulisan pertama tentang sesi lanjutan Kelas Pemikiran Kejeniusan, kita sudah membahas tentang ekonomi yang tidak berdiri sendiri karena adanya konfigurasi hubungan kekuasaan yang membentuk pasar itu sendiri. Melalui buku karya Todd G. Buchholz yang berjudul New Ideas from Dead Economists, Ichsanuddin Noorsy, sebagai pengampu materi, mengajak peserta menyelami lebih dalam ekonomi-politik melalui tiga jalur kritik: Stiglitz, Krugman, dan Hudson.
Joseph Stiglitz, Paul Krugman, dan Michael Hudson adalah tiga ekonom kontemporer yang sama-sama melakukan kritik terhadap ortodoksi ekonomi arus utama, tetapi dari pintu masuk yang berbeda. Jika Buchholz bertanya tentang siapa berpikir apa? Lalu, Stiglitz bertanya tentang mengapa pasar tidak bekerja seperti teori? Krugman bertanya tentang mengapa perdagangan dan persaingan global tidak sesederhana teori? dan Hudson bertanya tentang siapa yang menangkap surplus ekonomi melalui utang dan keuangan?
Tetapi Noorsy tidak berhenti sampai di situ. Noorsy mengajukan pertanyaan berikutnya yang jauh lebih besar, yaitu tentang siapa yang mengonfigurasi seluruh sistem ekonomi itu? Pertanyaan terakhir inilah yang membawa kita dari economic thought menuju political economy of power.
Sebab ketika ekonomi sudah melibatkan bank, bank sentral, mata uang, pasar modal, utang negara, lembaga pemeringkat, IMF, Bank Dunia, dana investasi dan keuangan digital, maka pertanyaannya bukan lagi semata-mata bagaimana pasar bekerja. Kita harus bertanya siapa yang mempunyai kemampuan menentukan ruang kebijakan ekonomi sebuah negara.
Begitu pula dalam geopolitik. Dollar, perdagangan, energi, teknologi, militer, sanksi dan infrastruktur finansial saling berhubungan. Karena itu, ekonomi sebuah negara tidak bisa sepenuhnya dipahami hanya dari angka pertumbuhan, inflasi atau neraca perdagangan. Di balik angka tersebut terdapat struktur kekuasaan yang jauh lebih luas.
Noorsy mengajarkan kepada peserta kelas bahwa ekonomi harus dibaca melalui hubungan antara nilai, kebijakan, strategi, fungsi, instrumen, aplikasi, bukti empiris, dan konsistensi. Pada saat yang sama, seluruhnya berinteraksi dengan politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, spiritualitas dan teknologi; juga dengan negara, korporasi, pasar dan masyarakat. Pada tingkat global, semuanya bertemu dengan sistem finansial, digital, industri, militer dan geopolitik.
Maka ukuran keberhasilan ekonomi pun harus diperluas. Bukan hanya tentang berapa persen pertumbuhan ekonomi? Tetapi juga dinilai soal pertumbuhan itu menghasilkan apa? Siapa yang menikmati? Siapa yang membayar? Apakah produktivitas meningkat? Apakah rakyat memperoleh pekerjaan yang layak? Apakah teknologi memperkuat manusia atau menggantikannya tanpa perlindungan? Apakah surplus ekonomi kembali kepada masyarakat atau terkonsentrasi pada segelintir pemilik modal? Apakah negara semakin berdaulat atau justru semakin tergantung?
Dan yang paling mendasar adalah pertanyaan tentang ekonomi itu dibangun untuk siapa? Pertanyaan ini membawa ekonomi kembali kepada nilai. Sebab ekonomi pada akhirnya bukan hanya persoalan scarcity, choice, utility, dan efficiency. Ekonomi juga menyangkut harkat manusia, keadilan, kemakmuran, kedaulatan dan tujuan hidup bersama.
Karena itu, membaca pemikiran ekonomi tidak cukup berhenti pada hafalan teori. Noorsy mengenalkan alat ujinya melalui 3K. Kita perlu menguji Konsistensinya. Apakah nilai, teori dan kebijakannya saling sesuai? Kita perlu menguji Koherensinya. Apakah teori tersebut benar-benar menjelaskan sistem kehidupan yang kompleks? Dan yang paling penting, kita perlu menguji Korespondensinya. Apakah teori tersebut benar-benar cocok dengan kenyataan, termasuk struktur modal, teknologi, institusi, hukum dan kekuasaan yang bekerja di baliknya?
Dengan cara pandang itu, sejarah pemikiran ekonomi menjadi lebih dari sekadar sejarah para ekonom. Ia menjadi sejarah bagaimana manusia memahami produksi, distribusi, kekayaan, negara, kekuasaan dan masyarakat. Buchholz memberi kita peta perjalanan gagasan. Stiglitz, Krugman dan Hudson memperdalam sejumlah simpul penting dalam sistem.
Lebih dalam, pendekatan Noorsy kemudian mengajak kita melihat hubungan antarsimpul tersebut sebagai sebuah konfigurasi utuh. Dari pasar menuju keuangan, dari keuangan menuju korporasi, dari korporasi menuju negara, dari negara menuju geopolitik, lalu kembali kepada pertanyaan tentang kedaulatan dan tujuan konstitusional.
Kesimpulannya: ekonomi bukan sekadar ilmu tentang pasar. Ekonomi adalah ilmu tentang bagaimana sebuah masyarakat mengorganisasikan kehidupan materialnya dan siapa yang mempunyai kekuasaan untuk menentukan arah kehidupan tersebut. Di sinilah pertanyaan ekonomi yang paling penting dimulai. Dan di Mazhab Tebet, di kelas Sekolah Pemikiran Kejeniusan, pertanyaan itu dibedah, disemai, dan ditumbuhkan, untuk kemudian ditemukan jawabannya.(*)