Wartaindo Jakarta Sabdo Palon Noyo Genggong adalah “Janji Akan Kembalinya Ajaran Asli Nusantara”, yaitu tentang ajaran “Agama Budi” sebagai warisan asli para leluhur yang memiliki tingkat toleransi tinggi. Begitulah sikap legowo Prabu Brawijaya V dengan kerelaan melepas kekuasaannya pada Kerajaan Majapahit yang akan segera runtuh. Karena itu Prabu Brawijaya V sebagai raja terakhir Majapahit memilih moksa, menghilang dari peredarannya di dunia, entah kemana. Sedangkan Sabdo Palon sendiri adalah penasehat spiritual Raja Majapahit terakhir, Prabu Brawijaya V. Sedangkan Noyo Genggong adalah abdi atau punakawan dari Sabdo Palon yang setia. Padahal dalam jagat pewayangan, Sabdo Palon dipercaya sebagai sosok dari Semar. Dan dalam kepercayaan Kejawen, Semar adalah Danyang, roh penjaga Tanah Jawa.
Adapun awal dari cerita tentang Sabdo Palon Noyo Genggong bermula saat Kerajaan Majapahit dan Prabu Brawijaya V diminta untuk memeluk Islam dan menjadikan Islam sebagai agama resmi Kerajaan Majapahit oleh Sunan Kalijaga. Bagi banyak pemerhati dan pesuntuk budaya serta sejarah yang berbaur dengan mitos, momentum dari kehadiran Sabdo Palon Noyo Genggong menandai saat masuknya Islam menjadi agama resmi dalam tata pemerintahan kerajaan Mataram Islam. Prabu Brawijaya V sendiri dari berbagai dokumen rujukan — tidak masuk Islam, tetapi Prabu Brawijaya V memperkenankan Islam menjadi agama resmi dalam tata pemerintahan, seperti acap disebut awal dari keberadaan Mataram Islam.
Prabu Brawijaya V ketika itu memilih moksa menghilang sebagaimana dalam kepercayaan Hindu-Bhudda Jawa. Ia meneguhi agama Budi (Hindu-Buddha Jawa). Tapi Prabu Brawijaya V dalam kesaksian Sabdo Palon sendiri sebagai sosok yang sangat simbolik berjanji akan kembali untuk menagih janji setelah 500 tahun kemudian, sejak pertemuan Prabu Brawijaya V dengan Sunan Kalijaga pada kisaran tahun tahun 1500 – 1613 Masehi. Artinya dari bilangan tahun Masehi, kini saatnya janji itu akan dikembalikan yang juga acap diartikan dipahami saat kembalinya Sabdo Palon dalam ujud Semar yang acap diartikan juga turunnya kekuatan Prabu Brawijaya V sebagai raja terakhir Majapahit yang disebut oleh Sri Eko Sriyanto Galgendu, baik sebagai Pemimpin Spiritual maupun Wali Spiritual Nusantara, adalah pertanda dari kebangkitan energi spiritual bangsa Nusantara yang akan menjadi pusat dan memimpin dunia.
Sabdo Palon Noyo Genggong menurut Sri Eko Sriyanto Galgendu, dapat dipahami sebagai perkataan yang agung. Kata sabdo itu adalah ucapan, palon itu landasan (dasar) yang kuat, noyo itu hati dan genggong adalah kelanggengan dari kekuatan yang dimiliki oleh sosok yang bersangkutan.
Jadi, Sabdo Palon Noyo Genggong, kata Sri Eko Sriyanto Galgendu yang acap dipersonafikasikan sebagai sosok Semar oleh sahabat dan kerabat GMRI, Sabdo Palon justru dipercaya sebagai sosok Prabu Brawijaya V dalam pengertian simbolik — wujud dari ketangguhan sebagai Raja Majapahit yang mampu diantar mencapai puncak kejayaan dan kegemilangannya pada 500 tahun dilam di Nusantara. Artinya, jelas berbeda dengan pemahaman ketika diangkat di atas panggung pementasan seni Ketoprak drama khad tradisional Jawa sebagai abdi dalem — sosok dari rakyat kebanyakan Karena memang dalam dalam sejarah spiritual, filosofi para raja di Jawa, sda yang disebut “widadi” yaitu sesuatu yang dirahasiakan untuk tidak diketahui oleh warga masyarakat kebanyakan, yang juga sering disebut “kesangker” namun sekarang mulai dia buka demi dan untuk pemimpin Indonesia agar memiliki kekuatan seperti Sabdo Palon.
Penulis Jacob Ereste