CMP, Wira Sertifikasi Indonesia dan CNN Selenggarakan Workshop ISO 9001 dan Sosialisasi CDAKB

WartaIndo.id, Jakarta- Pendistribusian alat kesehatan (alkes) wajib diikuti dengan penanganan khusus guna memastikan alat yang digunakan memenuhi standar keselamatan dan kelayakan saat akan digunakan oleh pihak pengguna atau rumah sakit.

Sebagai sebuah panduan pendistribusian alkes, Kementerian Kesehatan mengatur setiap distributor alkes agar mematuhi regulasi yang tertuang di dalam Cara Distribusi Alat Kesehatan yang Baik (CDAKB), atau pedoman yang digunakan dalam rangkaian distribusi dan pengendalian mutu untuk menjamin produk alat kesehatan yang digunakan.

Dalam mewujudkan terselenggaranya CDAKB, PT. Cakra Manunggal Pratama Group (CMP Group) bekerja sama dengan PT. Wira Sertifikasi Indonesia dan PT. Cakra Niaga Nusantara menggelar Workshop ISO 9001 dan Sosialisasi CDAKB kepada 8 perwakilan perusahaan distributor alkes, yang diselenggarakan sepanjang 3 hari, di Sofyan Hotel Tebet, Jakarta Selatan.

Direktur Wira Sertifikasi Indonesia , Prof. Makmur Solahudin saat ditemui awak media di hari kedua workshop, Kamis (16/2), menjelaskan bahwa tujuan acara tersebut merupakan gabungan workshop untuk percepatan CDAKB dalam melewati ISO 9001.

“Jadi klo ISO 9001 itu kan lebih kepada manajemen di dalamnya, merumuskan SOP, menjalankan dan sebagainya. Nah dalam sisi ISO dan CDAKB ini ada sisi over laping (percepatan-red) item-item yang sebenarnya menunjang percepatan dari CDAKB ini,” ujar Profesor lulusan Jepang, itu.

Lebih lanjut Makmur menjelaskan, penyediaan dan pendistribusian alkes harus berorientasi kepada kesehatan dan keselamatan jiwa manusia, sehingga memerlukan perlakuan khusus yang berbeda dari peralatan lain pada umumnya.

“Jadi ada hal-hal yang sensitif yang harus dilindungi, terutama dari sisi manusianya sebagai pasien atau penggunanya,” tutur Makmur.

Sementara itu Rabindra Soekarsono Direktur CMP Group mengungkap lewat workshop yang diselenggarakan diharap dapat mendorong para distributor alkes untuk segera menerapkan pola pendistribusian alkes sesuai standar CDAKB sesuai dengan yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah.

“Kita membantu melakukan pelatihan-pelatihan, konsultasi, salah satunya saat ini workshop, yang diambil untuk membantu memudahkan perusahaan alat kesehatan yang saat ini didesak untuk segera menerapkan Cara Distribusi Alat Kesehatan yang Baik. Maksudnya yang baik adalah untuk membangun masyarakat Indonesia yang sehat, mendapatkan produk yang layak dan produk yang didelivery (dikirimkan-red) itu aman,” ujarnya.

Dengan diadakannya pelatihan ini, lanjut Rabindra, masyarakat umum maupun pengguna alkes yakni pihak rumah sakit dapat merasa yakin bahwa alat yang mereka gunakan terpelihara, dijaga dan dikalibrasi dengan baik.

Lebih lanjut dikatakan Rabindra, saat ini pemerintah menargetkan sebanyak 1.500 perusahaan distributor alkes dapat berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi CDAKB. Khusus untuk di Indonesia, tambahnya, dengan luasan wilayah yang ada cukup menjadi tantangan bagi sosialisasi yang dilakukan. Belum lagi total terdapat 3.300 perusahaan distributor di seluruh Indonesia.

Rabindra menargetkan, nantinya sebanyak 6 perusahaan distributor alkes akan berpartisipasi dalam kegiatan serupa yang akan dilaksanakan setiap bulan.

“Selaimpn Jakarta kita juha mengadakan pelatihan serupa di Lampung. Kita membuka workshop itu outputnya adalah membantu membuat dokumennya. Karena dokumennya itu cukup tebal yang jika diprint lebih kurang bisa sebanyak 2 rim (kertas-red). Jadi kita mengarahkan peserta workshop untuk menuliskan dan menjalankannya,” ucap Rabindra.

Sebanyak 24 orang perwakilan perusahaan distributor alkes mengikuti workshop ISO 9001 dan sosialisasi CDAKB hari ini. Selalin pimpinan, hadir juga peserta berlatar belakang Penanggung Jawab Teknis (PJT) yang diwajibkan memiliki sertifikasi terkait peralatan kesehatan yang mereka kuasai.

Mewakili perusahaan distributor alkes, dr. Yan Herman mengungkap, penyelenggaraan kegiatan ini sangat membantu praktisi distribusi alkes dalam mendapatkan sertifikasi ISO 9001. Di sisi lain Yan mengatakan bahwa model pelatihan yang digelar cukup membantu perusahaan dalam mengikuti regulasi Pemerintah terkait CDKAB.

Direktur PT. Cipta Varia Kharisma Utama ini kemudian berkata melalui penerapan CDAKB menjadi pedoman baku berstandar keselamatan dan kesehatan bagi perusahaan dalam melakukan packaging hingga pendistribusian alkes secara aman ke tangan pengguna.

“Kita harus yakin bahwa dari gudang kami, dari lokasi ke user baik rumah sakit maupun dinas harus diterima dalam keadaan baik,” ungkapnya pasti.

Di kesempatan yang sama Direktur Citra Niaga Nusantara Suzanna Kezia selaku bagian dari penyelenggara acara mengurai tentang tantangan ke depan akan yang dihadapi perusahaan lokal sebagai penyedia alkes buatan dalam negeri.

Wanita yang akrab disapa Anna ini juga menambahkan, tak sedikit izin yang harus diperoleh sebuah perusahaan distributor alkes agar produknya bisa dipasarkan. Tentunya didapatkan dengan tidak mudah.

“Kita harus punya Izin Distribusi Alat Kesehatan (IDAK). Dan setiap alat kesehatan yang dijual juga harus memiliki Izin Edar. Jadi semisal perusahaan saya mengedarkan ventilator atau pisau bedah, atau termometer, itu harus punya yang namanya Izin Edar,” ujar Anna.

Di sisi lain dirinya juga berharap, agar masyarakat Indonesia khususnya rumah sakit mau mendukung gerakan cinta produk lokal, agar alat-alat kesehatan produksi dalam negeri makin diminati dan mampu bersaing secara global di pasar internasional.

“Saya harap masyarakat juga mau mendukung agar produk-produk Indonesia bisa makin diminati,” tutupnya.

RP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *