Direktur LP3BH Mempertanyakan Digugurkannya 21 Orang Bintara Masuk Test SIP

Wartaindo.di Manokwari Christian Warinussy sebagai Advokat dan Pembela Hak Asasi Manusia (HAM) serta Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari,  mempertanyakan “digugurkan” nya sekitar 21 orang Bintara Peserta Test Masuk Sekolah Inspektur Polisi (SIP) jalur reguler tahun 2024 di Polda Papua Barat.

Apalagi karena alasan “gugurnya” anak-anak asli Papua berpangkat Bintara dari berbagai Polres di wilayah hukum Polda Papua Barat dikarenakan alasan yang sama yaitu mereka didiagnosis mengidap penyakit kelamin “sipilis” ?

“Saya kira sebaiknya Kapolda Papua Barat Irjen Pol.Johnny Eddizon Isir, S.IK, MTCP dan Wakapolda Brigjen Pol.Alfred Papare seyogyanya mengecek kembali hal ini”, pintanya.

Bagaimanapun saya menduga bahwa segenap anak-anak Asli Papua calon perwira tersebut sudah pernah beberapa kali mengikuti test masuk SIP. Apakah mungkin mereka harus berkali-kali dinyatakan tidak lulus dari sisi kesehatan semata?

“Saya kira dengan banyak anak-anak asli Papua diterima masuk mengikuti SIP, maka akan menjadi kebanggaan bagi keluarga dan turut memupuk peningkatan rasa cinta bangsa dan negara di kalangan keluarga dan masyarakat Asli Papua”, tandas pria yang satu ini.

Maka lanjut Chrstian hal ini patut dipertimbangkan secara cermat oleh pimpinan Polri seperti halnya Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Sehingga penerimaan calon peserta pendidikan perwira Polri di SIP, hendaknya memberi tempat yang signifikan ke depan. CW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *