Gerakan Kebangkitan dan Kesadaran Spiritual Bangsa Indonesia Idealnya Dipelopori dan Dimitori BPIP

Jakarta wartaindo.com Laku spiritual itu jalan menuju rumah Tuhan untuk mengurangi kegandrungan pada hal ikhwal duniawi yang riuh dan gaduh mempersoalkan keperluan hidup termasuk caranya untuk mendapatkan harta, kekuasaan dan beragam kemewahan yang dianggap paling bergengsi, kendati tidak ada hubungannya dengan kepentingan Tuhan.

Padahal, kepentingan Tuhan yang bisa dipahami secara awam saja hanya menginginkan manusia berbuat baik, tidak hanya sesama manusia, tapi juga alam serta makhluk ciptaan-Nya yang lain yang ada di dunia ini.

Jabatan dan kekuasaan, entah apa saja level dan sebutannya telah bersaing hebat dengan sikap rakus dan tamak pada harta kekayaan untuk memuaskan diri, sehingg bahyak diantara mereka yang tergelincir dan jatuh pada kebangun yang hina bahkan terburuk akibat ulahnya yang super culas.

Bayangkan saja jabatan yang sudah berada di atas awan itu bisa ambruk seketika akibat burahi yang tamak dan rakus, tak hanya terhadap harta dan kejayaan, tapi juga kekuasaan yang diinginkan lebih berkuasa lagi hingga seperti hendak melampaui kekuasan Tuhan.

Dalam hidup dan kehidupan sehari- hari pun egosentrisitas juga terkesan diumbar untuk hal- hal yang tidak penting bahkan tidak sedikitpun bermanfaat.

Mulai dari menikmati media sosial yang sesekali sering disumpah serapahi — tak jarang tampak dijadikan wadah pengumbar nafsu untuk sekedar mengkerdilkan pihak lain. Tidak cuma terhadap lawan yang tidak seragam, tapi juga kepada kawan yang dianggap jadi persaing atau lantaran dikira tidak mendukung pendapat, gagasan atau program yang hendak diwujudkan. Meski dia sendiri acap tidak jelas juntrungannya untuk mewujudkan pikiran dan gagasan dengan perencanaan dari program yang dibuatnya tidak jelas itu.

Suara dan nada nyinyir dalam melancarkan gerakan kesadaran dan pemahaman spiritual misalnya yang sementara ini menjadi salah satu jalan terbaik untuk mengurangi atau bahkan menghentikan perilaku degil dan culas seperti berperilaku curang, berbohong, menipu bahkan merampas tak hanya duit rakyat tapi juga hak-hak sebagai warga bangsa merdeka yang juga memiliki segenap hal yang ada di negeri ini, tidak sedikit yang telah dirampas dengan senena-mena, bukan hanya oleh penguasa saja, tapi juga oleh mereka sebagai rakyat yang sama posisi dan kedudukannya

Jadi seloroh pakar politik dan para ahli tata negara yang menyebut kecenderungan dari mereka yang kuat akan menindas mereka yang lemah, kayaknya ada benarnya juga. Karena itu mungkin pergulatan hidup jadi semakin seru dan seram, sehingga hidup itu sendiri harus dipahami sebagai suatu perjuangan dan perlawanan.

Agaknya, pilihan sikap untuk lebih aman berada di lorong jalan spiritual yang sunyi dan sepi, merupakan jalan terbaik, sebelum jalan lain yang lebih indah dan menyenangkan untuk menjauhi langgam dunia yang semakin bernuansa maksiat, jahat, tipu daya bahkan saling mencekakai antara yang satu dengan lainnya di luar batas takaran manusiawi, apalagi beradab.

Laku spiritual itu, hanya pilihan sementara sebelum pilihan lain yang lebih baik untuk dilakukan guna menjaga diri — jika belum bisa mengajak orang lain — untuk berperilaku apa adanya, ugahari dan menjalani hidup dengan cara yang sederhana, percaya pada keberadaan dan kekuasaan Tuhan.

Fenomena dari gagasan membuat Badan Pembina Ideoligi Pancasila (BPIP) yang macet itu — dapatlah dipahami bahwa Pancasila itu memang telah dijadikan alat semata, bukan memiliki suatu pemahaman yang harus dan mesti diamalkan dalam pemikiran, gagasan dan realisasi dari laku untuk segenap warga bangsa Indonesia untuk menghasilkan suatu produk — aoa saja wujud dan bentuknya — yang sepatutnya bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang banyak di negeri ini.

BPIP sendiri yang acap disebut besar pasalnya dari pada tiang itu, tidak juga sadar essensi dari Pancasilais juga harus tahu diri dan memiliki rasa malu untuk bermewah-mewah dengan upah yang mewah, sedangkan hasil yang dinikmati rakyat dari BPIP tiada jejak dan bekasnya. Toh, perilaku korup semya pejabat pemerintah — eksekutif, legislatif dan yudikatif — makin memuaskan saja peristiwa dan kejadiannya yang semakin merasa lela.

Begitulah gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual itu digagas. Sebab untuk menekan laju korupsi dan keculasan perilaku aparat pemerintah, justru lebih terkesan memprovokasi rakyat — utamanya pengusaha — ikutan berperilaku jahat seperti itu juga adanya.

Jadi idealnya memang gerakan kesadaran kebangkitan dan pemahaman spirituak di Indonesia harus dan patut dipelopori dan dimotori oleh BPIP. Adapun prioritas pertama menyasar aparatur negara dan pemerintah untuk mengerem sikap dan perilaku korup dengan segenap perilaku turunan lainnya yang sangat dominan merugikan rakyat banyak. Bila tidak, akan lebih bagus BPIP dibubarkan saja. Karena upah jutaan yang telah rutin harus dibayar dari duit rakyat itu, sungguh tidak rela dan tidak patut untuk diteruskan. Jacob Ersete

 

Banten, 8 Agustus 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *