Guru, Digugu dan Ditiru Ternyata Begini Nasib Guru Swasta

Suciyati

Bawen wartaindo Kota Bawen begitu dingin pagi ini. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Setelah berdoa, salim dengan anak dan suami, segera kucangklong tas kerja dan cepat-cepat mengenakan sepatu fantovel, bibirku buru- buru menyruput teh hangat manis yang tinggal sedikit di cangkir hingga tandas. Serta merta bergegas menuju jalan raya hendak mencari angkutan bus yang akan membawa tubuhku ke sekolah tempatku mengabdi. Oh iya, pepatah bilang tak kenal maka tak sayang. Perkenalkan, namaku Ira. Aku alumni dari FIKIP UKSW Salatiga jurusan Pendidikan Ekonomi. Tujuh belas tahun menjadi pendidik dengan status GTY (Guru Tetap Yayasan) di sekolah Kristen swasta kota Ngipik Pringsurat Temanggung, yang diampu oleh sebuah yayasan pendidikan di Semarang.

Di masa pandemi ini jumlah bus semakin langka didapat. Sebelum corona melanda, biasanya kalau normal hanya satu jam lamanya perjalanan bus sampai sekolah. Itu kalau gak macet. Namun jika kondisi jalan lagi pas macet bisa dua sampai tiga jam, bahkan bisa busnya putar balik pulang. Di tahun 2021 ini angkutan bus semakin sulit. Terkadang sampai oper empat kali untuk bisa sampai ke sekolah. Biasanya angkutan bus dari jam enam sampai tujuh pagi ada sekitar tiga bus, sekarang-sekarang ini satu bus aja belum tentu ada di jam-jam segitu.

Nah itu ada satu bus lewat, dari jauh terlihat. Senang sekali. Segera kulambaikan tanggan memberi kode untuk menumpang. Dan bus pun berhenti tepat di depanku dengan kalem. Wah, penumpangnya terlihat sedikit. “Sepi, Pak?” sapaku tersenyum pada pak sopir. “Biasa Bu Guru, efek pandemi,” jawab pak sopir yang hapal denganku karena beberapa kali kunaiki busnya.

Bagaimana sopir-sopir bus tak hafal sosokku, sejak tahun 2004 hingga sekarang aku naik bus mereka gonta-ganti. Transportasi yang menolongku melayani murid- murid ekonomi menengah ke bawah. Murid-murid yang kesulitan ekonomi, kesulitan bayar SPP. Murid-murid yang tetap bisa sekolah walaupun tak bisa bayar SPP.

Pernah ada pertanyaan yang dilontarkan padaku, “Mengapa ibu dapat bertahan mengajar di sekolah swasta sampai belasan tahun dengan gaji yang sedikit?” Dan kujawab pertanyaan tersebut, “Karena saya ikhlas, melayani dengan hati.” Bagaimana tidak, jika tidak ada rasa ikhlas pasti sudah lama sekali kutinggalkan. Dari honor pertama di tahun 2004 sebesar seratus limapuluh ribu rupiah sampai tahun 2021 sekarang ini tak ada satu juta, tetap kujalani. Pernah honornya naik lalu turun, nangis rasanya.

Tahun 2010 menikah, honor sekitar tiga ratus lima puluh ribu per bulan kala itu. “Aku harus bisa berkembang,” tekadku dalam hati. Tekad inilah yang membuatku menemukan peluang-peluang berkat. Ada tambahan penghasilan dari hasil memberi les privat dari anak SD dan SMA. Juga jualan baju dan lain-lain. Apa saja kujual, asal tidak menjual harga diri, asal halal. Dari makanan, minuman, perlengkapan rumah tangga. Hingga zaman online sekarang tetep jualan produk. Laris dan banyak pembeli. Mujizat khan. Juga ada berkat-berkat lain yang tak pernah kubayangkan, yang tak terduga, dan itu semua kuterima.

Aku bisa lolos UKG, PLPG, dan Sertifikasi tanpa halangan dan lancar sesuai waktu. Kupegang kata-kata “Siapa yang direndahkan dia akan ditinggikan”. Dan itu terjadi. Tuhan memberi kemudahan demi kemudahan karena ketabahan dan kesabaranku dalam menghadapi kesulitan menjadi pendidik, mendidik anak-anak yang Tuhan titipkan. Hingga sekarang aku bisa bertahan karena yakin ada rejeki lain yang Tuhan sediakan dari tempat lain.

Oh, aku terperanjat, ternyata bus telah berhenti di depan sekolahku. Kulangkahkan kaki untuk turun dari bus. Perlahan menuju gerbang sekolah. Siap menunaikan tugas dan tanggung jawab. Sekian dulu kisah dariku, semoga dapat menginspirasi pembaca bahwa dimanapun kita berada/ditempatkan, disitu ada penyertaan Tuhan yang memberi kemampuan menghadapi setiap persoalan/kesulitan.

Poto Cover Istimewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *