Ishaq Zubaedi Raqib Sabam Sirait Sangat Layak Mendapatkan Gelar Pahlawan Nasional

WARTA INDO-JAKARTA Dalam diskusi yang digelar Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia salah satu naras umber yang juga mantan wartawan Ishaq Zubaedi Raqib dari Nahdlatul Ualama mengatakan bahwa pengalaman menarik dikemukakan Ishag Zubaedi Raqib yang terus terang mengaku tidak hanya  banyak bersentuhan dengan Sabam Sirait tetapi juga mengagumi sosoknya.

Setelah 23 tahun menimba ilmu Pesantren, Mas Edi KR (akrab disapa) mengatakan jauh-jauh hari sudah mendengar nama Sabam Sirait. Namun baru tahun 1992, ketika menjadi wartawan, dirinya bisa melihat langsung interupsi  Sidang Umum MPR terkait Luber dan Jurdil.

“Saya berkenalan dekat dengan Pak Sabam dan kebetulan temanan dengan Putra Nababan, sejak 1992 makin dekat. Setiap ada acara Pak Sabam, Bang Lexy dan Megawati, saya selalu pertama mendengar.  Sosoknya selalu tampil  humoris. Jadi kalau saya  minta menilai, saya tidak punya kapasitas, Sabam Sirait  jauh melebihi kapasitas saya, saya pengangum beliu. Kalau diikhtiarkan Pahlawan Nasional jauh lebih layak. Ikhtiar Pak Sabam atas pembangunan nasional untuk keadilan dan kebenaran sudah tidak diragukan lagi,” tukas  wartawan Kedaulatan Rakyat Yogyakarta ini.

Menurutnya, Sabam Sirait sudah tidak terbantahkan kiprah dan sumbangsihnya kepada bangsa dan negara, tidak perlu didiskusikan. Ia lebih mengusulkan agar  lebih menapaktilasi jejak kiprah Sabam Sirait.

“Pak Sabam tidak perlu didiskusikan. Jejaknya jelas, dimana saja ada,  memiliki  ideologis, dinamis dan pluralis. Jarang ada  tokoh seperti  ini, dia hadir selalu datang membawa kebahagian. Orang-orang seperti ini pilihan Tuhan. Sekali lagi tidak banyak, salah satu guru kami, Gus Dur sosok lintas batas,” bebernya.

Ketua LKN infokom dan publikasi NU ini memberikan catatan penting peran seorang Sabam Sirait. Sabam Sirait saat mengemban Ketua Pansus lahirnya UU Anti Monopoli. Ketika, Sabam Sirait disepakati  memimpin Pansus Anti Monopoli perlu kapasitas untuk  melawan kepentingan kartel, terjadi perdebatan berjam-jam.

Satu lagi yang tidak kita lupakan, Kiprah Sabam Sirait saat dipercaya menjadi Ketua Pansus RUU Otonomi Khusus Papua. Faktanya, UU Otsus Papua sekarang masih landasan dan langkah-langkah pemerintah dalam membangun Papua.

Pada bagian akhir Edi membacakan catatan kecil terkait Sabam Sirait yang diberi judul; Serial menghayati nilai-nilai Sabam Sirait. Pak Sabam sesuatu yang pasti dan tidak perlu didiskusikan. Dia meninggalkan jejak di banyak tempat.

Kami menyebut wasilah atau perantara, Ia sesuatu yang suci. Dianugerahi Tuhan privilege untuk mencerminkan agamanya. Melampau juru penerang agama sendiri. Dia Manusia Lintas Agama sudah melampau batas, wujud standar tertinggi di kalangan agama dan sosial. Duta propotik Tuhan.

“Saya kira kehadirannya jejak lengkapnya bisa dijadikan kurikulum, dipelajarin. Kurikulum Sabam Sirait. Dari sosoknya terlihat nilai-nilai kekristenan yang universal. Kalau Tuhan berkehendak, derajad kepahlawan itu mudah disematkan kepada Sabam Sirait,” tegasnya.

Sekretaris Umum PGI, Jacky Manuputty yang tampil pemateri terakhir, menegaskan Sabam Sirait tokoh sangat fenomenal. Diakuinya percakapan tentang Pak Sabam tidak akan habis-habisnya. “Kami di PGI sudah membicarakan tokoh ini. Menarik, ia seolah sumur yang ditimba yang tidak habis-habis,” cetusnya.

Ada tiga poin yang bisa sampaikan terkait ketokohan Sabam Sirait. Pertama, Sabam Sirait memberi arah dalam pergulatan nasionalisme. Jelajah pemikirannya sangat luar biasa. Belajar dari TB Simatupang, Amir Syarufuddin, JJ Russo. Dia sosok ideologis, melintasi banyak batas selama 60 tahun berkiprah. Seorang politisi senior yang konsisten memperjuangkan demokrasi.

Kedua, sosoknya berhubungan secara lintas batas. Kemampuan komunikasi yang luar biasa. Tidak terbatas sekat agama dan etnis. Menembusi sekat-sekat perbedaan. Ini jadi catatan mahal karena  sekarang ada politisasi agama dan politik identitas, kadang mendorong kekristenan membangun pertahanan sendiri. Tanpa disadari itu justru menutup ruang. Titik temu sebagai seorang nasionalis, Sabam Sirait meletakkan dasar itu. Persahabatan lintas batas kelompok.

Berikutnya, ketiga, Ia tokoh yang memberikan arah kosmopolitan. Dia tokoh menjadi level mancanegara. Sangat mendukung Palestina, menolak berkunjung ke Israel. Juga, terang-terangan membela perjuangan Irak invansi Amerika.  “Sabam Sirait berpolitik dengan bersahaja, mengusahakan untuk kemaslahatan semua orang. Kami (PGI) sangat layak memperjuangkannya, kita membutuhkan kepahlawanan wajib diperjuangkan,” pungkasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *