Jacob Ereste : Sangha Theravada Rayakan Hari Raya Idul Fitri, Gema Trisuci Waisak dan Kenaikan Isa Almasih

JAKARTA-WARTA INDO Anjangsana Hari Raya dalam bulan penuh rachmat, Mei 2022, Wisma Sangha Theravada Indonesia menyelenggarakan Hari Raya Idul Fitri 1443 H, dan Gema Trisuci Waisak 2566 BE, serta menyambut Hari Kenaikan Isa Almasih 2022 bersama Romo Mudji Sutrisno, Rohaniawan Katholik, Lukman Hakim Saifudin, Menteri Agama 2014-2019, YM Bhikku Dammashubo Mahathera, Minggu 15 Mei 2022 di Pendopo Kendali Roso, Wisma Shangha Theravada Indonesia, Jl. Margasatwa No. 9, Pondok Labu, Jakarta Selaran.

Turut mengundang pada acara ini Direktor Bimas Buddha, Institut Nagarjuna, bersama tokoh masyarkat tokoh lintas agama. Lalu pesan moral pun disampaikan oleh Bhiku Dammasubho Mahathera.

Lukman Hakim Saifudin berkenan memberikan sambutan atas nama umat Islam di Indonesia. Acara perayaan hari besar tiga agama sejaligus yang dirayakan ini, Islam Hari Raya Idul Fitri, Gema Trisuci Waisak dan Kenaikan Isa Almasih merupakan upaya untuk merekatkan persaudaraan antar umat beragama di Indonesia.

Memayu hayuning bawono itu kata ganti yang tidak kalah bagus dari ucapan salam yang artinya selamat dan berbahagialah, kata Bikhu Dammasuubho Mahathera.

Hadir juga sejumlah Bhante dari berbagai daerah untuk ikut memperingati hari raya ini seraya mengekspresikan rasa syukur dan rasa damai secara bersama untuk bulan yang penuh berkah serta rachmat Tuhan ini.

Acara perayaan ini, kata Banthe Dammasubho Mahathera beranjak dari ide dan gagasan Eko Sriyanto Galgendu yang mengusulkan agar ada acara buka puasa bersama. “Tapi kerena sore hari saya tidak bisa makan, maka kita buat acara bersama hari ini” kata Banthe Dammasubho sebagai Bhiku yang punya tradisi makan sekali dalam sehari hanya pada pukul 11.00 sampai pukul 12.00. Setelah itu, dia tak makan sampai esok pada waktu yang sama, yaitu pada pukul 11.00 sampai pukul 12.00 siang saja.

Trisuci Waisak itu sendiri intinya menyegarkan kembali pesan-pesan Sang Buddha untuk umat. Secara keseluruhan, pesan itu meliputi untuk Bhiku, umat serta warga atau pesan bagi seluruh masyarakat.

Pesan-pesan purnama Waisak untuk mentaati larangan dan petunjuk Sidharta Guatama secara baik dan taat.

“Engkau adalah aku yang baik. Jika menggunakan bahasa Romo Muji Sutrisno” kata Banthe Dammasubho, dia mengatakan NU itu adalah Katholik yang baik. Seperti Katholik yang baik itu, adalah NU” kata Banthe dalam nada berkelakar.

Muji Sutrisno sendiri menambahkan, perayaan tiga hari besar keagamaan yang dirayakan saling bedekatan, semoga rartinya cermin dari rasa yang antara hati pemuluk agama di Indonesia yang beragam.

Dalam acara yang hikmat ini jadi semakin terasa sempurna serelah digenapi dengan aransemen musik “Sejadah Panjang” yang ditulis oleh penyair Taufik Ismail dan dinyanyikan oleh Bimbo. Begitulah imbuh ustad, jika spirit dakhwah dalam Islam itu tidak memukul, tapi nerangkul.

Darmono, tokoh dari masyarakat Pengkhayat Kepercayaan, juga berkisah tentang pedagang di Candi Borobudur yang memiliki spirit menjalankan syariat Islam. Karena untuk dari pandangannya sebagai Pengkhayat Kepercayaan, kisah pedagang di Candi Borobudur itu tujuannya sungguh mulia. Karena untuk menemukan kesempurnaan yang sejati, dia memilih pekerjaan dengan cara berdagang.

Hingga akhir acara dilakukan do’a bersama mewakili umat Kristen, Hundu serta penghayat kepercayaan yang diwakili Ketua Gerakan MorakRekonsiliasi Indonesia Eko Sriyanto Galgendu dan tokoh agama lainnya.

Pondok Labu, 15 Mei 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *