Kesatuan Hati Lewat Acara Indonesia Menyembah

Wartaindo.id, Jakarta- Masyarakat Indonesia saat tengah diperhadapkan suhu politik yang kian memanas jelang penyelenggaran pemilihan umum. Kondisi di luar negeri pun tak jauh berbeda sebagai imbas dari berkecamuknya perang diEropa yang melibatkan Ukraina dan Rusia, serta di Timur  Tengah yang memperhadapkan pihak Israel dan Hamas. Ribuan warga sipil menjadi korban.

Berbagai peristiwa politik yang rentan mengakibatkan perpecahan maupun isu kemanusiaan yang terjadi selama satu dekade terakhir seakan menjadi penanda bahwa saat ini dunia tengah memasuki masa-masa sulit, sekaligus menjadi penanda penggenapan pewahyuan di Alkitab.

Keadaan dilanda ketidakpastian itu yang kemudian menggerakkan Jaringan Doa Nasional (JDN), Full Gospel Business Man Fellowship International Indonesia (FGBMFI-Indonesia) dan PUISI menghelat doa selama 12 jam nonstop yang dikemas dalam acara Indonesia Menyembah (IM 12.12.12), yang berisi lantunan pujian dan doa penyembahan.

Kegiatan yang dilangsungkan di Jacob Nahuway Dome, kompleks GBI Mawar Saron, Kelapa Gading, Jakarta Utara, ini, dilangsungkan pada 12 Desember 2023. Seribuan peserta dari sejumlah wilayah di Indonesia menghadiri acara dengan tema “The Body of Christ”, itu. Selain dilaksanakan doa selama 12 jam di tanggal 12 Desember, acara ini juga memberitakan 12 pesan kenabian (profetik) yang ditujukan bagi bangsa-bangsa di Dunia.

Dimulai Sejak Dua Dekade Silam

Panitia penyelenggara IM 12.12.12, Doktor Antonius Natan,  ketika menghadiri acara Pertemuan dan Kesaksian sekaligus Pembubaran Panitia Indonesia Menyembah 12.12.12, yang bertempat di Angke Restaurant and Function Hall, Mall of Indonesia, Rabu petang (20/12), menjelaskan bagaimana kegerakan Indonesia Menyembah telah dimulai sehak tahun 2003 silam. Antonius mengatakan kegerakan doa dari tahun 2003 telah menjadi inisiasi bersama antara Jaringan Doa Nasional dan Full Gospel. Kemudian kegerakan itu berlanjut hingga ke tahun 2014, di mana Indonesia diproyeksikan menjadi sebuah negara berjuluk “Indonesia Baru”.

“Dan saya melihat empat belas-empat belas (momen di tanggal 14 di tahun 2014-red) itu kita menggaungkan apa yang dinamakan ‘Indonesia Baru’. Apa itu Indonesia Baru? Ternyata apa yang dinamakan Indonesia Baru adalah apa yang kita alami sekarang ini, yakni munculnya Jokowi (Presiden Joko Widodo-red) dari desa yang kemudian mengubah wajah Indonesia menjadi wajag negara modern dengan ekonomi yang luar biasa maju, dan akan mendorong Indonesia menjadi sebuah negara di posisi ke-5 dalam pasar ekonomi dunia,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai bankir dan dosen etika di STT LETS, itu.

Menurut Antonius, melalui acara 12.12.12 pesan yang diusung telah berkembang dari yang sebelumnya berbunyi “Indonesia Baru” menjadi “Indonesia menyembah”. Antonius lalu menambahkan, kalimat “Indonesia Menyembah” ingin mengingatkan kembali setiap orang Kristen bahwa hakikat seorang hamba Tuhan adalah harus mencari ‘Wajah Tuhan” serta membangun “Mezbah” bagi Tuhan.

“Dan saya merasakan selama acara, persiapan, dan sebagainya, Tuhan sungguh-sungguh berkenan dengan acara ini. Karena apa? Karena semuanya itu bagaikan sebuah gayung yang bersambut, di mana teman-teman dari berbagai gereja dan berbagai pergerakan merasa ‘Ya’ inilah waktunya kita untuk memanjatkan doa Bersama,” imbuhnya.

Salah satu inti acara dari IM 12.12.12 adalah disiarkannya dua belas deklarasi berisi pesan profetik. Dua belas deklarasi itu, kembali Antonius melanjutkan, menjadi penanda bahwa IM 12.12.12 bukanlah sekedar kegiatan tetapi lebih kepada sebuah kegerakan yang dinamakan “Mezbah Doa” atau yang dikenal sebagai “Holyness Movement”, layaknya peristiwa holyness movement yang terjadi 100 tahun silam.

Antonius lalu menekankan, kegiatan IM 12.12.12 yang sukses dilaksanakan minggu lalu mesti memiliki benang merah dengan masa depan bangsa. Hal itu dapat dicapai dengan cara mempersiapkan generasi penerus gereja yang akan menjadi bagian dari terwujudnya visi “Indonesia Menyembah”.

“Lalu yang menjadi pertanyaan, apa yang kita persiapkan di Mezbah Doa Indonesia Menyembah 12.12.12? Yakni kita harus mempersiapkan orang-orang, karena wajah Indonesia akan berubah total. Dengan kemudian kita (gereja-red) dibutuhkan untuk menjaga Indonesia, dan untuk menjaga Indonesia maka dibutuhkan orang-orang kudus seperti yang tadi kita sebut dengan holyness movement itu,” pungkas Antonius.

Sementara itu fasilitator JDN yang juga menjabat sebagai Sekretaris Sinode Gereja Kasih Bersinar, Pendeta Tony Mulia, menuturkan bahwa dirinya turut merasakan bagaimana Tuhan ikut bekerja di dalam setiap detik penyelenggaraan IM 12.12.12.

Dalam kesaksiannya Tony mengisahkan bagaimana dirinya terlarut dalam pujian dan penyembahan sedari pagi hingga siang hari pada saat IM 12.12.12 diselenggarakan. Saking menyelami setiap pujian yang dinaikkan tak terasa air mata berulangkali mengalir deras dari sudut mata. Pendeta Tony pun sempat mengalami masalah di kerongkongannya yang menyebabkan suaranya hilang. Pendeta Tony Mulia kemudian menambahkan umumnya, ketika seseorang mengalami masalah kesehatan seperti itu, waktu pemulihan membutuhkan tiga hari.

“Puji Tuhan, ketika saya melakukan penyembahan kembali on the track-nya, pada sore harinya suara saya mulai keluar kembali. Saya percaya, kalua bukan karena kehendak Tuhan maka tidak akan mungkin saya bisa finalisasi acara,”  ungkapnya sembari memanjatkan puji syukur kepada Tuhan.

Bercermin dari penyelenggaraan IM 12.12.12, Tony kemudian berpesan, harus menjadi sebuah momen kegerakan dan kebersamaan antar gereja dan umat Tuhan. Lebih dalam Tony mengurai, Indonesia menyembah ke depannya tidak berhenti hanya menjadi sebuah slogan belaka, namun harus menjadi sebuah gerakan yang membawa setiap jiwa untuk bertekuk lutut dan mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *