Pemberitaan Media Membutuhkan Keseimbangan

Jakarta wartaindo.com Banyaknya masyarakat Indonesia yang jumlahnya kurang lebih 273, sekian juta tentu potensi tersendiri untuk lahan membuka usaha, termasuk salah satunya bagaimana untuk membuka usaha media. NamunĀ  dengan era kemajuan tehnologi digital atau internet, ini mendorong tumbuh suburnya media online yang juga bisa dikatakan ladang usaha baru.

Tak tanggung-tanggung jumlah media siber di seluruh Indonesia menurut Dewan Pers mencapai 47 ribu, mungkin saat ini bisa lebih. Dari total itu baru 2.700 yang sudah terverifikasi. Selain secara aturan baru sekitar 2.700, namun melalui tulisan ini bukan hendak menyorot tentang keberadaan media, apakah sudah terverifikasi ataupun belum.

Namun sebagai penggiat atau pelaku media, lebih melihat pada konten pemberitaan media-media sekarang, penulis agak sulit mencari berita yang benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat. Kalaupun ada mungkin prosentasinya kecil, persoalannya apakah ini lantaraan media sudah terverifikasi atau belum, bukan itu alasannya.

Padahal jika merujuk pada salah satu fungsi dari media sebagai sumber informasi dan pengetahuan. Sayangnya kondisi mediapun belakangan ini, ketika membaca sebuah beritanya, sedikit yang beritanya memberikan informasi yang sahih sebagai komsumsi publik.

Membingungkan seperti pelaksanaan Formula E yang dilaksanakan Propvinsi DKI Jakarta ketika itu, ada media yang memberitakan keberhasilan dengan segala ulasannya, namun ada berita yang menjelekkan. Seharusnya, sekalipun ada kebebasan tetapi harusnya ulasan berita tersebut tetap harus ada keseimbangan.

Jika ditelisik mengapa arah media khususnya online seperti itu, sangat mungkin lantaran media online cenderung cepat-cepatan menaikan berita. Ada kesan siapa yang naik pertama kali pemberitaannya akan mendapatkan viewer atau pembaca yang banyak, sehingga kebenaran suatu berita itu belum diperoleh secara tuntas tetapi sudah diberitakan.

Kemudian faktor kepemilikan media yang ada kecenderungan beritanya hanya untuk memenuhi kepentingan pemodal, artinya media hanya digunakan untuk kepentingannya sendiri, maka kalaupun mewawancarai nara sumber tentu diarahkan sesuai kepentingan.

Semisal kalau ada kasus hukum bagi tersangka akan mencari narasumber yang bisa meringankan bahkan membebaskan. Namun bagi lawan akan menghadirkan yang mendukung.

Belum juga dipengaruhi perilaku narasumber yang mau saja diarahkan, bukannya berangkat dari kemampuan akademisinya dan idealisnya. Tetapi prinsipnya siapa yang bayar disuruh bicara pesananpun tidak masalah. Atau sekedar numpang ngetop sebagai narasumber yang dipajang di media.

Kemudian masih terkait dengan kepentingan pemodal, ada sebuah media yang terang berani beda dalam penyajiannya, sekalipun melawan fakta yang ada. Biar nampak berbeda media itupun menghadirkan para nara sumber yang bisa diarahkan seperti ulasan di atas.

Belum lagi peran media sebagai pendukung si A atau si B, maka jangan berharap ketika ada media yang mendukung si A, akan pernah mengkritisi perilaku atau kebijakan si A sekalipun salah, malah yang terjadi isi beritanya memuja dan memuji. Tetapi kalau tidak mendukung sekalipun si tokoh atau pimpinan itu bagus akan tetap saja diberitakan celah jeleknya.

Belum lagi wartawan yang memang cari mudahnya saja, tinggal tunggu rilisan atau pesanan dari seseorang langsung naikan. Banyak sekarang media-media yang terindikasi melakukan seperti itu. Pesan berapa media lalu beritanyapun sama termasuk titik koma.

Tentu ini menjadi pekerjaan yang terus harus diperbaiki termasuk teman-teman yang ada di wadah Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia.

Sudah sepatutnya menyajikan berita yang berimbang baik konten berita maupun faktor lainnya.

Beralih ke Media sosial.

Keberadaan media online yang katakan media mainstream ironis menciptakan peran khalayak dalam ruang media tidak mudah diharapkan, karena media ini ditentukan oleh kepentingan ekonomi, politik dari pemilik media yang bersangkutan.

Maka menurut Mc Quail tentang democratic participant yang tersumbat dalam media mainstream. Lalu muncul dan mendapatkan kepercayaan masyarakat salah satu kritik media baru yaitu praktik citizen journalism yang dilakukan dalam weblog seperti media media yang dikembangkan perorangan contoh kompasiana.

Tentu menjadi tugas berat bagi pelaku media ke depan, bagaimana mengembalikan fungsi media sebagai media informasi, kontrol sosial, pendidikan atau edukasi, hiburan dan lembaga ekonomi ini bisa diseimbangkan dan terpenuhi. Tak mudah memang tetapi bukan berarti tidak bisa.

Kembali kepada peran media online yang di era ini sangat masiv dan banyak diterima masyarakat luas, karena ada kelebihan media online: antaranya informasi bisa didapatkan siapa saja, bukan hanya tersedia untuk kalangan elit.

Orang bisa bertemu dengan orang lain yang punya kegemaran serupa. Bisa lebih global dan berkomunikasi dengan orang dari negara mana saja.Opini kaum minoritas bisa jauh lebih didengar daripada dulu. Berita bisa didapatkan dengan instan dan cepat. Produser dan tim berita bisa mendapat feedback dengan cepat pula.

Namun selain memiliki kelebihan tentu juga ada beberapa kekurangan media online antaranya, Kalau sampai ada berita yang keliru, bisa tersebar dengan cepat dan akhirnya dipercaya banyak orang.

Konsumen bisa semakin idealis karena mereka bebas menonton apa yang mereka suka dan percaya saja.Terjadi kompetisi yang kuat antar media, sehingga terkadang konten yang dihadirkan pada konsumen hanya untuk mengumbar sensasi saja. Dan anak-anak bisa dengan mudah terpapar pada informasi yang seharusnya tidak pantas menjadi konsumsi mereka.

Dengan fungsi media yang mulia ini tentu sudah menjadi tugas bersama para pemilik media, wartawan dan juga penggiat media, bersama-bersama agar peran media ini kembali kepada fungsinya. Dengan peran media sebagai media kontrolnya akan mampu mengawal arah demokrasi dan percepatan kemajuan bangsa. Menjadi sebuah media yang mendidik dan tidak menyajikan berita yang provokatif sehingga bisa berdampak pembelahan sesama anak bangsa.

Oleh: Yusuf Mujiono
Pemimpin Majalah GAHARU dan Ketua Umum Pewarna Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *