Mengenang Ajaran Bhikku Girirakkhito Mahatera Melalui Lagu

WartaIndo.Id, Jakarta- Seni memiliki hubungan linear dengan spiritualitas manusia. Tak hanya berperan sebagai sarana dalam berekspresi, seni juga mampu diwujudkan sebagai sebuah wadah perjuangan bangsa sekaligus kecintaan kepada Sang Maha Pencipta.

Teladan itulah yang ditunjukkan oleh YM. Bhante Girirakkhito Mahatera, sosok Bhikku nasionalis yang perjalanan hidupnya menjadi teladan bagi umat Buddha di Indonesia.

Sebagai wujud kecintaan terhadap sosok teladan Bhikkhu Girirakkhito yang wafat pada 5 Januari, 26 tahun silam, Sangha Theravada Indonesia bekerja sama dengan Ditjen Bimas Buddha Kemenag RI, Brahma Vihara Arama, KMBUI, KMBT Gunadarma, PMBUP, Cetiya Dhammajala dan BEM Nalanda pada Minggu (29/1), menggelar Konser Musik Buddhis bertajuk “A Tribute To Bhikkhu Girirakkhito Mahatera”, yang digelar di Wisma Sangha Theravada Indonesia, Jakarta Selatan.

Secara khusus, konser tersebut ditujukan untuk mengenang kembali nilai spiritualitas dari Bhikkhu Girirakkhito yang beliau abadikan ke melalui delapan karya lagu rohani Buddhis.

Petikan gitar Antono HT dan lantunan merdu suara Vivi Tjandra membuka Konser Buddhis yang dipadati oleh umat Buddha dari sejumlah wilayah di Jabodetabek, sore itu.

Keduanya membawakan lagu karya Bhikkhu Girirakkhito berjudul “Triratna”.

Lagu Triratna sendiri bercerita tentang kepasrahan umat manusia yang memohon perlindungan kepada Sang Maha Pencipta.

“Aku berlindung pada Buddha Maha Mulia, Guru Maha Gung Dewa serta manusia Yang selalu memancarkan gaya Metta Karuna. Pada-Nya aku berlindung untuk s’lama-lamanya,” bunyi petikan bait dari lagu Triatna.

Selanjutnya, sejumlah karya Bhikkhu Girirakhito yang berjudul Anicca, Dukkha, Anatta, Sakkhaya Ditthi, Ovada Patimokkha, Terimalah Karmamu dan Jangan Iri Hati, dibawakan oleh para musisi Buddhis Tanah Air.

Selain Antono HT dan Vivi Tjandra, konser ini turut diisi oleh penampilan Juara I Bintang Radio dan Televisi Keroncong Tingkat Nasional, tahun 1986, 1989 dan 1991, Omat.

Bersama ketiganya, turut pula tampil sederet musisi Buddhis lainnya, seperti Ramah Lin (String), Natasya Claresta Viano (Biola), Grant Juan Viano (Saxophone), Hartono Rusli (Erhu), Henrico (Biola) serta Choir Harmoni Dhamma.

Sekilas Tentang Bhikkhu Girirakkhito Mahatera

Bhikkhu Girirakkhito Mahatera dilahirkan di Buleleng, Bali, pada 12 Januari 1927, dari pasangan I Made Putra dan Ida Ayu Ketut Tilem yang berasal dari keluarga Brahmana.

Sebelum ditahbiskan, Bhikkhu Girirakkhito memiliki nama kecil Ida Bagus Giri.

Dalam kesehariannya, Ida Bagus Giri dikenal sebagai sosok yang menggunakan hidupnya untuk hal yang besar, seorang nasionalis, yang juga memiliki ketertarikan kepada dunia sastra dan spiritual.

Pada tahun 1946, dirinya mendirikan grup seni musik, sandiwara dan drama, serta menjadi murid di sebuah pondokan yang dipimpin oleh pamannya di Banjar.

Demi mencukupi kebutuhan hidupnya, Ida Bagus Giri menjalani hidup sebagai seorang pedagang diikuti dengan kehausannya akan spiritual.

Dirinya kemudian melakukan pelatihan meditasi pandangan terang (Vipassana), yang dilaksanakan di daerah Sungai Kasap, Watugong, dengan bimbingan Bhikkhu Ashin.

Perjalanan spiritual itu kemudian membawa Ida Bagus Giri hidup sebagai pandita agama Buddha selama 1tahun (1960-1961) dan 5 tahun samanera (1961-1966).

Beliau kemudian ditahbiskan di Srilanka pada tahun 1966 dan memasuki kehidupan selibat dengan nama Girirakkhito, yang berarti “Penjaga Gunung”.

Bhante Girirakkhito Mahatera diberi gelar “Yang Mahir di dalam Membawakan Dhamma yang Sejati”, atau “Saddhama Kovida Vicitta Bhanaka”, oleh Sangha Ramanna Nikaya, Srilanka. Juga memiliki gelar “Seseorang Yang Mulia, Yang Membuat Sasana, atau “Sasana Pasadeka Siri”, yang diberikan oleh Sangha Theravada Indonesia.

Bhikkhu Girirakkhito Mahatera tutup usia pada 5 Januari 1997, di usia 70 tahun kurang 7 hari. Almarhum lalu dikremasi tepat di hari ulang tahunnnya ke-70.

“Sepanjang beliau berkarya sebagai seorang Sramana, sudah banyak lagu Buddhis yang diciptakan. Meskipun beliau telah wafat 26 tahun lalu, karya-karya beliau masih tetap hidup bagi umat Buddha yang berjuang melatih diri,” tutup pernyataan dari Samaggi Phala, dalam rilis yang dibagikan kepada awak media.

RP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *