Nitip Perjuangan Apa Bisa?

Wartaindo Jakarta Ada ungkapan “perjuangan tidak bisa dititipkan” mengandung makna mendalam tentang kemandirian, tanggung jawab, dan kepemilikan atas mimpi atau tujuan hidup.

 Karena perjuangannya itu merupakan kemandirian dan kebanggaan diri atau mimpi besar dan perjuangan hidup sebaiknya tidak dibebankan atau “dititipkan” ke pundak orang lain. Karena ketika perjuangan itu berhasil sudah dipastikan ada rasa bangga dan kepuasan tersendiri ketika seseorang berhasil mewujudkan impiannya melalui hasil usaha sendiri.

Berangkat dari apa arti perjuangan yang dititipkan inilah sebaiknya kita mulai menyadari dan belajar apakah selama ini perjuangan kita itu sudah kita lakukan sendiri atau kita titipkan kepada orang atau lembaga lainnya. Saat ini sebagai umat Kristen diperhadapkan dengan pertanyaan ini, apakah perjuangan untuk kepentingan umat itu sudah diwujudkan sendiri atau hanya sekedar nitip ? Lalu seperti apa sebetulnya perjuangan umat Kristen itu.

Indonesia sudah berusia 80 tahun lihatlah apakah yang terjadi negara ini semakin sejahtera dan berkeadilan dengan menegakkan kebenaran. Perintah Tuhan jelas perjuangan keadilan umat Kristen berakar pada ajaran Alkitab yang menekankan kasih, solidaritas dengan kaum tertindas, dan tindakan nyata melawan ketidakadilan sosial.

Keadilan alkitabiah tidak hanya menuntut perilaku benar secara moral, tetapi juga pembelaan aktif terhadap janda, yatim, orang miskin, dan mereka yang terpinggirkan, sebagaimana diteladani Yesus Kristus. Selaras dengan firman Tuhan ini juga tertera di UUD 45 Pasal 34 ayat 1 bahwa fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara negara. Lalu apakah sudah terwujud?

Kembali kepada ketidakadilan terjadi saat ini terjadi gab atau jurang yang lebar antara si kaya dan miskin dari data BPS per Maret 2025 menunjukkan jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 23,85 juta orang (8,47%),  dengan gini ratio nasional berada di angka 0,363 per awal 2026, yang menandakan ketimpangan masih terjadi. Artinya perjuangan mencapai keadilan masih Panjang.

Bagaimana tidak perjuangan untuk keadilan dan pemerataan saja masih jauh dari harapan. Ini belum bicara kepentingan umat Kristen sendiri yang merupakan warga negara dengan jumlah penduduk di republic ini. Sekalipun sebagai umat Kristen sudah berupaya berjuang dengan cara membuka pelayanan bidang pendidikan, pelayanan kesehatan dan pelayaan sosial. Namun ada yang lupa bahwa ada satu lagi pelayanan yang di dalamnya turut menentukan jalannya negeri ini yakni pelayanan bidang politik lewat partai politik.

Perlu diketahui selama ini banyak tokoh secara sadar justru menjauh pelayanan bidang politik ini, kalaupun ada hanya mengarahkan jemaat atau umatnya dititipkan pada partai politik yang dibilang nasionalis.

Maka, jangan pernah berharap kalau mereka itu tidak akan focus berjuang untuk kepentingan kekristenan. Jangankan kepentingan umat Kristen sedang yang sifatnya umum saja masih jauh dari harapan.

Untuk itu seperti ungkapan di atas yang mengatakan bahwa sebuah perjuangan tidak bisa dititipkan sudah sepatutnya bagi umat Kristen mulai menyadari pentingnya membangun pelayanan politik melalui partai politik Kristen. Karena melalui rumah politik inilah kita bisa merancang atau mendekorasi menurut kepentingan kita sendiri.

Tentu semua tahu bahwa sistem negara kita saat ini penentuan arah dan kebijakan seperti pembuatan undang-undang, anggaran serta pengawasan ada di pundak partai politik yang direpresentasikan melalui anggota dewan.

Pertanyaannya bagi umat Kristen apakah perjuangan kita hanya kita titipkan saja atau kita butuh rumah sendiri untuk berjuang sendiri. Jangankan titip orang atau Lembaga yang belum di kenal sedang titip kepada yang kita anggap sahabat karib bahkan saudara saja bisa melenceng bahkan bisa balik melawan yang menitipkan perjuangan tersebut. Renungkan dan tetaplah bijak.

 

Penulis Yusuf Mujiono

Pemimpin Umum Majalah GAHARU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *