Perempuan dan Anak Perempuan Tak Aman dari Kekerasan Seksual

Jakarta – wartaindo Seorang ibu berisial A mengadu ke Komnas Perempuan di Jakarta (31/1/2021) mencari keadilan untuk batitanya yang diduga mengalami perkosaan di atas kapal Feri dalam perjalanan dari Labuhan Bajo ke Konawe Selatan pada 16 Desember 2021 lalu.

“Ini beritanya, saya punya recording kesaksian ibunya tentang kasus ini, dan sudah dilaporkan Ibu langsung ke Komnas Perempuan, ada bukti sperma dikemaluan anak perempuannya, kelahiran tahun 2019, sudah dilapor ke Kepolisian bahkan sudah divisum malah tidak diproses. Ini bukti perempuan dan anak perempuan tak aman dari kekerasan sesksual,“ ujar Nukila Evanty.

Nukila Evanty (yang lahir di Bagansiapiapi, Riau, Indonesia) adalah seorang aktivis hak asasi perempuan Internasional, seorang feminis (orang yang memperjuangkan kesetaraan) selama lebih dari 15 tahun termasuk hak-hak kelompok marjinal, kelompok minoritas, dan kelompok rentan. Nukila mempunyai pengalaman yang mumpuni di lembaga internasional.Kiprahnya diawal pandemi COVID-19 adalah mendirikan Koalisi Masyarakat Sipil Lawan Corona atau KLC yang membantu masyarakat dalam pemenuhan hak-haknya, yang kurang dalam mendapatkan informasi atau yang mempunyai masalah-masalah hukum. Bersama dengan teman-teman yang sehati lainnya mendirikan ruang pengaduan untuk korban-korban sebagai imbas COVID-19. Banyak prestasi diantaranya ditahun 2020 mendapatkan penghargaan dari Australia sebagai finalis Advance Awards Australia, alumni terbaik yang melakukan prestasi secara global.

Disamping itu, Nukila mendirikan Women Working Group (WWG) yaitu lembaga advokasi untuk kesetaraan gender. Nukila juga Board of Directors dalam Asosiasi Hak hak Asasi Perempuan dalam Pembangunan (AWID) untuk periode 2018–2021. AWID merupakan lembaga perempuan internasional yang bertujuan untuk memperkuat perlindungan terhadap hak-hak perempuan. Mei 2021, menjadi Member Advisory Board di RMIT University’s Business and Human Rights Centre (BHRIGHT) di Melbourne Australia dan Penasehat pada Asia Centre di Bangkok, Thailand

Inilah pendapat Nukila mengenai peristiwa batita yang diduga korban kasus perkosaan : “Walau ada Kemajuan, perjuangan panjang untuk kesetaraan di Indonesia sangat meresahkan dan mulai mengkhawatirkan karena korban juga banyak anak-anak, khususnya anak perempuan, remaja putri dan perempuan dan telah terdokumentasi dan dilaporkan mengalami kekerasan seksual. Kasus-kasus kekerasan seksual selama ini banyak diadvokasi oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat perempuan) dan Lembaga Bantuan Hukum dan tergambar banyak jenis kasusnya di berbagai media cetak dan media online. Yang kita baca kekerasan seksual terjadi setiap hari.

Data dari salah satu Organisasi Intergovernmental seperti UNWomen atau WHO (World Health Organisation), baru-baru ini menunjukkan bahwa sepanjang hidup mereka, 1 dari 3 perempuan,dengan jumlah sekitar 736 juta, menjadi sasaran kekerasan fisik atau seksual oleh pasangan mereka atau kekerasan seksual dari non-pasangan – jumlah yang sebagian besar tetap tidak berubah selama dekade terakhir. Kekerasan yang baru kita baca dari salah satu media online di Indonesia dan telah dilaporkan tanggal 31 Januari 2022 ke Komnas Perempuan adalah kekerasan yang dilakukan terhadap anak perempuan kelahiran tahun 2019, masih usia bayi di bawah lima tahun di atas sebuah kapal ferry.”

“Menyayat hati kan?” lanjut Nukila, “si Ibu dari si anak telah melapor ke pihak polisi dan sudah visum tetapi menghadapi banyak kendala dan disebutkan si Ibu belum diproses cepat. Inilah yang selalu menggerakkan saya sebagai seorang aktivis perempuan dengan latar belakang bidang hukum, bahwa ada kasus-kasus kekerasan yang pelik tersebut di samping karena proses hukum mulai dari pencegahan, identifikasi korban dan pelaku, proses penyelidikan, penyidikan, peradilan apalagi jika korbannya adalah anak dan perempuan yang harus mendapat perhatian khusus terutama jika kasus kekerasan seksual dialami perempuan dan anak-anak dan bagaimana nasib atau masa depan mereka kemudian?” tegas Nukila, “dan memang kekerasan terhadap perempuan adalah endemik di setiap negara dan budaya, menyebabkan kerugian tak berpihak pada perempuan dan keluarganya, dan pada situasi saat ini pastinya diperparah oleh pandemi COVID-19.

Harap diingat bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dihentikan dengan vaksin seperti layaknya virus. Kita hanya bisa melawannya dengan upaya yang mengakar dan berkelanjutan oleh pemerintah, masyarakat, dan individu untuk mengubah sikap yang merugikan, mengabaikan serta harus meningkatkan akses untuk layanan bagi perempuan dan anak perempuan, dan membina hubungan yang sehat dan saling menghormati di keluarga dan masyarakat terhadap perempuan,” sambungnya.

Selanjutnya beliau berujar bahwa inilah perjuangan feminis dan semua orang. “Selain itu, ada budaya patriarki, dan mengingat tingginya tingkat stigma dan pelaporan kekerasan seksual, yang menyebabkan kasus-kasus kekerasan seksual terus meningkat dan berkaitan dengan upaya untuk kesetaraan.Upaya regulasi dan menghukum pelaku kekerasan seksual wajib segera dilakukan seperti dengan adanya RUU TPKS (Tindak Pidana Kekerasan Seksual) tetapi perlu ada upaya yang paralel dilakukan seperti membuat tempat yang aman bagi perempuan, rumah yang aman bagi perempuan, tempat kerja yang aman, pendidikan tentang kekerasan seksual di kampus dan disekolah,” tambahnya.

“Saya dan teman-teman feminist lainnya telah banyak melakukan sesuai kapasitas masing-masing, tetapi perlu kekompakan dan konsistensi untuk melakukan pergerakan untuk kesetaraan ini, karena sudah begitu mengakarnya beberapa budaya yang patriarki (menganggap laki-laki adalah segala-galanya dan perempuan harus dibawah laki-laki), laki-laki pembenci perempuan atau mysoginy, relasi yang timpang antara perempuan dan laki-laki di masyarakat dan masih banyak yang menganggap feminist seperti kami ini adalah pembenci laki-laki dan hanya mendukung perempuan yang semuanya tidak benar, karena kita tidak mempunyai dan tidak ada tempat untuk ideologi kebencian dan kita harus bersama-sama laki-laki maju berjuang agar kesetaraan (equality) ini dapat tercapai,” tegasnya.

Inilah wawancara lewat WhatsApp dengan Nukila pada hari Rabu tanggal 2 Februari 2022. Seorang sosok yang sederhana dan rendah hati. Nukila juga adalah country director dari RIGHTS (Regional Initiatives for Governance, Human Rights, and Social Justice), lembaga regional yang menjadi wadah para pemimpin di kawasan Asia dalam menguatkan hak asasi manusia dan keadilan sosial. Nukila tercatat masih menjadi komisioner Permanen untuk Masalah Sosial dan Kewirausahaan Perempuan dalam lembaga World Union of Small and Medium Enterprises (WUSME) di San Marino, Italia.Alumni FH Undip (Universitas Diponegoro) 1993 dan ketua IKAFH Undip ini selalu ingin peduli dan bermanfaat untuk orang lain terutama untuk kesetaraan.

Nukila juga tidak hanya dikenal sebagai ahli bidang hak asasi manusia (HAM) terutama hak perempuan dan anak serta ahli bidang transnational crimes seperti perdagangan orang (human trafficking) tetapi kiprahnya banyak di bidang perubahan iklim (climate change), pemajuan budaya, penguatan masyarakat adat dan juga resolusi konflik sosial. Beliau bangga menjadi lulusan FH Undip dan juga alumni dari UNSW di Australia, alumni universitas Groningen di Belanda dan Universitas Lund serta Universitas Uppsala di Swedia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *