“Sesungguhnya Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”
Majalahgaharu Jakarta Rasanya ayat ini patut menjadi perenungan bagi umat Nasrani Indonesia terkait keberadaan di negeri ini. Jika saat ini kepentingan atau hak umat Kristen di Indonesia masih jauh dari harapan sebagai warga negara yang seharusnya SETARA dengan warga yang lainnya.
Namun, alih-alih setara tetapi pada tataran praktek di kehidupan bermasyarakat masih jauh dari kata SETARA tersebut.
Malah yang terjadi hak-hak orang Krsiten sebagai warga kedua dari jumlah penduduk masih sangat jomlang. Bukan saja masalah kebebasan berkeyakinan, tetapi anggaran dan undang-undangpun masih jauh dari kata SETARA.
Persoalannya kenapa terjadi, ini ada pandangan yang keliru, padahal ada bidang pelayanan yang sangat strategis. Karena melalui bidang pelayanan tersebut bisa turut menentukan jalannya negeri ini, baik dari sisi anggaran, kebijakan serta undang-undang.
Bidang pelayanan lewat partai politik ini seharusnya menjadi perhatian bersama. Tak dipungkiri banyak orang Nasrani atau Kristen yang sudah terjun di bidang pelayanan politik. Persoalannya partai politik di mana berlabuh visi misi sifatnya umum tak heran kalau kenyataannya arahnya selalu dikendalikan ketua umumnya. Belum lagi partai-partai yang konon nasionalis itu selalu berpihak kepada mereka yang dianggap penyumbang suara terbanyak.
Tentu kita masih ingat apa yang disampaikan Bambang Pacul salah satu kader partai nasionalis dalam sebuah dialog mengatakan bahwa yang menentukan semuanya ketua umum. Sementara anggota dewan hanya di katakana seperti korea-korea.
Sementara peran partai politik adalah sebagai jembatan antara rakyat dan pemerintah melalui fungsi-fungsi utama seperti partisipasi politik, rekrutmen politik, pendidikan politik, artikulasi kepentingan, dan pengaturan konflik. Partai politik juga berperan dalam memengaruhi dan mengawasi kebijakan pemerintah serta menyalurkan aspirasi publik secara demokratis.
Mengingat begitu penting partai politik maka saatnya umat Nasrani menentukan jalannya sendiri dengan bersama dan bersepakat mendirikan partai politik Kristen. Visi, misinya yang jelas dengan mungusung nilai-nilai kekristenan, sehingga umat Kristen di republic ini mampu berperan dalam menetukan arah roda pemerintah ini, dengan mendasarkan nilai-nilai Kristus, kasih, kebenaran serta keadilan yang terus mengangkat kesetaraan sesama warga negara.
Lewat peran partai politik Kristen akan mampu memberi warna tersendiri di perpolitikan negeri ini. Apalagi kalau gereja benar-benar menyiapkan jemaat yang diutus masuk dalam wadah partai politik Kristen ini. Dipastikan dampaknya akan luar biasa berpengaruh terhadap bangsa ini. Termasuk menjaga agar Indonesia tetap berbhineka dan berwarna.
Penting, karena lewat partai politik Kristen umat Kristen bisa masuk ke dalam segala lini kehidupan berbangsa dan bernegara, baik birokrasi, pemerintahan dari kepala negara, gubernur dan bupati serta walikota dan juga pengusaha. Tidak rahasia lagi di negara ini semua posisi itu, penentunya partai politik.
Lihat saja posisi apa yang tidak atas rekomendasi partai politik, setingkat dirjen pun harus lewat partai politik.
Nah, kalau kesempatan itu lalu dibiarkan saja oleh umat Kristen apalagi dianggap tidak perlu partai politik Kristen lalu apa kontribusi untuk mewarnai bangsa ini. Jangan heran kalau keperpihakan kepada umat Kristen minim bahkan masih saja untuk membangun rumah ibadah saja dilarang bahkan yang ada dirusak. Lalu jangan heran kalau anggaran kekristenan masih terlalu kecil.
Semua itu terjadi kenapa, karena tidak ada partai Kristen yang dengan lugas berjuang secara terang benderan untuk kepentingan umat Kristen. Tentu tanpa menampikan orang-orang Kristen yang ada di beberapa partai. Namun, persoalannya kembali mereka ini dibatasi dengan ketua umumnya serta aturan di partai sendiri.
Mumpung masih ada kesempatan bangkit dan bergeraklah dengan segala potensi yang ada, untuk mewujudkan rumah politik Kristen, memperjuangkan Ke-SETARA-An di negeri tercinta.
Tetap ingat Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang kalau bukan kaumnya sendiri yang mengbahnya
Penulis Yusuf Mujiono
Ketua Umum Pewarna Indonesia
Tinggal di Jakarta