TATA KELOLA REMPAH DAN HERBAL UNTUK PEMERINTAHAN BARU

Oleh : Riskal Arief

Wartaindo.id Jakarta Adalah rempah. Awal dari sejarah dunia tentang perdagangan global, kolonialisme, dan imperialisme selama berabad-abad. Sejak zaman kuno, kepulauan Indonesia telah menjadi pusat penting dalam perdagangan rempah-rempah. Rempah-rempah juga menjadi daya tarik besar bagi bangsa Eropa sejak zaman penjelajahan laut pada abad ke-15 dan ke-16.

Kepulauan Nusantara, terutama Indonesia, menjadi tujuan utama para penjelajah Eropa karena kekayaan alamnya yang melimpah, terutama dalam hal rempah-rempah. Dari awalnya menjelajah untuk rempah, mereka akhirnya menjajah untuk rempah. Penjajah Eropa bersaing sengit untuk menguasai produksi dan perdagangan rempah-rempah, yang pada gilirannya mengubah politik, ekonomi, dan budaya Indonesia secara mendalam.

Adalah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), atau Perusahaan Hindia Timur Belanda, satu entitas perdagangan yang memainkan peran sentral dalam sejarah maritim global pada abad ke-17 dan ke-18. Melalui armada kapal dagang dan militernya, VOC menguasai rute perdagangan dan memonopoli komoditas rempah-rempah berharga.

Meskipun telah dibubarkan pada tahun 1799, VOC masih tercatat sebagai perusahaan multinasional terkaya hingga saat ini. Kekayaannya mencapai 78 juta gulden, atau setara dengan US$ 7,9 triliun dengan nilai saat ini. Jika dikonversi ke dalam rupiah (US$ =Rp 14.000), maka angkanya mencapai Rp 110,6 kuadriliun (katadata.co.id).

Adalah Indonesia. Negara kepulauan terbesar di dunia, yang memiliki kekayaan alam, budaya, dan keragaman yang memukau. Secara ekonomi, Indonesia merupakan kekuatan regional yang berkembang pesat, dengan potensi pasar yang besar dan sumber daya alam yang melimpah.

Namun, paradoks dengan apa yang dimiliki, negara ini justru berada di ujung limbo. Indonesia yang kaya raya tidak mampu menyediakan pendidikan yang murah bagi warganya. Indonesia yang kaya raya tidak mampu menyediakan fasilitas Kesehatan yang murah bagi warganya. Indonesia yang kaya raya menjadi subjek yang paradoks dengan mencatat angka kemiskinan nasional masih 9,36 persen.

Jika rempah bisa membuat VOC kaya raya tak terkira, maka sudah seharusnya rempah juga bisa membuat Indonesia saat ini menjadi negara yang kaya raya tak terkira. Sudah seharusnya tidak ada kemiskinan di Indonesia. Sudah seharusnya Indonesia memiliki SDM yang unggul dan berdaya saing global. Sudah seharusnya Indonesia menjadi negara super power dunia.

Untuk membuat Indonesia menjadi kaya raya tak terkira, negara harus memiliki kebijakan yang tepat dan terintegrasi. Kita harus ingat amanat konstitusi Pasal 33 bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Dalam konteks ini, maka pemerintahan Indonesia ke depan membutuhkan terobosan besar untuk bisa memakmurkan rakyatnya.

Nusantara Centre telah mengkaji masalah rempah dan herbal selama hampir satu dekade ini. Demi untuk memaksimalkan potensi rempah dan herbal, sehingga mampu menjadi satu sektor yang signifikan untuk pemasukan negara, maka diperlukan satu badan khusus yang menangani hal ini.

BADAN NASIONAL REMPAH DAN HERBAL INDONESIA (BANREHI)

INI adalah lembaga yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Lembaga ini bertugas membantu Presiden dan pemerintah dalam merumuskan arah kebijakan soal rempah-herbal, melaksanakan koordinasi, sinkronisasi dan pengendalian produk teknologi dan industri, pasar rempah dan herbal secara menyeluruh.

Badan ini dibentuk dengan maksud agar citra bangsa Indonesia sebagai bangsa rempah dan herbal tidak hanya menjadi mitos dan cerita masa lalu yang tidak memberikan manfaat bagi bangsa di masa sekarang ini. Badan ini bertindak sebagai “regulatory board” sekaligus “trading house” untuk rempah-rempah dunia.

Badan ini akan memiliki big data tentang potensi pasar, pusat-pusat industri, pusat-pusat produksi dan tenaga kerja, ekonometrika, produk turunan, kantong-kantong bisnis rempah-herbal, kafe dan toko-toko, pusat peradaban kuliner, riset serta pariwisata rempah-herbal yang eksotis, berpendidikan, dan utamanya menghasilkan devisa negara.

Badan akan memajukan industri rempah dan herbal agar menjadi salah satu sumber devisa negara dan sektor perluasan lapangan kerja dengan mengembangkan bisnis dan mempromosikan keunggulan rempah dan herbal Indonesia ke pasar internasional. Semoga semesta mendukung.(*)

Penulis adalah Pegiat Nusantara Centre

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *