Terowongan Silaturahmi Dari Masjid Istiqlal Menuju Katedral Jakarta Idealnya Menjadi Obyek Wisata Spiritual

Wartaindo.id Jakarta Simbolik dari terowongan yang telah dibangun dari Masjid Istiqlal menerobos ke Katedral di Jakarta menandai bahwa sesungguhnya pergesekan antar agama  apalagi benturan  sesungguhnya tidak ada. Sehingga rasa cemas yang tidak perlu muncul dari wilayah agama, tidak sampai menjadi penghambat dari upaya untuk lebih membangun kerukunan umat beragama yang lebih harmoni dan mendatangkan banyak manfaat.

Menurut Imam Besar Masjid Iatiqlal Jakarta, Prof. Nazarudin Umar MA, ide membangun terorongan dari Masjid Istiqlal menuju Katedral ini bermula saat rencana merenovasi Masjid Istiglal yang berkisar setengah abad usianya itu.

Pengakuan Nazarudin Umar saat tampil sebagai pembiacara pada acara Dialog Ramadhan yang diselenggarakan Komisi Antar Agama dan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Jakarta di Katedral Jakarta, 14 Maret 2024 menyatakan bahwa simbolik dari terowongan itu pun memiliki manfaat yang nyata untuk mengatasi masalah parkir kendaraan para pengunjunh yang cukup banyak memadati kawasan sekitarnya, sehingga bukan hanya pihak Masjid Istiqlal yang merasa terganggu, tetapi juga para pengujung Katedral.

Kecuali itu, dua lantai ruang parkir di bawah tanah halaman Masjid Istiqlal yang telah rampung dibangun dapat digunakan secara bersama oleh para tamu yang datang ke Katedral. Dan kisah Masjid Istialal yang dirancang dan dkerjakan oleh Ir. Silaban yang beragama non Muslim itu, telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan kerukunan hidup beragama di Indonesia.

Agaknya, atas dasar kerukunan umat beragama di Indonesia yang cukup harmoni ini, maka rencana Paus dari Patikan akan berlunjung secara khusus ke Indonesia. Jika tidak ada aral yang menghalang, ujar Nazarudin Umar rencana kedatangan Paus itu akan dilakukan pada bulan Agustus 2024, sekaligus meresmikan terowongan “Silarurahmi” itu, katanya sambil menandaskan bahwa nama terowongan yang ingin dia beri nama “Terowongan Silaturahmi” itu masih bersifat sementara, belum resmi dilakukan.

Tapi yang pasti, “Terowongan Silatirahmi” itu kelak idealnya dapat dijadikan obyek wisata spiritual yang dilengkapi dengan kepustakaan, koleksi beragam barang bernilai sejarah keagamaan, sehingga dapat memperluas cakrawala pandang serta pemahaman keagamaan yang lebih bersifat spiritual, religius dan holistik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *