Wartaindo.id Jakarta Sri Eko Sriyanto Galgendu tokoh spiritual nusantara, dalam pertemuan halal bihalal yang di gelar forum Indonesia Damai (FID) mengatakan bahwa kali ini masuk pertemuan ke 7, artinya ada harapan dengan satu tujuan. Dalam bahasa bumi yang menjadi kekhasan Eko ini, menegaskan bahwa yang punya umat itu pemimpin agama bukan pemimin politik.
Hematnya, Eko melihat bahwa yang terjadi pemimpin agama malah dipimpin pemimpin politik, padahal yang punya umat pemimpin agama. Istilahnya pemimpin agama itu komisarisnya di mana tugasnya mengarahkan sehingga jika ada pemimpin politik yang pernah berjanji, maka pemimpin agama berhak menagih janji tersebut.
Tokoh agama lanjut Eko dalam Halal bihalal yang di gelar di Katedral Sabtu 4/5/24 di Jakarta Pusat itu, pemimpin agama harus memberikan kerangka dan arah. Maka jelas moral dan etika itu menjadi tanggung jawab pemimpin agama bukan pemimpin politik.
Maka ketika saat ini terjadi puing-puing persoalan termasuk etika dan moral tokoh agama bertanggung jawab untuk menata kembali, agar kehidupan berbangsa dan bernegara lebih baik, tandas Eko.
Halal Bihalal sendiri berarti Halal halalan, lahir era presiden Soekarno yang meminta Kyai Wahab Abdulah bagaimana cara menyatukan perbedaan baik pendapat maupun ideologi. Maka, berangkat dari tradisi bangsa tentang semangat berkumpul, maka Kyai Wahab mengundang semua pihak bertemu di istana di tahun 1948 yang kemudian disebutlah dengan halal bihalal. Hal itu diungkapkan Kyai Marsudi Syuhud yang merupakan pencetus FID bersama Eko Galgendu.
“Halal bihalal ini hanya dikenal di Indonesia dan pertama dikenalkan pertama kali di istana presiden lalu berlanjut di gubernur dan instansi-instansi lain hingga berkembang sampai hari ini”, ucap Kyai yang ramah ini.
Dalam halal bihalal FID ada beberapa kesepakatan seperti FID menjadi kekuatan penyeimbang bagi pemerintahan baru Prabowo-Gibran. Seperti disampaikan Pdt. Gomar Gultom dari PGI, Budi Tanuwibowo dari Matakin, Kardinal Ignatius Suharyo dari Katolik.
Kemudian sorotan masalah korupsi yang segera perlu diatasi oleh pemimpin ke depan juga nyaring disuarakan baik dari Romo Suharyo, Wisnu Bawa Tenaya dan Engkus Ruswana dari kepercayaan.
Tampak hadir dalam halal bihalal tersebut diantaranya Sohibul hajat, Kardinal Ignatius Suharyo, Pemimpin Spiritual Nusantara Sri Eko Sriyanto Galgendu, Romo Antonius Suyadi, dari Komisi HAAK KAJ, Pendeta Gomar Gultom Ketua Umum PGI, Budi S. Tanuwibowo, Ketua Matakin, Engkus Ruswana Ketua MLKI, Wisnu Bawa Tenaya PH. PHDI, Drs.Piandi Ketua Permabudhi, Azisoko FPID.
Penulis Yus