Wartaindo.id Jakarta Kepada kawan-kawan insan pers di indonesia Farida Indriastuti jurnalis/foto jurnalis/video jurnalis yang bekerja untuk Deutsche Welle Asia, AdnKronos Italy Press Agency, Overseas Korean TV Network, Reader’s Digest, berharap bisa menyelamatkan Radio Max FM yang berbasis di Waingapu, Sumba Timur, NTT, seakan terperosok dalam lubang hitam nan gelap, kehilangan asa, tidak mampu bernafas pendek dan panjang sekaligus! P
Padahal Radio Max FM yang digawangi Sdr. Heinrich Dengi dengan sedikit kru redaksi (kadang digaji, kadang tidak) merupakan ujung tombak pers radio yang tetap bertahan untuk menyiarkan informasi ke seluruh pelosok Sumba; Dari Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Wilayah yang dikelilingi pegunungan, padang savana, lembah dan lautan, merupakan pulau terdepan NTT dan Indonesia. Radio Max FM mengudara di pelosok-pelosok desa yang sulit dijangkau sinyal 3G/4G, kadang akses perjalanan pun hanya bisa dengan kuda, kadang gelap gulita tanpa pelita / listrik, hiburan warga hanya siaran Radio Max FM yang menyiarkan program pertanian lahan kering, perubahan iklim, budaya lokal dan tradisi marapu, serta lainnya.
Ketika serangan jutaan belalang tahun lalu dan menghancurkan panen para petani, warga Sumba lebih bergantung pada informasi radio dibanding Dinas Pertanian Waingapu. Saat terjadi bencana kelaparan warga bergantung pada bantuan radio. Sebagai media pemberitaan audio, Radio Max FM juga lakukan advokasi kepada pendengar setianya. Sigap memberikan edukasi soal pola pertanian lahan kering berbasis organik, penggunaan pompa barsha yang ramah lingkungan untuk mengaliri lahan kering, berdayakan perempuan-perempuan kelompok rentan yang alami KDRT, berikan pengetahuan gizi keluarga dan lainnya.
Akankah ujung tombak pers di Sumba ini menemui ajalnya? Relakah satu-satunya radio ini mati tanpa daya. Segala bentuk perjuangan untuk memperpanjang nafas Radio Max FM telah dilakukan Sdr. Heinrich Dengi dkk. Namun Sumba terisolir jauh dari akses lembaga-lembaga donor, para pengiklan, lembaga-lembaga internasional dan lainnya. Jika tanpa Radio Max FM, bagaimana dengan mitigasi bencana, sebaran informasi bencana kelaparan, bencana kekeringan dllnya?
Akankah informasi tidak disebarluaskan? Saya menjadi saksi ketika dua bayi kembar Sinta dan Santi dari keluarga miskin di Sumba Timur yang kepalanya membesar dan mengidap hidrosefalus dan memerlukan operasi mayor dengan segera, Radio Max FM yang sangat sigap bertindak untuk menyelamatkan dua bayi itu. Bukan Pemerintah Daerah Sumba Timur, bukan DPRD Sumba Timur, bukan Dinas Kesehatan Sumba Timur !!!
Radio Max FM kini berada di tepi jurang, hidup tak mampu, mati pun segan! Karena menimbang, masyarakat sangat memerlukan siaran-siaran yang jernih, independen, faktual dan terverifikasi dengan benar. Hanya kerja jurnalisme yang bisa melakukan kaidah konfirmasi dengan benar. Saya mengajak kawan-kawan pers menyelamatkan nyawa media massa berbasis radio yang menjadi tumpuan warga Sumba, NTT ini.
Berapa pun nilai uangnya. Sumbangan kawan-kawan sangat berarti, agar kawan-kawan Radio Max FM tetap dapat melakukan siaran dan melakukan pendampingan ke masyarakat. Radio Max FM memiliki tanggung jawab moral kepada publik pendengarnya, maka itu segelintir kru redaksi menolak pasrah atau menutup radio di akhir bulan Mei 2024. Dengan rasa hormat dan kerelaan hati, jika kawan-kawan berkenan mendonasikan dana dapat melalui:
Rekening BNI Capem Waingapu, Sumba Timur, NTT, an. PT. Radio Suara Waingapu Sejahtera, No Rek BNI 0112180724.