Wartaindo Banjarnegara Dalam upaya memperkuat sinergi antara dunia usaha dan pengembangan komunitas kreatif, inisiator Badan Nasional Rempah dan Herbal Indonesia (BANREHI), Prof. Yudhie Haryono, melakukan kunjungan resmi ke Rumah Produksi Tumata Indonesia di Banjarnegara, Jawa Tengah pada hari Minggu, 19 April 2026 lalu.
Dalam kunjungan tersebut juga dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) kerjasama tiga pilar. Penandatanganan MOU tersebut dilakukan oleh Kristiono Hadi Pranoto, yang mewakili pihak Tumata, Prof. Yudhie Haryono mewakili Banrehi dan Heri Susanto, S. Farm mewakili PPJAI sebagai mitra kolaborasi.
Kesepakatan ini mencakup tiga bidang utama yang saling terintegrasi: investasi pengembangan Kafe Rempah, program pelatihan berkala, dan inisiatif menulis kolaboratif.
MOU INVESTASI KAFE REMPAH
Kafe Rempah, sebuah konsep usaha kuliner yang mengangkat kekayaan rempah Nusantara, mendapat injeksi investasi strategis melalui penandatanganan MOU ini. Investasi tersebut akan dialokasikan untuk pengembangan outlet baru, peningkatan kualitas bahan baku, serta penguatan branding yang memposisikan Kafe Rempah sebagai destinasi kuliner berkonsep rempah otentik.
Kristiono Hadi Pranoto menyampaikan, “investasi ini merupakan bentuk kepercayaan terhadap potensi Kafe Rempah dan masyarakat sekitar. Kita percaya bahwa kekayaan rempah Indonesia bukan hanya soal rasa, tetapi juga cerita, budaya, dan peluang ekonomi yang bisa dirasakan banyak pihak.”
PENGEMBANGAN KAPASITAS MELALUI PELATIHAN BERKALA
Pilar kedua dari MOU ini adalah komitmen untuk menyelenggarakan program pelatihan berkala bagi para pelaku usaha lokal dan komunitas kreatif di lingkungan Rumah Produksi Tumata Indonesia. Pelatihan ini mencakup aspek manajemen usaha, pemasaran digital, pengelolaan keuangan, serta pengembangan produk berbasis rempah lokal.
Program pelatihan dirancang secara konsisten, dengan jadwal tiga bulanan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan dinamika komunitas.
INISIATIF MENULIS KOLABORATIF
Pilar ketiga yang menjadi sorotan adalah program menulis kolaboratif. Inisiatif ini bertujuan untuk mendokumentasikan kekayaan cerita, resep, dan tradisi rempah yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Melalui pendekatan kolaboratif, para penulis, jurnalis, dan anggota komunitas akan diajak untuk bersama-sama menghasilkan karya tulis dan potkes yang mengangkat potensi lokal.
Program menulis kolaboratif ini akan menghasilkan sejumlah publikasi, mulai dari buku digital, artikel jurnal, hingga konten media sosial yang menyajikan narasi otentik tentang rempah Nusantara dan komunitas di sekitarnya.
Kunjungan ke Rumah Produksi Tumata Indonesia ini juga diwarnai dengan diskusi mendalam mengenai potensi pengembangan ekowisata berbasis rempah, peluang pemasaran produk lokal ke pasar yang lebih luas, serta strategi pemberdayaan komunitas yang berkelanjutan.
Pihak Tumata menyambut baik kerja sama ini sebagai langkah nyata dalam mewujudkan visi bersama: membangun ekosistem usaha yang inklusif, berdaya saing, dan berpihak pada kearifan lokal.(*)