Oleh : Firdaus Syamsu | Peneliti Senior Nusantara Centre
Wartaindo Jakarta Di tengah pikiran yang semrawut, kubaca serius buku Ekonomi-Politik Pancasila, terbitan KalamNusantara sore itu. Buku keren yang menjelaskan kalahnya ekonom strukturalis oleh para valaster di seputar istana.
Ini mengingatkanku pada lirik dan alunan lagu lirih yang mengalun pelan, “dan terjadi lagi… kisah lama yang terulang kembali…”. Kekalahan yang berulang-ulang.
Semua menarik kita dalam ingatan kelam puluhan tahun lalu, ketika krisis ekonomi 1998 menghantam bangsa ini dengan dahsyat.
Perasaan yang sama kembali hadir, pola yang muncul terasa begitu akrab. Ketika daya bayar rakyat hancur, nilai mata uang melemah, ketika berbagai narasi kegaduhan dan kepanikan berseliweran setiap menit melalui platform media media digital, ketika kepercayaan anak-anak bangsa diguncang isu-isu yang datang bertubi-tubi. Perlahan namun pasti, dunia maya dipenuhi kebingungan, kerapuhan, keterbelahan dan kegelapan.
Narasi tentang indonesia gelap, kegagalan demokrasi, krisis kepercayaan terhadap pemerintah, hingga isu hak asasi manusia yang sering kali kehilangan konteks dan arah, berseliweran tak menentu arah. Sebagian lahir dari kegelisahan nyata, sebagian lagi dibangun oleh kepentingan pihak tertentu. Namun yang paling berbahaya bukanlah narasi itu sendiri, melainkan ketika bangsa ini kehilangan kemampuan untuk membedakan mana kritik yang membangun dan mana operasi yang sengaja melemahkan kepercayaan kolektif.
Bangsa yang kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri adalah bangsa yang mudah dikendalikan.
Bentuk penundukan (penjajahan) tidak selalu datang melalui kapal perang atau moncong senjata. Penjajahan dapat hadir melalui ketergantungan ekonomi, dominasi teknologi, penguasaan sumber daya strategis, hingga pembentukan opini opini yang membuat suatu bangsa meragukan kemampuan dirinya sendiri. Ketika warga negara terus-menerus diyakinkan bahwa negaranya gagal, bahwa sistemnya rusak total, bahwa masa depannya suram, maka secara perlahan lahirlah mentalitas ketergantungan. Mentalitas yang selalu menunggu solusi dari luar, bukan membangunnya dari dalam.
Krisis bangsa hari ini bukan semata persoalan ekonomi atau politik. Akar masalahnya terletak pada melemahnya karakter kebangsaan yang dulu menjadi fondasi perjuangan kemerdekaan. Semangat berdikari yang pernah dikumandangkan para pendiri bangsa semakin tergeser oleh budaya ketergantungan.
Bangsa yang dahulu berani menentang kolonialisme kini sering kali lebih memilih menjadi pasar daripada menjadi produsen. Lebih bangga mengimpor daripada membangun industri nasional. Lebih percaya pada kekuatan modal luar dibanding kemampuan anak bangsanya sendiri.
Mentalitas seperti ini melahirkan paradoks yang menyakitkan. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi masih bergantung pada produk jadi dari luar negeri. Indonesia memiliki jutaan tenaga kerja produktif, tetapi banyak sektor strategis justru dikuasai kepentingan asing. Indonesia memiliki pasar yang besar, tetapi nilai tambah ekonominya dinikmati pihak lain.
Padahal semangat yang diwariskan para pendiri bangsa justru sebaliknya.
Pancasila lahir bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai cita-cita peradaban. Dalam pemikiran para pendiri bangsa, kemerdekaan politik hanyalah pintu masuk menuju kemerdekaan yang lebih besar: kemerdekaan ekonomi, kemerdekaan berpikir, dan kemerdekaan menentukan arah pembangunan bangsa tanpa tekanan kekuatan asing maupun oligarki domestik.
Pasca puluhan tahun reformasi, bangsa ini justru semakin jauh dari cita-cita kemandirian tersebut. Kekayaan alam melimpah, namun nilai tambahnya banyak dinikmati pihak lain. Pasar besar dimiliki, tetapi produk strategis masih bergantung pada impor. Bonus demografi tersedia, namun lapangan kerja berkualitas belum tumbuh secepat yang dibutuhkan. Kita merdeka secara formal, tetapi dalam banyak aspek masih bergantung secara struktural.
Ketergantungan inilah yang menjadikan bangsa ini rentan. Sedikit gejolak global, ekonomi terguncang. Sedikit tekanan pasar, nilai tukar bergejolak. Sedikit perubahan kebijakan negara-negara besar, arah pembangunan nasional ikut terdampak.
Pertanyaannya bukanlah apakah Indonesia sedang gelap atau terang. tetapi pertanyaan yang mendasar adalah: mengapa setelah puluhan tahun merdeka kita belum benar-benar berdiri di atas kaki sendiri?
Kemandirian bangsa tidak lahir dari slogan. lahir dari keberanian membangun sistem ekonomi nasional yang berpihak kepada kepentingan nasional. lahir dari keberanian mengelola sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran warga negara. lahir dari pendidikan yang membentuk karakter produktif, bukan sekadar pencari kerja. lahir dari kepemimpinan yang berani berpikir jauh melampaui siklus politik lima tahunan.
Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum kesadaran bahwa ancaman terbesar bangsa ini bukan semata-mata krisis ekonomi, bukan pula perbedaan pilihan politik. Ancaman terbesar adalah hilangnya keyakinan kolektif bahwa Indonesia mampu menjadi bangsa yang mandiri.
Jika warga negara terus disibukkan oleh pertengkaran yang tidak produktif, oleh polarisasi yang tak berujung, oleh narasi ketakutan yang diproduksi setiap hari, maka energi bangsa akan habis untuk saling mencurigai. Sementara di saat yang sama, tantangan sesungguhnya penguasaan teknologi, kedaulatan pangan, kemandirian energi, industrialisasi nasional, dan penguatan ekonomi rakyat tertinggal jauh di belakang.
Di tengah berbagai kegaduhan hari ini, pesan sederhana yang dahulu menjadi jiwa perjuangan para pendiri bangsa bahwa “kemerdekaan bukan tujuan akhir. Kemerdekaan hanyalah alat untuk mewujudkan kedaulatan dan kemandirian”.
Dan selama bangsa ini belum mampu berdiri tegak di atas kekuatan sendiri, selama itu pula kisah lama akan terus berulang kembali.
“Dan terjadi lagi… kisah lama yang terulang kembali…”
Sejarah tidak harus selalu menjadi lingkaran yang berputar di tempat yang sama. Sejarah bisa berubah arah ketika sebuah bangsa menemukan kembali keberanian untuk percaya pada dirinya sendiri, kembali kepada cita-cita besarnya, dan menjadikan Pancasila bukan sekadar hafalan, melainkan pedoman nyata menuju Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan bermartabat.
Karena hanya bangsa yang percaya pada dirinya sendiri yang mampu berdiri tegak di tengah badai zaman. Dan hanya bangsa yang berdikari yang mampu menjaga kemerdekaannya tetap hidup dari generasi ke generasi.
Selamat memperingati dan merealisasikan nilai pancasila. Saatnya kembali berdiri di atas kaki sendiri: merdeka, mandiri, berdaulat dan modern.(*)