Gereja Adalah Rahim yang Melahirkan POLITISI KRISTEN Pemberantas Korupsi

Wartaindo Jakarta Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan wajah telanjang dari keserakahan manusia. Ia adalah perampokan terang-terangan terhadap keadilan, pengkhianatan terhadap nurani, dan penodaan terhadap karakter ilahi. Korupsi bukan kelemahan birokrasi, tapi pemberontakan brutal terhadap Allah. Sebuah deklarasi bahwa uang lebih berkuasa daripada kebenaran. Setiap suap adalah darah rakyat yang ditukar dengan kenikmatan busuk. Setiap manipulasi adalah pisau yang menusuk tubuh bangsa. Korupsi adalah dosa yang menjelma jadi sistem, menggerogoti moral, menghancurkan harapan, dan menertawakan hukum. Ia bukan sekadar kejahatan administratif, melainkan penghinaan vulgar terhadap keadilan Tuhan. Korupsi adalah keserakahan yang dipuja, ketidakadilan yang dilegalkan, dan pemberontakan yang dipelihara. Dalam perspektif teologis, korupsi adalah pemberontakan langsung terhadap karakter Allah yang adil. Hukum Taurat dengan sangat tegas melarang praktik suap. Dalam Ulangan 16:19 (TB) tertulis, “Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar”

Suap membuat buta dan memanipulasi kebenaran. Ketika seorang pemimpin atau hakim menerima suap, ia tidak lagi melayani kepentingan umum atau kebenaran ilahi, melainkan melayani kepentingan si pemberi suap Ini adalah bentuk penyembahan berhala modern, di mana uang menggantikan posisi Allah sebagai penguasa tertinggi atas keputusan manusia.

Menghadapi realitas yang memprihatinkan ini, gereja tidak boleh berdiam diri. Gereja harus membuka diri dan mengambil peran proaktif dalam mempersiapkan jemaat untuk menjadi agen anti suap dan anti korupsi yang berintegritas dan takut akan Tuhan. Saatnya berdiri Partai yang lahir dari pewahyuan Ilahi harus tampil dengan visi kuat membela kebenaran dan keadilan. Gereja membuka diri dengan peranan politik. Pembaruan etika dalam gereja adalah prasyarat mutlak bagi transformasi moral. Gereja yang diam terhadap ketidakadilan sistemik sesungguhnya sedang mengkhianati panggilan profetiknya.

Langkah pertama yang harus dilakukan gereja adalah mengintegrasikan Pendidikan politik dan etika anti korupsi ke dalam kurikulum pembinaan jemaat. Gereja mendorong Jemaat untuk menjadi politisi berintegritas dan takut akan Tuhan. Pengajaran Alkitab tidak boleh hanya berhenti pada keselamatan personal, tetapi harus menyentuh ranah etika publik. Jemaat perlu dibekali pemahaman bahwa integritas di tempat kerja, baik di birokrasi, swasta, maupun sektor informal, adalah bentuk ibadah yang sejati. Etika Kristen, yang berakar pada kehidupan dan ajaran Yesus Kristus, menawarkan solusi praktis untuk memulihkan tatanan moral, seperti penatalayanan yang transparan dan kepemimpinan politik yang melayani.

Kedua, gereja perlu menciptakan ekosistem akuntabilitas yang kuat. Para profesional Kristen yang terjun di dunia birokrasi dan politik menghadapi godaan yang luar biasa besar. Mereka membutuhkan komunitas iman yang tidak hanya mendoakan, tetapi juga berani menegur ketika mereka mulai menyimpang dari jalan kebenaran. Jemaat yang ada dalam Partai Politik dan birokrasi harus menjadi garam dan terang.  Sistem akuntabilitas komunitas ini berfungsi sebagai pagar pelindung moral. Pemimpin gereja harus menjadi teladan pertama dalam hal transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan, sehingga gereja memiliki otoritas moral untuk berbicara tentang integritas kepada dunia.

Ketiga, gereja harus mendorong keterlibatan sipil berbasis iman. Ini berarti jemaat harus didorong untuk berani mendukung peranan partai politik yang berjuang untuk kebenaran dan keadilan. Integritas menuntut pengorbanan. Gereja harus berdiri bersama mereka yang berani bersikap jujur dan menanggung risiko demi mempertahankan kebenaran. Gereja menciptakan generasi takut akan Tuhan dan berani mengatakan tidak kepada korupsi.

Integritas tidak diwariskan, tetapi ditanamkan. Mari kita tanam benihnya hari ini agar bangsa ini panen kejujuran di masa depan. Gereja adalah rahim yang melahirkan POLITISI KRISTEN pemberantas Korupsi, yang mata batinnya tidak buta oleh suap, dan yang lidahnya tidak kelu untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan. Panggilan anti korupsi adalah panggilan untuk menghadirkan Kerajaan Allah di bumi.

Tulisan ini dalam rangka menyambut PARTAI SETARA yang didirikan oleh anak-anak muda yang cinta tanah air dan takut akan Tuhan, untuk menjalankan mandat Ilahi. harapannya kehadiran partai ini menjawab sebagian dari persoalan bangsa

 

Pro Ecclesia Et Patria

Antonius Natan | Dosen Sekolah Tinggi Teologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *