Wartaindo Jakarta Selatan Dalam semangat memperkuat persaudaraan, toleransi, dan kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman, GPIB Jemaat Gibeon Jakarta Selatan menyelenggarakan Dialog Lintas Iman Bulan GERMASA 2026 dengan tema “Menjaga Jakarta dan Merawat Kerukunan Sabtu 29 Agustus 2026
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Gereja GPIB Gibeon, Jalan Raya Pesanggrahan No. 1A, Kodam Bintaro, Jakarta Selatan, menjadi ruang perjumpaan dan dialog bagi para tokoh agama, pemuka masyarakat, pemerintah, serta berbagai unsur masyarakat untuk bersama-sama membangun komitmen menjaga kedamaian dan kerukunan di Jakarta.
Dialog Lintas Iman ini merupakan bagian dari rangkaian Bulan GERMASA (Gereja, Masyarakat, Agama-agama dan Lingkungan Hidup) Tahun 2026 yang diinisiasi oleh GPIB Jemaat Gibeon Jakarta Selatan. Kegiatan tersebut berangkat dari kesadaran bahwa Jakarta, sebagai miniatur Indonesia dengan keberagaman suku, budaya, agama, dan keyakinan, membutuhkan komitmen bersama untuk terus merawat harmoni kehidupan.
Acara menghadirkan sejumlah tokoh sebagai narasumber, yaitu Dr. Wilnan Fatahillah, S.H.I., M.H., M.M. dari DPP LDII; Ibu Js.Ruysya Supit, S.I.Kom., sebagai Wakil Sekretaris Dewan Rohaniwan MATAKIN Pusat dan Anggota FKUB Prov.DKI Jakarta; serta Pdt. Hosea Sudarna, S.Th., selaku Ketua Wadah Komunikasi dan Pelayanan Umat Beragama (WKPUB) Jakarta Timur dan Anggota FKUB Jakarta Timur.Dialog dipandu oleh Pdt. Manuel E. Raintung, Ketua Majelis Jemaat GPIB Gibeon Jakarta Selatan, yang sekaligus menjadi bagian dari penggerak utama terselenggaranya ruang perjumpaan lintas iman tersebut.
Dalam kegiatan ini juga hadir unsur pemerintah dan Forum Kerukunan Umat Beragama, dengan sambutan dari Camat Kecamatan Pesanggrahan, Ibu Poulinawati, S.Sos., M.Si., yang diwakili oleh Ibu Loli serta Wakil Ketua FKUB Jakarta Selatan, Pnt. Drs. Johnery Pandia.Panitia melalui Tim Kerja GERMASA GPIB Gibeon Jakarta Selatan menegaskan bahwa dialog lintas iman bukan sekadar forum diskusi, melainkan langkah nyata untuk memperkuat komunikasi, membangun saling pengertian, dan menumbuhkan kerja sama di antara berbagai elemen masyarakat.
Wilnan Fatahillah dari DPP LDII, menekankan bahwa kerukunan merupakan modal sosial yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan bangsa.“Kerukunan tidak boleh hanya menjadi slogan. Kerukunan harus diwujudkan dalam sikap saling menghormati, saling memahami, dan kesediaan untuk bekerja sama dalam menghadapi persoalan-persoalan bersama. Perbedaan iman dan keyakinan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun Indonesia dan menjaga Jakarta,” ujarnya.
Menurutnya, bangsa Indonesia memiliki kekayaan besar berupa keberagaman. Karena itu, seluruh elemen masyarakat perlu membangun budaya dialog dan kolaborasi agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik.
“Setiap umat beragama memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kedamaian. Kita harus memperkuat moderasi, menolak ekstremisme, serta mengembangkan kerja sama nyata dalam bidang sosial, kemanusiaan, lingkungan, pendidikan, dan pembangunan masyarakat,” tambahnya.
Ibu Lusi…..dalam dialog ini juga menkankan pentingnya membangun kolaborasi antar lembaga keumatan dalam menjaga stabilitas sosial, memperkuat toleransi, serta mendukung pembangunan Jakarta yang inklusif. “Kerukunan, menurut para peserta dialog, tidak terjadi secara otomatis. Kerukunan membutuhkan usaha sadar, komunikasi yang terbuka, kesediaan untuk saling mendengar, serta tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, ruang-ruang perjumpaan lintas iman harus terus diperkuat. Ujarnya
Selain dialog antar tokoh agama, kolaborasi juga perlu diwujudkan melalui semangat gotong royong tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, dan latar belakang. Kerja sama dalam menghadapi persoalan sosial, menjaga lingkungan, membantu masyarakat yang membutuhkan, serta menghadapi berbagai tantangan kemanusiaan menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai agama dapat menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan bersama.
Smentara itu Pdt. Hosea juga memberikan perhatian penting kepada generasi muda. Mereka diharapkan menjadi pelopor perdamaian, penggerak toleransi, dan agen moderasi yang mampu membangun masa depan Indonesia yang damai dan inklusif. “Melalui Dialog Lintas Iman ini, GPIB Gibeon Jakarta Selatan bersama para tokoh agama dan masyarakat berharap lahir komitmen bersama untuk terus merawat kerukunan, memperkuat toleransi, membuka ruang dialog, dan membangun kolaborasi lintas iman,” tambahnya
Pemandu acara, Pdt. Manuel, menggarisbawahi bahwa pesan utama yang mengemuka dalam kegiatan ini adalah bahwa menjaga Jakarta bukan hanya tugas pemerintah atau kelompok tertentu. Menjaga Jakarta adalah tanggung jawab seluruh warga. Kedamaian kota hanya dapat terwujud apabila seluruh elemen masyarakat mampu hidup berdampingan, menghormati perbedaan, serta bergandengan tangan membangun kehidupan bersama.
Sebagai puncak dalam acara ini, Ibu Loly mewakili Camat Pesanggrahan, menegaskan Kolaborasi lintas iman dinilai dapat menjadi kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan bersama, mulai dari masalah sosial, lingkungan, kemiskinan, hingga potensi konflik di tengah masyarakat. “Kerukunan, menurut para peserta dialog, tidak tercipta dengan sendirinya. Diperlukan usaha yang sadar dan berkelanjutan untuk membangun komunikasi serta memperkuat kepercayaan di antara kelompok masyarakat yang berbeda,”tambahnya.