Warta Indo.co.id Jakarta Setelah penyelenggaraan Hari Doa Nasional pertama kali di tahun 2022 digelar di Papua, kali ini Papua kembali dipercaya sebagai tuan rumah Hari Doa Nasional tahun 2025. Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI) yang merupakan wadah rembuk bersama seluruh ARAS Gereja Utama ingin agar penyelenggaraan Hari Doa Nasional ini digelar juga Konvensi Internasional bagu hamba-hamba Tuhan. Selain menghadirkan pembicara dari dalam negeri, konvensi ini nantinya juga menghadirkan pembicara hamba-hamba Tuhan dari berbagai negara.
Hari Doa Nasional kali ini mengusung tema ‘Api Injil Terus Menyala Dari Papua Untuk Bangsa-Bangsa’ ini direncanakan berlangsung pada tanggal 5 Juli akan digelar secara serentak di semua propinsi, kota hingga kabupaten. Sedangkan konvensi internasional diagendakan selama tiga hari dan dihadiri sekitar 500 orang dengan pembicara dari dalam dan luar negeri.
Menurut Pdt. Lipiyus Biniluk sebagai Founder House of Prayer for All Nations, dipilihnya kemnbali Papua memiliki makna yang tersendiri. “Papau itu seperti surga kecil yang jatuh ke bumi. Gereja harus menyatakan bahwa orang Papua memiliki peran yang sama dalam pewartaan injil dan saya menyakini bahwa keberadaan Papua dapat menjadi berkat bagi bangsa-bangsa,” ujar Lipiyus yang juga Anggota Majelis Pertimbangan PGLII.
Melalui Hari Doa Nasional dan penyelenggaraan konvensi ini, Lipiyus ingin agar dari Papua dapat terwujud pewartaan firman Tuhan dengan satu tubuh Kristus. “Pimpinan gereja-geraja yang hadir saat ini memiliki kesepahaman bersama bahwa Hari Doa Nasional dapat menjadi kekuatan.”
Pdt. Ronny Mandang selaku Sekretaris Jenderal Doa Nasional dan didampingi Deinas Geley selaku Ketua Panitia Konferensi Internasional Doa & Penginjilan From Papua To The Nations, kepada wartawan menyatakan bahwa Hari Doa Nasional merupakan respon bahwa kondisi Indonesia tidak baik-baik saja. “Melalui Doa Nasional ini, merupakan bentuk keprihatinan hamba-hamba Tuhan terhadap kondisi yang dihadapi seluruh bangsa. Sebagai anak bangsa, kami juga turut bertanggung jawab agar umat kristiani khususnya dapat dan mampu menghadapi masa-masa sulit ini,” ujar Pdt. Ronny yang turut didampingi pimpinan Aras Gereja.
Lebih lanjut Pdt. Ronny menyatakan bahwa Hari Doa Nasional dapat menjadi awal dari gerakan doa yang dapat menjadi pemersatu. Doa dapat menjadi jawaban bagi setiap pergumulan yang dihadapi.
Hari Doa Nasional dimulai pertama kali di Papua tahun 2022, Medan 2023, Kupang 2024 dan kembali ke Papua di 2025. Dipilihnya kembali Papua, karena Papua memiliki peran yang strategis. Gereja dan gereja dari negara lain memiliki keyakinan bahwa Papua memiliki peran yang sama untuk Amanat Agung.
Ketua Umum PGI Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty melihat Papua dengan kondisinya dapat menjadi berkat bagi Indonesia. “Kekristenan yang ada di Papua menunjukan bahwa itu adalah kekristenan Indonesia. Menyikapi kondisi Papua dan Indonesia yang tidak baik-baik saja, kristenan tetap dapat berdoa dan menjadi berkat.”
Selain Ketua PGI Pdt. Jacky Manuputty dan Pdt. Ronny Mandang, pertemuan ini turut dihadiri Pdt. Tommy Lengkong (Ketua PGLII), Pdt. Pdt. Hano Abdinasti Palit (Sekum PGPI), David Vidyatama (Sekretaris PBI), Mayor Maxel D Latuputty (Sekretaris Humas Teritori Gereja Bala Keselamatan Bala Keselamatan), Rm Agapios Hideo (Wasekum Gereja Orthodhox Indonesia), Pdt Muliathy Briany (Sekretaris Esksekutif PGI), Robby Repi (PP PGLII/Convocator FUKRI)
Harapannya agar umat kristiani mau turut serta untuk bersama berdoa agar mampu menghadapi kondisi ekonomi, sosial, politik dan global yang tidak menentu. Bila banyak hastag yang mengatakan Indonesia Gelap. Orang Kristen adalah terang itu sendiri. Dari Papua, orang Kriten akan membawa terang bagi bangsa-bangsa.
GroL