Wartaindo Jakarta Ada satu hal yang sering bikin orang percaya salah paham tentang Tuhan. Banyak orang suka bicara soal berkat, mujizat, promosi, kelimpahan, dan kemenangan. Tapi begitu hidup mulai terasa berat, doa seperti mentok, pelayanan terasa mandek, bahkan mimpi terasa runtuh… tiba-tiba muncul satu kalimat yang sering terlintas:
“Kenapa Tuhan begini sama saya?”
Padahal, bisa jadi… bukan Tuhan sedang menjauh. Justru Tuhan sedang bekerja paling dalam.
Kisah Musa dalam Ulangan 32:44-52 adalah salah satu cerita paling “menohok” dalam Alkitab. Bayangkan, Musa itu bukan orang biasa. Dia pemimpin besar. Dia dipakai Tuhan membelah Laut Merah. Dia memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan. Dia naik gunung bertemu Tuhan langsung. Secara rohani, Musa itu levelnya sudah seperti legenda iman.
Tapi tetap saja… Musa gagal.
Kesalahan Musa di air Meriba mungkin terlihat sederhana, tapi bagi Tuhan itu soal ketaatan dan kekudusan. Akibatnya? Musa tidak boleh masuk Tanah Perjanjian. Padahal itu mimpi yang ia perjuangkan puluhan tahun. Itu seperti pelari maraton yang sudah hampir menyentuh garis finish… tapi tiba-tiba harus berhenti di meter terakhir.
Sakit? Jelas.
Kecewa? Pasti.
Tidak adil? Mungkin terasa begitu.
Tapi di sinilah kita belajar satu rahasia besar tentang karakter Tuhan:
Tuhan bisa menghukum, tapi Tuhan tidak pernah berhenti mengasihi.
Tuhan tetap mengizinkan Musa naik ke Gunung Nebo untuk melihat Tanah Kanaan. Musa memang tidak masuk, tapi ia tetap melihat janji Tuhan digenapi. Itu tanda bahwa hukuman Tuhan tidak pernah memutuskan relasi kasih-Nya.
Masalahnya, manusia zaman sekarang sering ingin Tuhan hanya jadi “mesin pengabul doa”. Kalau doa dijawab cepat, kita bilang Tuhan baik. Kalau rencana kita gagal, kita mulai meragukan kasih Tuhan. Padahal, kasih Tuhan tidak selalu terlihat dalam kemudahan, tapi sering justru terlihat dalam proses pembentukan.
Mari jujur. Banyak orang Kristen hari ini lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan hubungan dengan Tuhan. Banyak yang lebih takut kehilangan popularitas daripada kehilangan integritas rohani. Banyak yang ingin dipakai Tuhan… tapi tidak siap dibentuk Tuhan.
Padahal pembentukan Tuhan sering terasa seperti tekanan. Kadang lewat kegagalan. Kadang lewat kehilangan. Kadang lewat teguran yang membuat harga diri terasa runtuh.
Tapi Alkitab sudah tegas berkata dalam Ibrani 12:6:
“Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya.”
Artinya sederhana tapi keras:
Kalau Tuhan masih menegur hidup kita, itu tanda kita masih diperhatikan.
Yang berbahaya bukan saat Tuhan menghukum.
Yang berbahaya adalah saat Tuhan sudah diam… karena manusia sudah tidak mau lagi dibentuk.
Kisah Musa juga mengajarkan sesuatu yang jarang disadari orang: Tuhan tidak pernah menilai hidup seseorang hanya dari satu kegagalan. Sekitar 1.400 tahun setelah Musa meninggal, ia muncul kembali dalam peristiwa transfigurasi bersama Yesus (Matius 17). Itu bukan sekadar cerita rohani. Itu bukti bahwa rencana Tuhan selalu lebih besar dari kegagalan manusia.
Tuhan mungkin menutup satu pintu dalam hidup Musa…
Tapi Tuhan membuka pintu kemuliaan yang jauh lebih besar.
Hari ini banyak orang sedang berada di “Gunung Nebo” versi hidup mereka.
Ada yang gagal dalam pelayanan.
Ada yang gagal dalam relasi.
Ada yang gagal dalam karier.
Ada yang gagal dalam panggilan hidup.
Dan sering kali kita mengira itu akhir cerita.
Padahal bisa jadi… itu justru bagian dari proses Tuhan menata ulang arah hidup kita.
Roma 8:28 berkata:
“Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.”
Perhatikan:
Bukan hanya dalam berkat.
Tapi dalam segala sesuatu. Termasuk kegagalan, luka, bahkan hukuman.
Realitanya, manusia sering baru mencari Tuhan ketika hidup mulai runtuh. Ketika semuanya berjalan mulus, Tuhan sering ditempatkan di urutan terakhir. Tapi ketika badai datang, barulah doa menjadi prioritas.
Ironis, tapi nyata.
Karena itu, kisah Musa adalah alarm rohani bagi kita semua. Jangan tunggu Tuhan harus “menegur keras” baru kita kembali kepada-Nya. Jangan menunggu kehilangan baru menyadari betapa berharganya kehadiran Tuhan.
Kalau hari ini hidup terasa berat, mungkin itu bukan tanda Tuhan meninggalkan kamu. Bisa jadi Tuhan sedang menata ulang hidup kamu supaya kamu tidak hancur oleh kesombongan, ambisi, atau arah hidup yang salah.
Tuhan yang melukai…
Adalah Tuhan yang juga menyembuhkan.
Tuhan yang menegur…
Adalah Tuhan yang masih peduli.
Dan satu hal yang pasti:
Kasih Tuhan tidak pernah berhenti bekerja, bahkan ketika hidup terasa paling menyakitkan.
Jadi kalau hari ini kamu sedang merasa seperti Musa — sudah berjuang lama tapi mimpi terasa menjauh — jangan buru-buru menyerah. Bisa jadi kamu sedang berada di titik di mana Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang kamu bayangkan.
Karena dalam tangan Tuhan, kegagalan bukan akhir cerita.
Sering kali… itu justru awal dari rencana yang lebih mulia.
Ditulis oleh:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K