Wartaindo Jakarta Mengukur ketokohan seseorang merupakan membutuhkan konsistensi, kerja keras, air mata dan pengorbanan. Sebagai bentuk apresiasi Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) memberikan penghargaan kepada sosok yang menjadi teladan diberbagai bidang melalui PIKI Awards yang digelar di Studio Metro TV, Jakarta, Minggu (25/10).
Malam penganugerahan ini menghadirkan keteladanan, integritas, dan pengabdian bagi bangsa. Penghargaan diberikan dalam delapan kategori, yakni Toleransi, Lingkungan, Ekonomi, Antikorupsi, Pendidikan, Kesehatan, Inovasi, dan Budaya, serta dua apresiasi khusus bagi pihak yang dinilai telah memberikan kontribusi dan bermanfaat bagi masyarakat. Seluruh kategori ini ditetapkan sesuai dengan tema ‘Terang Allah Membawa Kebenaran’ yang diambil dari Efesus 4 : 15. Selain itu, juga diberikan penganugrahan khusus kepada lembaga filantropi dan penggiat kebebasan beribadah.
Pada kesempatan ini Ketua Umum DPP PIKI Maruarar Sirait menyampaikan terima kasih terhadap para penerima awards atas dedikasi yang sehingga dan berharap keteladanan mereka dapat di contoh banyak orang. “Kekristenan telah melahirkan banyak tokoh yang dapat dijadikan teladan. Ada Leimena, TB Simatupung, Radius Prawiro, Sabam Sirait, Peter Sumbung dan tokoh-tokoh lainnya. Perjuangan kita bukan hanya untuk umat Kristen tetapi juga untuk semua masyarakat,” ujarnya.
Menteri Perumahan dan Kawasan Pemukiman ini juga berharap agar kerja PIKI selama kepemimpinan empat bulan ini dapat berdiri di atas kekuatan sendiri, di kaki sendiri dengan mengandalkan Tuhan Yesus. Itu spirit yang kita bangun. “Itu spirit yang kita bangun. Kita dididik Tuhan jadi kepala bukan ekor, baik kepala dalam iman, dalam pekerjaan dan apapun itu. Kontribusi PIKI tidak hanya ditujukan bagi umat Kristen, tetapi juga bagi masyarakat Indonesia secara luas. Organisasi ini ingin melahirkan sumber daya manusia berkualitas dan mendorong lebih banyak intelektual untuk mengambil bagian dalam menjawab persoalan bangsa.”
Pemberian PIKI Awards penilaian didasarkan pada empat dimensi: Integritas, Inovasi, Berdampak, dan Keberlanjutan, melalui proses yang objektif, transparan, dan akuntabel. Proses Penjaringan dan Penjurian PIKI Award 2026 dilakukan secara terbuka dan bekerja sama dengan lembaga survei independen Indikator. Proses ini melibatkan lebih dari 30 juri untuk setiap kategori. Para juri adalah tokoh-tokoh yang kredibel dan berkompeten di bidangnya masing-masing.
Dikategori toleransi, penghargaan diberikan kepada Prof. Dr. Abidin Wakano, M.Ag., atas kiprahnya dalam kerja keberagaman di Maluku. Wilayah yang pernah mengalami konflik tersebut dinilai memiliki pengalaman penting dalam membangun kerukunan di tengah masyarakat majemuk.
Di bidang riset dan inovasi, penghargaan diberikan kepada Prof. (H.C.) Dr. Carina Citra Dewi Joe, B.Sc., M.Sc., Ph.D., yang berperan dalam pengembangan teknologi produksi massal vaksin Covid-19 AstraZeneca. Kategori kesehatan diberikan kepada dr. Lie Augustinus Dharmawan, Ph.D., Sp.B., Sp.BTKV, pendiri Yayasan Dokter Peduli atau doctorSHARE. Pelayanan kesehatan masyarakat yang sejak tahun 2009 merintis rumah sakit apung swasta pada 2013 serta mengembangkan program Dokter Terbang untuk menjangkau wilayah yang sulit dijangkat layanan medis.
Dikategori kebudayaan diberikan kepada Dr. Bambang Noorsena, S.H., B.A., M.H., atas kajian dan pengabdiannya dalam menggali warisan iman serta tradisi lintas bangsa. Untuk lingkungan hidup, PIKI memberikan penghargaan kepada Saptoyo, penggerak konservasi pesisir Sendangbiru yang sejak 1998 memadukan konservasi mangrove, perlindungan terumbu karang, dan pemberdayaan masyarakat.
Gusti Ngurah Anom atau Ajik Krisna menerima penghargaan untuk kategori Ekonimi UMKM atas kiprahnya mengembangkan usaha di Bali yang memberi ruang bagi produk UMKM lokal. Sementara itu, kategori pendidikan diberikan kepada Saur Marlina Manurung atau Butet Manurung, pendiri Sokola Rimba di Jambi yang mengembangkan pendidikan kontekstual bagi masyarakat adat.
Penghargaan antikorupsi diberikan secara anumerta kepada Prof. Dr. Artidjo Alkostar, mantan hakim agung yang dikenal melalui kiprahnya di bidang hukum dan kemudian mengabdi di Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Selain delapan kategori tersebut, PIKI memberikan apresiasi khusus kepada Yayasan Buddha Tzu Chi sebagai lembaga filantropi atas kerja kemanusiaannya lintas suku, agama, dan golongan. Apresiasi untuk penggiat kebebasan beribadah diberikan kepada Gugun Gumilar, Ph.D., atas konsistensinya menyuarakan jaminan konstitusional atas kebebasan beragama serta keterlibatannya di tengah masyarakat multikultural.
Pada kesempatan ini Maruarar Sirait memaparkan sejumlah kegiatan PIKI dalam beberapa bulan terakhir, mulai dari Seminar Nasional Kesehatan di Bandung, Seminar Nasional Dana Bagi Hasil di Tentena, Poso, Simposium Energi Nasional di UPH Karawaci, hingga Seminar Nasional Hukum di Balai Kartini, Jakarta. Organisasi tersebut juga menggelar diskusi kelompok terarah mengenai berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. PIKI juga turut menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk warga terdampak bencana, termasuk banjir di Sumatera Utara, gempa bumi di Flores, serta kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya dan Pontianak.
Selain itu PIKI juga telah menyelenggarakan Simposium Nasional Energi, antara lain mengenai dorongan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dan pemenuhan kebutuhan listrik di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), disebut telah diterima Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia. Juga telah menyelangarakan Seminar Nasional Hukum juga disampaikan kepada Jaksa Agung ST Burhanuddin. Salah satu usulan yang disebut mendapat perhatian berkaitan dengan mekanisme kepailitan untuk penyelesaian secara kolektif bagi korban tindak pidana.
Menurutnya, semua kegiatan yang PIKI lakukan sejalan dengan semboyan PIKI, Ad Caritas Et Veritas—demi kasih dan kebenaran. “Melalui PIKI Awards 2026, organisasi ini menempatkan kerja nyata di berbagai bidang sebagai bentuk pengabdian yang diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk berkontribusi bagi masyarakat.” (Grol)
*