Oleh : Firdaus Syamsu (Periset Senior di Nusantara Centre, Kontibutor Banrehi)
Judul asli: The End of The Free Market, Who Win The War Between States and Corporations.
Penulis: Ian Bremmer.
Penerbit: Portofolio/Penguin.
Tahun Terbit: 2010.
Tebal: 232 hlm.+vi.
ISBN: 978-1591843016.
Harga: 399.000,-
Wartaindo Jakarta Mencandra pikiran dan projek Prabowo. Inilah riset utama Nusantara Centre selama satu tahun (Mei 2025-Mei 2026). Riset yang disusun dengan membandingkan semua buku karya Prabowo dengan lima buku utama terpilih: (1)The Great Delusion: Liberal Dreams and International Realities, karya John J. Mearsheimer; (2)Konsolidasi Kebangsaan, karya Mochtar Pabottingi; (3)The End of The Free Market, karya Ian Bremmer; (4)Ekonomi Politik Kekuasaan, karya Vedi R Hadiz; (5)Ekonomi Politik Pancasila, karya Yudhie Haryono, dkk. Perbandingan isi buku-buku ini juga menjadi sumber utama lahirnya rancangan undang-undang sistem perekonomian nasional yang sedang bergulir di masyarakat.
Buku karya Ian Bremmer adalah naskah ketiga yang kami bahas. Kuredaksi saat sore hari sambil ditemani secangkir kopi dan mendengarkan lagu.
Ini tentu waktu yang pas untuk memberi makan pikiran dan rasa haus akan info-info terbaru kenegaraan. Terngiang ucapan kepala Banrehi, Yudhie Haryono untuk membaca buku dan menulis untuk terus menambah wawasan. Setelah membaca buku-buku yang sudah kami terbitkan dan yang jadi sumber rujukan kerja lembaga, teringat potongan lagu sendu di kepala yang berbisik lirih, “tak ada yang abadi/Tak ada yang abadi/”
Buku karya Ian Bremmer ini seperti alarm keras yang memperingatkan bahwa dunia tidak lagi digerakkan oleh mekanisme pasar bebas. Ada kekuatan yang mampu memanfaatkan dan mempermainkan kapitalisme sehingga menjadi alat mempertahankan kekuasaan politik. Mungkin karena buku ini ditulis pasca krisis finansial global 2008, sehingga hipotesanya menarik.
Penulis membedah bagaimana negara seperti China, Rusia, dan negara-negara Teluk mulai menggeser dominasi kapitalisme liberal ala Barat.
Buku ini dibuka dengan satu pertanyaan tajam, “apakah pasar bebas benar-benar masih bebas?” Pertanyaan ini terasa semakin nyata hari ini saat negara-negara menghadapi perang dagang, ketergantungan teknologi, krisis energi, sampai perebutan dominasi kecerdasan buatan. Dulu, tema-tema tersebut dianggap teori geopolitik, tetapi kini berubah menjadi kenyataan.
Penulis memaparkan munculnya “state capitalism” atau kapitalisme negara, yaitu sistem ketika pemerintah tetap memakai mekanisme pasar, tetapi negara memegang kendali utama atas sektor strategis demi kepentingan politik dan kekuasaan. Artinya aturan main dalam sistem ini perusahaan besar bukan lagi aktor independen, melainkan perpanjangan tangan negara.
Analogi yang dipakai Bremmer sangat presisi. Ia menggambarkan pasar bebas sebagai pertandingan olahraga dengan wasit netral, sedangkan kapitalisme negara adalah pertandingan di mana pemerintah mengendalikan sebagian wasit dan pemain agar hasil akhirnya sesuai kepentingan mereka. Diksi sederhana, tetapi brutal dalam menjelaskan realitas ekonomi global modern.
Kekuatan buku ini ada pada keberaniannya menabrak optimisme globalisasi yang selama puluhan tahun dijual Barat. Setelah runtuhnya Uni Soviet, banyak pihak percaya, demokrasi liberal dan pasar bebas adalah “akhir sejarah.” Namun Bremmer menunjukkan bahwa otoritarianisme justru beradaptasi dan menjadi lebih canggih. Negara-negara otoriter tidak lagi menolak kapitalisme; mereka memanfaatkannya untuk memperkuat kontrol politik.
Hari ini kita melihat apa yang Bremmer utarakan dalam bukunya, bagaimana China mampu membangun raksasa teknologi seperti Huawei, Tencent, dan BYD dengan dukungan negara yang sangat kuat. Amerika Serikat merespons dengan pembatasan chip AI, perang dagang, dan proteksionisme teknologi. Rusia memakai energi sebagai senjata geopolitik. Negara-negara Timur Tengah membeli pengaruh global lewat sovereign wealth fund. Bahkan negara-negara demokrasi mulai kembali melakukan intervensi ekonomi besar-besaran demi menjaga industri strategis mereka.
Membaca perubahan dinamika ini, Indonesia sebagai negara yang memiliki sumber daya alam sangat melimpah pun mengikuti di luar arus ini. Larangan ekspor nikel, hilirisasi tambang, pembangunan ekosistem kendaraan listrik, dominasi BUMN di sektor vital, hingga campur tangan negara dalam ketahanan pangan menunjukkan bahwa logika “pasar bebas murni” semakin ditinggalkan.
Negara ingin menjadi pemain utama, bukan sekadar regulator. Gagasan Bremmer terasa seperti cermin yang memantulkan arah ekonomi global, termasuk arah kebijakan Indonesia.
Yang membuat buku ini menarik bukan hanya data dan analisisnya, tetapi ketegangannya. Bremmer menulis seperti sedang menggambarkan perang ideologi baru: bukan lagi komunisme versus kapitalisme, melainkan pasar bebas versus kapitalisme negara. Perangnya tidak selalu memakai tank dan misil, tetapi tarif impor, investasi strategis, teknologi, energi, data, dan rantai pasok global.
Tentu, buku ini memiliki kelemahan. Penulis terkadang terlalu melihat kapitalisme negara sebagai ancaman bagi pasar bebas tanpa cukup mengakui bahwa banyak negara berkembang memang membutuhkan intervensi negara untuk mempercepat pembangunan. Dalam praktiknya, pasar bebas juga sering gagal menciptakan pemerataan. Krisis finansial 2008 sendiri menjadi bukti bahwa korporasi swasta dapat menciptakan kekacauan global ketika pengawasan negara melemah.
Namun justru di situlah letak nilai penting buku ini: ia memancing pembaca untuk berpikir ulang tentang siapa sebenarnya yang mengendalikan ekonomi dunia. Anggapan tentang demokrasi liberal Barat dan kapitalisme pasar bebas adalah bentuk final pemerintahan manusia (Francis Fukuyama; The End of History and the Last Man,1992) terpatahkan.
The End of the Free Market memiliki bacaan tajam, provokatif, dan sangat relevan lebih dari satu dekade setelah diterbitkan. Buku ini harusnya menjadi bacaan wajib mahasiswa, akademisi, pebisnis, pembuat kebijakan, maupun siapa saja yang ingin memahami mengapa ekonomi global hari ini terasa semakin politis dan penuh tarik-menarik kepentingan negara.
Di era ketika data menjadi minyak baru, AI menjadi senjata baru, dan investasi menjadi alat diplomasi baru, buku ini bukan hanya terasa seperti prediksi tetapi menuturkan yang sedang terjadi di depan mata.
Sambil menutup buku, terngiang kembali alunan sendu berbisik lirih, “tak ada yang abadi/Tak ada yang abadi di dunia ini.” Rasanya ini era transisi. Kita harus bersiap menghadapinya. Jika itu semua buat warga negara, kita harus mendukungnya.(*)