Wartaindo Jakarta Melemahnya kepeimpinan menjadi tanggung jawab semua pihak seperti pendidik, tokoh agama dan juga wartawan kata Tokoh Spiritual nusantara Sri Eko Sriyanto Galgendu saat memberikan orasinya dalam rangkat rapat kerja Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia Pengurus DKI Jakarta 2026 berlangsung di Sekretariat Yayasan Komunikasi Indonesia Jl Matraman Raya No 10 Jakarta Timur.pada Rabu, 4 November 2026.
Dalam rangkaian Rakerda itu berlangsung Ibadah sebagai pembekalan Spiritual oleh Ps. Herru Widjaja yang mengangkat pentingnya nama baik dalam kaitan tugas sebagai PEWARTA Nasrani.
Orasi Kebangsaan oleh Pendiri Yayasan Maya Ismaya Semesta, Sri Eko Sriyanto Galgendu. Focus Group Discussion dengan Nara sumber dari Bank Jakarta Fakhuroji dan Ir. Manuara Siahaan Anggota DPRD Jakarta yang juga adalah Pengawas PEWARNA Indonesia Provinsi DKI Jakarta.
Dalan sesi Orasi Kebangsaan Pendiri Yayasan Maya Ismaya Semesta, Sri Eko Sriyanto Galgendu, mengajak elemen bangsa termasuk tokoh agama dan wartawan untuk kembali menegakkan kepemimpinan diri sebagai fondasi tanggung jawab bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam kerangka NKRI.
Dalam orasi kebangsaan yang diselenggarakan di Jakarta, Sri Eko Sriyanto Galgendu menegaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak dimulai dari memimpin orang lain, melainkan dari mengenal diri sendiri, merubah mental, serta bertindak jujur dan bertanggung jawab.
Ia menyampaikan keprihatinan atas melemahnya nilai‑nilai mendidik, menyayangi, dan menghargai sesama di tengah masyarakat. Menurutnya, hal ini menjadi tantangan besar bagi para tokoh agama, media, dan seluruh pemangku kepentingan untuk kembali mengembalikan arah bangsa.
“Kita sering melihat realitas yang berwarna‑warni: ada hitam, putih, merah, abu‑abu. Tetapi di tengah semuanya itu kita harus memiliki kompas. Terutama wartawan harus menjaga kejujuran dan profesionalisme, karena ia menyentuh jiwa bangsa,” ujarnya.
Dia juga menceritakan bahwa Yayasan Maya Ismaya Semesta telah melahirkan sebuah buku berisi doa dan renungan kebangsaan yang lahir dari rekaman pemikiran dalam waktu singkat. Buku itu menjadi ungkapan keyakinan bahwa Tuhan akan tetap membuka jalan bagi bangsa Indonesia apabila kita tetap berdoa, berharap, dan berjuang bersama.
Ia mengutip semangat kepemimpinan yang digambarkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yakni bahwa keberhasilan bangsa tidak lahir dari kepentingan pribadi, melainkan dari kerja sama, kebersamaan, dan tanggung jawab bersama.
“Berjalanlah walaupun jalan tampak sulit. Berjalanlah dengan jujur. Bangsa ini akan pulih apabila kita mulai merubah diri sendiri terlebih dahulu,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa hak rakyat bukan sekadar slogan. Hak rakyat harus diwujudkan melalui kesadaran, pendidikan, pelayanan, serta peran nyata tokoh agama dan media.
Reporter: Johan Sopaheluwakan