Berkaca Dari Nilai-nilai Kebangsaan yang Diteladankan Gus Dur, Sebagai Proyeksi Tahun 2023

WartaIndo, Jakarta- Presiden ke-4 Republik Indonesia, Dr. K. H. Abdurrahman Wahid meninggalkan banyak kebijakan dan buah pemikiran yang berpihak kepada rakyat Indonesia. Di era-nya, kebebasan umat beragama dalam menjalankan ibadah berada di puncak tertinggi dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, sebagai kesungguhan dari ulama yang akrab disapa Gus Dur itu dalam menjalankan amanat konstitusi.

Di masa pemerintahannya pula lahir Keppres (Keputusan Presiden) Nomor 19 Tahun 2002, yang menetapkan momen Tahun Baru Imlek sebagai Hari Nasional bangsa Indonesia.

Pemikiran tersebutlah yang mendasari Gerakan Moral Rekonsialisasi Indonesia (GMRI) menggelar diskusi secara daring  dengan tema “Belajar dari Pikiran dan Perjuangan K.H. Abdurrahman Wahid”, pada Jumat (30/12).

Diskusi tersebut diselenggarakan sebagai refleksi dari nilai-nilai kebangsaan yang diteladankan Gus Dur semasa hidupnya, untuk di proyeksikan sebagai pengiring perjalanan bangsa Indonesia di tahun 2023 mendatang.

Dalam diskusi secara daring yang dipandu oleh Prof. Yudhie Haryono M.Si., Ph.D, sekaligus sebagai moderator itu menghadirkan sejumlah narasumber seperti Dr (HC) Habib Chirzinm Dewan Pendiri dan Pembina GMRI; Dr. Zastrow Ngartawi, Budayawan Nahdilyn; Eko Sriyanto Galgendu Dewan Pendiri juga Ketua Umum GMRI; dan Rektor Universitas Sumatera Utara, Dr. R Muryanto Amin, S.Sos., M.Si.

“Gus Dur ini memiliki pengetahuan yang sangat luas, saya pertama bertemu beliau tahun 1974 pada bulan puasa. Dalam sebuah diskusi di LP3ES, Gus Dur diminta bicara tentang teori ilmu sosial. Gus Dur kemudian bicara tentang 3 hal yang saling berhubungan antara sosial, budaya dan agama. Tiga hal itu saling berkelindan. Ini menarik pada saat itu karena tidak banyak yang membicarakan keterkaitannya,” terang DR (HC) Muhammad Habib Chirzin membuka diskusi.

Lebih lanjut dikisahkan oleh Muhammad Habib Chirzin, bagaimana Gus Dur terlibat dalam kegiatan-kegiatan kerakyatan dan kebangsaan. Bersama-sama dengan para tokoh lintas iman, Gur Dur merawat keberagaman.

“Gus Dur merupakan pribadi yang sangat sederhana, multi talenta dan sangat berpengetahuan luas,” imbuhnya.

Ingatan yang paling terkesan bagi Chirzin akan sikap Gus Dur adalah kerelaan dan kerendahan hati mengantarkan dan sekaligus mengetikan formulir untuk ikut lomba arsitek yang diselenggarakan suatu lembaga luar negeri.

“Gus Dur adalah sosok ensiklopedik yang humble, multidemensi serta santun dan rendah hati dan gagasannya tentang  perubahan sosial berkelindang dengan agama dan budaya, kini terbukti,” kenangnya.

Sementara itu Rektor USU menilai Gus Dur merupakan sosok yang humanis yang mengedepankan kemajemukan sebagai kekayaan bangsa.

Namun Muryanto Amin mengaku prihatin dengan melihat tren yang terjadi pada mahasiswa generasi saat ini, secara khusus yang terjadi di Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Dirinya menilai ketertarikan untuk mengkaji pemikiran-pemikiran para tokoh bangsa seperti Gus Dur dan juga tokoh bangsa lainnya masih sangat minim. Padahal, pemikiran-pemikiran tersebut memiliki korelasi kuat bagi kemajuan bangsa dan Negara.

Dalam ingatannya, Eko Sriyanto Galgendu mendeskripsikan sosok Gus Dur sebagai “Manusia Setengah Dewa”. Eko melihat Gus Dur tak hanya figur pemimpin yang rendah hati, tetapi mampu menjadi pengayom bagi banyak orang.

“Gus Dur pernah mengkader sosok seperti Mahfud MD, Gus Ipul, Alwi Shihab, AS Hikam dan Muhaimin Iskandar. Hampir semua kader Gus Dur itu berhasil. Pernah saya mendengar, salah satu kader itu pernah diminta untuk menata sendal di sebuah acara yang digelar di Ciganjur. Ternyata menata sendal itu dimaksudkan agar mampu menata sebuah organisasi atau Negara,” kenang Eko Sriyanto Galgendu.

Ia menambahkan bahwa selain belajar dari kesederhanaan dan sifat mengayomi Gus Dur, dirinya juga diajarkan bagaimana merespon masa depan. Eko menuturkan bagaimana Gus Dur pernah mewacanakan tentang pembubaran Kementerian Agama, pembubaran DPR, dan masih banyak lagi lainnya dimasanya. Ternyata hal itu bisa terlihat saat ini.

Di mata Dr. Zastrow Ngartawi, sosok Gus Dur diibaratkan sebuah oase, yakni oase yang mempertemukan mata-mata air jernih yang bersumber dari kearifan lokal dan sebagainya. Gus Dur bukan saja mampu mengambil air jernihnya akan tetapi Gus Dur memiliki kemampuan untuk mengalirkannya kembali. Di mata Zastrow, Sejak kecil memang Gus Dur sering melakukan penjelajahan. Buah dari perjalanan itu lah kemudian direkonstruksi dan dialirkan oleh Gus Dur untuk kehidupan banyak orang.

Acara Refleksi dan Proyeksi ini merupakan rangkaian acara dari gerakan kesadaran dan pemahaman spiritual yang sudah digagas oleh sejumlah tokoh maupun pendiri GMRI yang juga digagas oleh Gus Dur bersana Susuhunan Paku Buwono XII serta Prof. Dr. Habib Chirzin, Eko Sriyanto Galgendu dan sejumlah tokoh nasional lain sejak 20 tahunan silam.

Sedangkan Posko Negarawan sendiri merupakan bagian pergerak gagasan serta beragam program dari GMRI untuk melahirkan sosok negarawan sejati untuk memimpin bangsa dan negara Indonesia pada masa depan yang lebih baik, lebih beradab dan lebih manusiawi yang adil dan makmur sesuai dengan cita-cita dari kemerdekaan bangsa Indonedia berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila.

RP/GAHARU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *