Wartaindo Jakarta Partai SETARA (PAS) dan Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia menggelar focus group discussion (FGD) mengangkat tema Perempuan Kristen di kancah politik Indonesia di gelar di sekretariat DPP Partai SETARA Jalan Tanah Abang II Jakarta Pusat, Jumat 25 September 2026.
Doni Josep Sekretaris Jendral (Sekjen) Partai SETARA didaulat sebagai pengatar diskusi mengatakan bahwa ketika kita mendengar kata politik, mungkin yang muncul dalam pikiran kita adalah kekuasaan, partai, pemilu, jabatan, atau bahkan berbagai konflik yang terjadi di dalamnya.
Tetapi kata Doni yang sesehari bergerak di bidang wisata ini tegas sebelum kita berbicara tentang politik, mengajak kita melihat terlebih dahulu dari perspektif iman Kristen terlebih dahulu.
Mengutip Kejadian 1:27, Doni membaca bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah. Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya.
Artinya, sejak awal penciptaan, perempuan memiliki martabat yang sama sebagai ciptaan Allah. Perempuan bukan manusia kelas dua. Perempuan bukan sekadar pelengkap. Perempuan memiliki kapasitas, tanggung jawab, dan panggilan untuk mengambil bagian dalam kehidupan bersama.
Menariknya, kata Doni ketika membuka Alkitab, akan menemukan banyak perempuan yang memiliki peran besar dalam sejarah umat Allah.
Sosok Debora dalam Hakim-hakim 4, Debora disebut sebagai seorang hakim yang memimpin Israel. Ia mengambil keputusan, memberikan arahan, dan menjadi bagian penting dalam menghadapi persoalan bangsanya.
Lantas ada Ester di mana Ester berada di dalam sebuah lingkungan kekuasaan. Ketika bangsanya menghadapi ancaman, ia tidak memilih diam.
Doni menegaskan dalam FGD terebut bahwa ada satu kalimat yang sangat terkenal dalam Kitab Ester, ketika Mordekhai berkata kepadanya:
“Siapa tahu, justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.”
Tentu kalimat itu menarik untuk kita renungkan. Karena kadang-kadang Tuhan menempatkan seseorang pada posisi tertentu bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi agar melalui posisi itu ia dapat melakukan sesuatu bagi orang lain.
Ester tidak hanya melihat kedudukannya sebagai kehormatan. Ia melihatnya sebagai tanggung jawab.
Selain ke dua tokoh perempuan diatas ada juga mengenal Miryam, yang disebut sebagai nabiah, mengenal Rut, seorang perempuan yang menunjukkan kesetiaan, keberanian, dan integritas. Dan dalam Perjanjian Baru ada sosok perempuan semisal Priskila, yang bersama Akwila turut membimbing Apolos dalam memahami jalan Allah.
Jadi kalau hari ini kita berbicara mengenai perempuan Kristen dan politik, sebenarnya kita tidak sedang membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak asing bagi iman Kristen.
Pertanyaannya sekarang yang perlu kita tanyakan ujar Doni apa yang harus dibawa oleh perempuan Kristen ketika masuk ke ruang publik dan politik?
Apakah hanya jabatan, apakah hanya keterwakilan atau lebih dari itu?
“Saya kira perempuan Kristen yang hadir di ruang politik dipanggil bukan hanya untuk hadir, tetapi untuk membawa nilai integritas, kepedulian terhadap keluarga dan kehidupan, keberanian untuk menyuarakan mereka yang tidak memiliki suara dan membawa semangat pelayanan”, tegasnya.
Karena politik, kalau kita melihatnya sebagai bagian dari kehidupan bersama, sesungguhnya bukan semata-mata tentang bagaimana mendapatkan kekuasaan.
Politik juga berbicara tentang bagaimana keputusan-keputusan yang menyangkut kehidupan banyak orang dibuat.
Karena itu, kehadiran perempuan Kristen di ruang politik dapat menjadi bagian dari panggilan untuk ikut memperjuangkan kebaikan bersama.
Namun tentu kita juga harus jujur bahwa jalan itu tidak selalu mudah.
Perempuan menghadapi berbagai tantangan ketika masuk ke ruang publik dan politik. Ada persoalan kesempatan, budaya, stereotip, akses, pembiayaan politik, bahkan bagaimana perempuan dipandang ketika mengambil keputusan dan memimpin.
Karena itu, FGD hari ini bukan sekadar forum untuk mengatakan bahwa perempuan harus masuk politik.
Lebih penting dari itu, tanyanya bagaimana perempuan Kristen dapat mengambil bagian dalam politik tanpa kehilangan nilai-nilai iman dan integritasnya?
Bagaimana gereja dan komunitas Kristen dapat memberikan ruang, pendidikan, dan dukungan bagi perempuan yang terpanggil melayani melalui ruang publik?
Dan yang tidak kalah penting:
Politik seperti apa yang ingin kita bangun ketika nilai-nilai iman, kesetaraan, keadilan, dan pelayanan dibawa ke dalamnya?
“Saya berharap forum ini tidak berhenti pada pembicaraan mengenai perempuan sebagai objek politik. Tetapi perempuan dapat dilihat sebagai subjek yang memiliki suara, gagasan, kapasitas, dan tanggung jawab dalam menentukan masa depan bangsa”, harap ayah dua anak ini mantab.
Pada akhirnya, mungkin kita bisa belajar dari Ester.
Kita tidak selalu memilih di mana kita ditempatkan.
Tetapi ketika kesempatan itu datang, pertanyaannya adalah:
Untuk apa kita ditempatkan di sana?
Kiranya perempuan-perempuan Kristen yang hadir di ruang publik dan politik bukan sekadar mencari tempat bagi dirinya sendiri, tetapi mampu menjadikan tempat itu sebagai ruang untuk melayani, memperjuangkan kebaikan bersama, dan menghadirkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan berbangsa.
Dalam FGD yang diawali sambutan dari Rumondang Sitompul Ketua umum PAS itu menghadirkan beberapa pembicara dari perempuan-perempuan dari berbgaia latar belakang seperti Cristy dari jurnalis, Magdalena aktivis, Milya dari kalangan profesional, Grace Dian akademisi, Thielma Numberi tokoh perempuan Papua dan Yusuf Mujiono Ketua umum Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) satu satunya nara sumber laki-laki sedangkan jalannya FGD di pandu Ferry.