Penulis: Gus Badawi
Kerabat Pemimpin Spiritual Nusantara
Wartaindo Jakarta Dua Pesan Mas Guruh Soekarno Putra “Generasi Indonesia yang Cerdas dan Berbudaya/Beradab Personal – Sosial – Semesta”.
Cerdas “Hidup Berkesadaran – Spiritualitas Kesejatian” menyatukan- memanunggalkan Kehidupan: Tat Twam Asi “Saya adalah Kamu, Kamu adalah Saya”. Dimanapun kita menghadap disitu lah Wajah Tuhan YME – Allah Swt, Dia ada dimana pun kita berada, bahkan Dia lebih dekat dari urat leher (nafas) kita. Meliputi semua aspek Imago Ideal “Ego Ilahi – Cinta Sejati Kesadaran Universal Sidratul Muntaha Nilai-nilai Universal Pancasila Seutuhnya”, meliputi:
- Spiritualitas Kesejatian – Hidup Berkesadaran dari Nilai-nilai Luhur dari Para Leluhur Nusantara dari Ismoyo ‘Semar – Nabi Sis As’ Peradaban Lemuria Atlantis, Kapitayan, Sunda Wiwitan, Salaka Negara dst, Peradaban Hindu – Buddha Islam dst, Sunan Kalijogo, Raden Patah dengan “4 Daulat Republiknya”, Gajahmada, Pangeran Diponegoro, Ronggowarsito, HOS Cokroaminoto, Jong-jong Nusantara “Soempah Pemoeda 1928” hingga ‘Bung Karno – Founding Fathers’, Kiageng Suryomentaram – Kihajar Dewantoro, Gus Dur dkk.
- Pandangan dunia “Jujur & Adil” warisan 124.000 nabi yang Tuhan YME – Allah Swt utus ke seluruh bangsa di dunia, dilanjutkan para “Kekasih & Jagoan Ilahi sepanjang masa, sampai Akhir Zaman”.
- Ideologi “gotong royong- egaliter komunal sosialistik – sosialisme keadilan – share holder kekeluargaan bangsa dst”, dengan rintisan struktur-struktur ekonomi & sosialnya, yang harus kita sadari dan realisasikan
- Teologi/ Tauhid yang berkembang pada ranah Kebangsaan “Teologi Pembebasan Bangsa Marhaenisme Plus” selaras dengan Perkembangan Iptek yang sangat pesat.
- Berpegang pada titik temu/ kalimatunsawa/ prinsip-prinsip universal sama dari “agama-agama & lokal jenius suku-suku bangsa” dari spiritualitas kesejatian, pandangan dunia, ideologi keadilan, filsafat, sains, modal sosial, modal sosial, akhlak – etika “personal, sosial, semesta”, etos kerja, mentalitas-mentalitas yang berkemajuan dst.
- Pendidikan Transformatif berdasar Filosofi Pendidikan Kihajar Dewantoro “Ngerti, Ngroso, Nglakoni dengan Taman Siswa sebagai Sekolah Kehidupan”. Yang di Finlandia menjadi Faktor Penting yang menjadikannya Pendidikan No.1 di Dunia.
- Gerakan Transformatif yang digulirkan Gus Dur (1970-an) dan Prof Dr Koentowidjojo (1980-an), yang “Macet” karena orientasi sistem sosial politik hanya kepada politik kekuasaan minus politik kerakyatan dan politik kebangsaan.
- Membangun masyarakat warga sejati yang berkualitas & mandiri/ civil society dengan modal sosial yang begitu kaya dari “agama-agama dan lokal jenius suku-suku bangsa” dengan keteraturan sosial sejatinya. (Selama ini belum disentuh sama sekali, pada masa Orde Baru dengan dibuangnya Sosiologi = Ilmu membangun masyarakat digantikan pembangunanisme (Wiratmo Soekito), pada masa reformasi belum direalisir sama sekali digilas isyu “Materialisme,Nekolim ‘Bung Karno’ Neolib dengan anasir-anasirnya”.
- Membangun sistem kebangsaan yang kokoh dan menyala-nyala seperti “Api Unggun yang Abadi” dengan Budaya (budi daya) Nasionalnya di segala aspek kehidupan (Ipoleksosbudmil – Hankan), tidak kerdil seperti selama ini hanya seni, tradisi, tari dan pakaian adat.
- Menyemai – mengkondisikan masyarakat politik yang berkeadaban “Menjadi Pelayan Rakyat – Pemegang Amanat Penderitaan Rakyat – Penyambung Lidah Rakyat” (Bung Karno). Demokrasi Substansial “Hikmah Kebijaksaan” (tidak seperti yang selama ini berjalan Partai Diktator dan kaki tangan pemilik modal yang tanpa rakyat serta pembibitan rampok, Romo Dr Benny Susetyo dan Prof Dr Iberamsyah). Berdasar spirit “Republik – Res Publica – Kepentingan Kemaslahatan Umum Rakyat” dengan “Dua Saja Partai Rakyat” berdasarkan Filosofi Memayu Hayu Bawono berorientasi Penguatan Negara & Memayu Hayu Jalmo berorientasi HAM/ Hak-hak Kewargaan yang setara sama, (atau paling banter 3 Partai sebagai Penyeimbang). Untuk menghindari “Koalisi Dagang Sapi yang melukai Hati Nurani Rakyat”.
11.Dst-dst.
Semoga menjadi nubuah bagi kita semua, “Bangsa Nusantara Indonesia”. Seperti nubuah Gus Dur,”Isi Rumah NKRI dengan mengaktualkan Nilai-nilai Universal Pancasila Seutuhnya yang selaras dengan Ajaran-ajaran Islam, tanpa harus secara legal formal berbentuk Negara Islam”.
Selamat Jalan Mas Guruh Soekarno Putra, engkau telah memberikan Wasiat yang Teramat Indah seperti Darma Bakti Bapakmu – Bung Karno dan para Pahlawan-pahlawan Sejati Bangsa Nusantara Indonesia lainnya.