Optimisme Di Tengah Lingkaran “Kegelapan Peradaban Bangsa”

Penulis: Gus Badawi
Kerabat Pemimpin Spiritual Nusantara

Wartaindo Jakarta Dalam suasana dan kondisi “Nusantara Indonesia yang dalam keadaan Tidak Baik-baik Saja” diselengarakan acara Dialog & Refleksi Nyata Untuk Perdamaian “Kitab Ma Ha Is Maya Pandangan dan Pesan Hari Perdamaian Dunia”, atas inisiatif organisasi PEWARNA, Nusantara Centre, Semar Cipta Surya Kencana Amalindo dan Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia pada 21 September 2026, di Gedung “Juang Surya Kencana” Jl Juanda Raya no.4A, Jakarta Pusat.

Romo Sri Eko Sriyanto Galgendu sebagai Aktor sekaligus Pembaharu yang membidani Kitab “Ma Ha Is Ma Ya dalam Bahasa Bhuwana” yang dipanggungkan selama 20 Jam Non Stop di Antara Heritage Center pukul 9 pagi hingga puku 5 pagi (2-3 Agustus 2025).

Romo Sri Eko mengingatkan, akan putaran siklus 7 Abad (Kolocokro) meliputi: abad masa tahun abad Kelahiran Nabi Isa As sebagai tokoh Spiritual pada abad 0, Kelahiran Nabi Muhammad Saw sebagai tokoh Spiritual pada abad 7, kemudian Munculnya Renesance “Setelah Abad Kegelapan” pada abad 14, dan akan Bangkit, Lahir & Munculnya tokoh Spiritual Baru pada Abad ke-21. (Termasuk Ismoyo, Krishna, Buddha, Kong Hu Cu dkk).

“Tanpa Kehendak, Tanpa Daya Upaya, Tanpa Usaha” segalanya mengalir begitu saja, mengikuti aliran gerak Sang Kecerdasan Semesta sebagai manifestasi- pengejawantahan dari Sang Maha Sutradara & Sang Maha Dalang, Tuhan Maha Esa – Allah Swt.

“Selalu harus mulai dengan hati, bicara dengan hati, melangkah dengan hati”.

Begitu lugu dan polosnya, Romo Sri Eko Sriyanto Galgendu memulai langkah bercita-cita kalau tidak menjadi penasehat raja & presiden.

Berkat anugerah dari Tuhan YME, berupa palillah “Keikhlasan”, palillah dari Sri Susuhanan Paku Buwono XII sebagai Raja dan Palillah Gus Dur sebagai Kyai yang Presiden, dengan ditunjuknya Romo Sri Eko Sriyanto Galgendu sebagai Ketua GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia), saat Gus Dur menjadi Presiden.

Menurut Romo Sri Eko, “Pemimpin harus tahu hati & jiwa rakyat. Jadi mengingatkan akan kembalinya Sang Satria Pinandita yang bertanggung jawab “Ngemong, Menjaga dan Menyelamatkan Anak turun – Anak cucu mengalir dengan nilai-nilai Luhur dari Para Leluhur Nusantara”, membawa Ajaran dan Kawruh “Jalan Kebenaran yang Agung yang Menjaga dari Kejahatan Kegelapan Peradaban” (Sastro Jendro Hayuningrat Pangruwating Diyu).

Romo Mengingatkan Kepemimpinan Negarawan di Tanah Ketinggian (Siti Hinggil – Bukit Tinggi – Tanah Tinggi -Highlander), Sisingamangaraja Pemimpin Maharaja “yang ada pada suara hati, yang adalah Tuhan di dalam diri kita sendiri”, begitu pun Sultan Ageng Tirtayasa, atau Prabu Siliwangi.

Mereka semua “Babad Aĺas jika manusia sudah seperti hewan, maka akan lahir & bangkit lah Penembahan Senopati atau Brawijaya (Brahmana Ksatria), yang kita harus “Belajar sejarah pada diri sendiri, bukan pada bangsa lain. Menata sejarah sendiri, membangun sejarah sendiri”.

Membangun kepemimimpin politik sekaligus kepemimpinan spiritual, membaca yang terlihat & yang tidak terlihat. Pemimpin harus tahu hati & jiwa rakyat, tutur Pemilik Usaha “Ayam Ancuur”, yang amat bersahaja ini.

Pada kesempatan Acara tersebut, dikemukakan Pandangan dan Pesan dari tokoh-tokoh: Prof Dr Yudhie Haryono, Romo Sunardjo Sumargono, August Hamonangan, Raja Jacob Ereste dan Yusuf Mujiono.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *