Populer Nihil Kualitas

Jakarta wartaindo.id Kemajuan media sosial berdampak pada kehidupan masyarakat dalam berinteraksi, baik dampak positif maupun juga negatifnya, tinggal bagaimana pengguna media sosial ini memanfaatkannya. Tak bisa dipungkiri  lagi dengan media sosial baik melalui Face Book, Whatsapp  Twiter, Istagram, Video dan lain lain bahkan  sekarang lagi ngetop tik tok dan sebagainya. Melalui unggahan media sosial orang yang dulunya bukan siapa-siapa melalui medsos menjadi terkenal. Demikian pula dengan produk bisnis maupun juga pemikiran dan juga pariwisata

Tentang kemajuan tehnologi medsos ini banyak masyarakat berlomba agar ngetop atau populer dan melalui kepopuleran tersebut berdampak dengan penghasilan dan juga posisi jabatan yang bisa memberikan keuntungan.

Kepopuleran melalui medsos awalnya di mulai dengan gaya Pak Jokowi saat memimpin Solo menjadi walikota berlanjut saat memimpin DKI Jakarta  hingga akhirnya menjadi presiden. Berawal dari tayangan-tayangan di media sosial kinerja Pak Jokowi yang blusukan turun langsung ke tengah masyarakat inilah, kemudian banyak pejabat kepala daerah ikut rajin mengunggah karya nyata dengan gaya blusukannya untuk melayani masyarakat.

Seperti yang dilakukan Bupati Lumajang, walikota Surabaya dan Gubernur Jawa Tengah mereka menayangkan kegiatan melalui konten youtube lalu menayangkan kinerjanya. Dampaknya popularitas mereka makin dikenal masyarakat luas.

Jika masa awal-awal menggunakan medsos menyajikan kinerja yang mengedepankan prestasi dan kualitas bagi para pejabat, tetapi kini kita melihat fenomena perubahan yang signifikan, dengan menggunakan medsos semata untuk mengejar populer dengan sengaja menggunakan atau dengan cara untuk menarik perhatian dan komentar orang saja, tak peduli itu berkualitas atau tidak.

Bagi orang-orang seperti ini yang penting populer sekalipun nihil prestasi dan kualitas bahkan bisa dikatakan melacurkan intelektualitasnya. Tentu masyarakat yang peka sudah membaca siapa pemimpin yang menggunakan cara meraih popularitas dengan menciptakan kebijakan yang blunder serta komentar yang dikesankan bodoh.

Karena langkah mereka ini tujuannya semata agar menjadi tranding. Tragisnya isi atau kualitas kinerja tak menjadi penting lagi. Malah ada kesan disengaja bahkan di program untuk terus menciptakan kebijakan atau komentar yang menjadi pusat perhatian, sekalipun komentar-komentarnya dianggap bodoh dan menjadi bahan ledekan, pertanyaannya apakah dia bodoh atau sedang membodohi masyarakat.

Kenapa, karena semakin banyak yang memberikan komentar semakin menjadi tranding topic ujungnya kepopuleran yang di dapat dan itu memang tujuannya. Bayangkan jika kita klik di google gubernur terbodoh itu muncul lalu semakin orang mengolok dan memberikan komentarnya, dampaknya namanya semakin melambung dan populer. Belum lagi upaya memberikan komentar yang nyleneh seperti udara tidak berKTP, banjir dikatakan nunggu giliran dan diparkirkan dulu. Lalu mengubah nama-nama jalan dan rumah sakit.

Kebijakan-kebijakannya sontak memunculkan komentar dan menjadi tranding, seketika namanya semakin populer, tak heran ketika diadakan survey dari berbagai lembaga namanya pun masuk menjadi kandidat calon bahkan kini buahnya mulai dirasakan dengan diusung salah satu partai yang dulu sangat berseberangan dengan orang ini.

Menariknya jika kita cermati cara meraih populer dengan tetap menjadi pembicaraan masyarakat itu ditambah pasukan atau setidaknya simpatisan yang memberikan dukungan atas kebijakan dan komentarnya. Dengan cara itu sengaja memberikan sajian kepada masyarakat bahwa tindakan yang dilakukan sang pimpinan yang segera akan turun tahta itu masih banyak yang setuju dan mendukungnya.

Trend meraih populer tanpa prestasi inilah yang rasanya menjadi fenomena baru, dan nyatanya sudah berhasil. Orang yang melakukan tindakan seperti ini jelas demi meraih cita-citanya rela memakai segala upaya dan cara tak peduli harga diri, dan intelektualitasnya.

Jika dikaitkan dengan budaya luhur kita sangat jauh dari itu semua ada peribahasa Jawa Aji godong aking, artinya lebih berharga dari daun kering. Ada beberapa  hal yang dibutuhkan menurut Peter F Drcker Pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai. Kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya.

Ini menjadi penting apalagi ketika nanti 2024 masyarakat Indonesia diperhadapan untuk memilih presiden dengan bangsa yang cukup besar dan beragam. Dibutuhkan pemimpin yang bersikap selalu mengedepankan kebersamaan, tidak merusak peradaban dengan sengaja membenturkan kepentingan masyarakatnya.  Abu Hamid al Gazali dalam nukilannya mengatakan bahwa sifat utama pemimpin ialah beradab dan mulia hati.

Untuk menentukan sikap,  jangan main-main memilih seorang pemimpin, jangan salah pilih gegara hanya dikasih recehan tetapi kesejahteraan rakyat jadi taruhan.

Pilihlah seorang pemimpin yang bukan hanya mencari popularitas dengan menihilkan kualitas apalagi hanya pandai beretorika namun minim karya nyata, kalaupun berkarya hanya semata biar terlihat enak di depan mata tapi sedikit gunanya.

Oleh Yusuf Mujiono Penggiat media

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *