Abetnego Tarigan Cawabup Karo Melayani Sepenuh Hati

Wartaindo.id Jakarta Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) menggelar diskusi terbatas dengan menghadirkan dua narasumber utama Abetnego Tarigan Deputi II Kantor Staf Presiden (KSP) dan Pendeta Dr. Anton Tarigan tokoh agama asal Karo yang sekaligus gembala Jemaat JKI Berastagi Kabupaten Karo Sumatera Utara. Jumat 21/6/24 bertempat di media Center Persekutuan Gereja Gereja di Indonesia (PGI) Jalan Salemba Raya Jakarta Pusat.

Diskusi dengan tema menyejahterakan Rakyat dengan Potensi Alam Karo dipandu jurnalis sinior Eko Raharjo  dihadiri Sahrianta Tarigan Tokoh Karo di Jakarta, Rumondang Sitompul Pimpinan Yayasan HOP Indonesia, Yusuf Mujiono Ketua Umum PEWARNA Indonesia dan beberapa Jajaran Pengurus Pusat antaranya Dony Leonardo, Sugiyanto, Elly Togatorop, Grolus Sitanggang, Jerry Paty serta pengurus PEWARNA Daerah Khusus Jakarta .

Abetnego Tarigan yang menatakan siap maju menjadi bupati Karo adalah sosok pria yang aktif berorganisasi ini terlibat sebagai penasehat di Himpunan Masyarakat Karo Indonesia (HMKI) adalah Perkumpulan Sosial Masyarakat Karo. Abetnego Tarigan juga berperan sebagai Penasehat GAMKI, Wakil Ketua Umum PIKI dan masuk salah satu pengurus PGI dan masih banyak lagi kiprahnya.

Abetnego Tarigan: Melayani Sepenuh Hati

Abetnego Tarigan, seorang Bacabup Karo, menekankan bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak memandang jabatan atau pangkat. “Abetnego berarti ‘Hamba yang Bersinar’,” ujarnya, “Sepanjang hidup saya didedikasikan untuk melayani, dan sebagai Bacabup Karo, tujuan utama pelayanan pemerintah adalah melayani masyarakat dari kelahiran hingga kematian.”

Berbicara Kabupaten Karo lanjut Abetnego tak terlepas dengan adanya potensi dan tantangan Tanah Karo. Siapapun mengakui bahwa Tanah Karo memiliki potensi alam yang kaya, namun juga menghadapi berbagai tantangan. Selama memperhatikan kondisi di Kabupaten yang terkenal dengan pertaniannya itu, Abetnego menyoroti bahwa masyarakat Karo cenderung tidak percaya pada pemerintah.

“Pendidikan di Tanah Karo tertinggal, dengan lama sekolah yang lebih rendah dibandingkan kabupaten lain dengan pendapatan per kapita yang sama,” katanya. Selain itu, masalah judi dan narkoba juga menjadi perhatian serius, mengancam kesejahteraan masyarakat.

Problema kabupaten Karo itulah membuat Abetnego yang sukses mengemban tugas saat mengatasi para pengungsi korban gunung Sinabung tersebut, memiliki agenda Prioritas: Pendidikan, Kesehatan, dan Infrastruktur

Abetnego menegaskan pentingnya pendidikan sebagai sarana membangun masyarakat, namun infrastruktur dan fasilitas pendidikan di Tanah Karo belum merata. “Fasilitas kesehatan juga perlu perhatian, terutama rumah sakit yang belum mendapat perhatian signifikan dari pemerintah,” tambahnya. Selain itu, pengelolaan air dan pertanian perlu ditingkatkan untuk menghadapi masalah pupuk dan bibit palsu.

Pariwisata dan Reformasi Birokrasi

Tanah Karo memiliki potensi pariwisata yang besar, namun belum dikelola dengan maksimal. “Pengelolaan pariwisata yang baik akan mengurangi pungli yang masif,” kata Abetnego. Ia juga berkomitmen untuk reformasi birokrasi, memastikan urusan administrasi seperti pembuatan KTP menjadi lebih mudah dan efisien.

Karo yang Melayani, Pintar, dan Sehat

Abetnego bertekad menjadikan Tanah Karo sebagai daerah yang benar-benar melayani warganya. “Kami akan membangun Karo yang produktif dengan akses pasar dan teknologi pertanian yang lebih baik,” ujarnya. Pendidikan unggulan juga menjadi fokus, dengan harapan anak-anak Karo tidak perlu bersekolah di luar daerah. Selain itu, akses air bersih dan pengelolaan sampah menjadi prioritas untuk mewujudkan Karo Sehat.

Kolaborasi untuk Kemajuan Bersama

Sementara Pendeta Anton Tarigan menambahkan, “Tanah Karo adalah sekeping surga yang gagal dikelola.” Ia menyoroti potensi sumber daya alam yang melimpah namun belum dimanfaatkan dengan baik. Abetnego menegaskan pentingnya kerja sama lintas lembaga dan organisasi untuk mengatasi masalah sosial seperti narkoba, judi, dan premanisme. “Pemimpin yang dipilih harus memiliki standar integritas, bukan hanya berdasarkan uang,” tegasnya.

Diskusi ini menggarisbawahi bahwa mengelola Tanah Karo membutuhkan hati yang melayani, dengan fokus pada kesejahteraan masyarakat dan pengembangan potensi daerah yang maksimal. Dengan komitmen dan kerja sama, Tanah Karo dapat mencapai kemajuan yang signifikan.APM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *