Gubernur Turun Langsung, Wartawan Tak Sekadar Meliput Warga Hadapi Kabut Asap

 

Wartaindo Jakarta  Ketika kabut asap mengancam kesehatan masyarakat, peran wartawan tidak berhenti di balik kamera dan catatan berita. Minggu (13/9/2026), insan pers di Kalimantan Tengah turun langsung bersama Gubernur Kalteng H. Agustiar Sabran membagikan bantuan kepada masyarakat. Bukan sekadar meliput, wartawan ikut menjadi bagian dari aksi kemanusiaan.

Sedikitnya 3.000 paket masker, vitamin, bubur kacang hijau (burjo) dan telur dibagikan kepada masyarakat dalam kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.30 WIB, berpusat di depan Rumah Jabatan Gubernur Kalteng dan kawasan Bundaran Besar Palangka Raya.

Gubernur H. Agustiar Sabran hadir langsung dan mengajak insan pers bersama-sama turun ke lapangan. Kehadiran orang nomor satu di Kalteng tersebut membuat aksi pembagian bantuan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi memperlihatkan keterlibatan langsung pemerintah dan masyarakat pers dalam merespons situasi yang dihadapi warga.

Wartawan Turun dari Balik Meja Redaksi
Selama ini wartawan dikenal sebagai pihak yang berada di garis depan dalam menyampaikan informasi kepada publik. Namun dalam situasi kabut asap, peran tersebut diperlihatkan dalam bentuk yang lebih nyata.
Wartawan tidak hanya memberitakan bagaimana masyarakat terdampak asap, tetapi ikut membagikan masker, vitamin dan makanan.

Pesannya sederhana: pers tidak hanya memberitakan persoalan masyarakat, tetapi juga hadir ketika masyarakat membutuhkan kepedulian.

Sejumlah pimpinan organisasi pers turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua PWI, Ketua AWPI, IPJI, IJTI serta unsur Sekber PEWARNA dan organisasi pers lainnya.

Dari jajaran Pemerintah Provinsi Kalteng, hadir Sekda dr. Linae, Kepala Dinas Pendidikan Kalteng Muhammad Reza Prabowo, Karo Umum Rangga, Sayuti serta sejumlah pimpinan OPD.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa persoalan kabut asap memiliki dimensi yang luas. Dampaknya bukan hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga kesehatan, pendidikan, aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat.

Gubernur Coba Rumah Oksigen
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Gubernur Agustiar Sabran juga melihat langsung fasilitas rumah oksigen yang berada di bawah kawasan Tugu Talawang.

Gubernur bahkan mencoba langsung fasilitas oksigen tersebut setelah sebelumnya menjalani pemeriksaan tekanan darah.

Rumah oksigen itu disiapkan sebagai fasilitas bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan oksigen. Fasilitas tersebut disebut mampu menampung lebih dari 30 orang dan dibuka hingga pukul 22.00 WIB.

Keberadaan fasilitas tersebut menjadi perhatian tersendiri karena memberikan alternatif pertolongan bagi warga ketika kondisi kualitas udara memburuk.

Bukan Hanya Soal Masker
Pembagian 3.000 paket memang penting. Masker dapat membantu mengurangi paparan partikel udara, sementara vitamin dan makanan menjadi bentuk dukungan langsung kepada masyarakat.

Namun, persoalan kabut asap tentu tidak selesai hanya dengan membagikan masker. Di sinilah tantangan pemerintah menjadi lebih besar: bagaimana memastikan penanganan kabut asap berjalan dari hulu hingga hilir—mulai dari pengendalian sumber asap, pemantauan kualitas udara, perlindungan kelompok rentan, kesiapan fasilitas kesehatan hingga memastikan kegiatan masyarakat tetap aman.

Karena itu, aksi Gubernur bersama wartawan dapat dibaca sebagai pesan bahwa penanganan dampak kabut asap membutuhkan kolaborasi.

Pemerintah memiliki kewenangan dan sumber daya. Masyarakat memiliki kepedulian. Sementara pers memiliki kekuatan untuk mengawasi, mengedukasi dan menyuarakan kondisi warga.
Ketiganya memiliki peran yang berbeda, tetapi bertemu pada kepentingan yang sama: keselamatan masyarakat.

Pers Harus Tetap Kritis
Keterlibatan wartawan dalam aksi sosial bukan berarti fungsi kontrol pers harus berhenti.
Justru sebaliknya. Ketika wartawan ikut turun ke lapangan, mereka dapat melihat secara langsung kondisi masyarakat, mendengar keluhan warga dan mengetahui kebutuhan yang sebenarnya.

Setelah kegiatan sosial selesai, tugas jurnalistik tetap berjalan.
Pemerintah tetap harus diawasi. Kebijakan penanganan kabut asap tetap harus dikritisi. Anggaran penanggulangan harus transparan. Dan keselamatan warga harus menjadi ukuran utama keberhasilan penanganan.
Sebab pers yang hadir di tengah masyarakat bukan hanya pers yang memberitakan apa yang terjadi, tetapi juga pers yang memahami mengapa itu terjadi dan siapa yang paling terdampak.

Minggu pagi itu, di kawasan Bundaran Besar Palangka Raya, pesan tersebut terlihat jelas: Gubernur turun langsung. Wartawan tidak hanya memegang kamera dan pena, tetapi ikut membantu warga menghadapi kabut asap.

Dan setelah masker dibagikan, pekerjaan jurnalistik belum selesai.
Justru dari sinilah pengawasan dimulai.

Reporter : Endharmoko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *