Pdt Mulyadi Sulaeman Karya Jurnalistik Kedepankn Karakter dan Kesesuaian Antara Tulisan dan Kehidupan

Wartaindo  Jakarta Selatan, Senin, 10 Agustus 2026 — Kemampuan menulis dan penguasaan teknologi hanyalah alat. lebih jauh menentukan nilai sebuah karya jurnalistik adalah hati, karakter, dan kesesuaian antara apa yang ditulis dengan bagaimana kehidupan dijalani. Demikian pesan mendalam yang disampaikan Pdt. Mulyadi Sulaeman, Gembala Sidang House Filadelfia Permata Hijau, Jakarta Selatan dalam seminar bertajuk “Membangun Karakter Jurnalis yang Berintegritas dan Berdampak” yang digelar di Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).

Mengambil inspirasi dari 2 Korintus 3:2–3, Pdt. Mulyadi menyampaikan gagasan yang menggetarkan hati para jurnalis yang hadir: bahwa setiap orang, terlebih seorang jurnalis, adalah “surat yang terbaca oleh semua orang”. Surat itu tidak hanya tertulis di atas kertas atau layar gawai, melainkan tertulis dalam sikap, perkataan, perlakuan terhadap sesama, dan kesesuaian antara pengakuan serta perbuatan.

“Nama dan merek dapat membuat seseorang dikenal. Tetapi hanya integritas yang membuat seseorang dipercaya. Jangan sekadar membangun nama besar, bangunlah kepercayaan yang tak bisa dibeli dengan apa pun,” tegasnya.

Pdt. Mulyadi mengingatkan bahwa jurnalisme sejati tidak cukup hanya dengan kecepatan dan kemenarikan berita. Lebih dari itu, jurnalis harus memastikan setiap tulisannya berakar pada kebenaran, berimbang, memiliki konteks, menghargai martabat manusia, dan membawa manfaat bagi masyarakat. Jika tidak, maka apa yang ditulis justru menjadi “surat yang ternoda” — menyebarkan kebencian, memelintir fakta, dan merusak kepercayaan publik.

Salah satu renungan yang disampaikan menyentuh poin krusial: ketidaksesuaian antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan adalah kerusakan terbesar pada profesi pers. Jika seorang jurnalis mengaku memperjuangkan kebenaran namun menyebarkan informasi yang belum diverifikasi, jika ia berbicara perdamaian namun tulisannya justru menebarkan permusuhan, maka “surat kehidupan” yang ia tulis setiap hari menjadi rusak di mata pembaca.

Oleh karena itu, Pdt. Mulyadi mengajak seluruh insan pers untuk menegaskan tekad: tidak akan menulis sesuatu yang diketahuinya tidak benar; tidak akan memanfaatkan profesi untuk kepentingan pribadi atau kelompok; dan akan membiarkan fakta, keadilan, serta kasih menjadi dasar setiap pena digerakkan.

“Dunia sedang membaca kehidupan kita. Jangan biarkan pembaca menemukan kesombongan, kepalsuan, atau kebencian dari tulisan kehidupan kita. Sebaliknya, biarlah mereka membaca kebenaran, kejujuran, pengampunan, dan ketulusan. Itulah surat yang paling berharga,” pungkasnya.

Seminar ini akhirnya meninggalkan satu pesan mendalam bagi setiap jurnalis yang hadir: kita tidak hanya dikenang karena seberapa banyak tulisan yang telah dibuat, melainkan karena seberapa besar kebenaran dan kebaikan yang telah dituliskan ke dalam kehidupan setiap orang.

Reporter: Johan Sopaheluwakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *