Sisi Tersembunyi Gus Kikin: Biasa Mendengar, Teduh Berbicara, Menghargai Gagasan

Oleh: ABD. AZIZ

Wartaindo Surabaya Ada orang yang menjadi besar karena jabatan. Ada pula orang yang justru memperlihatkan kebesarannya dengan tidak menjadikan jabatan sebagai jarak. Kiai Abdul Hakim Mahfudz—akrab disapa Gus Kikin, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur—bagi saya memperlihatkan tipe yang kedua.

Di tengah kultur sosial yang sering kali menempatkan seseorang berdasarkan gelar, jabatan, pengaruh, dan status sosial, Gus Kikin justru menunjukkan sesuatu yang semakin langka: kerendahan hati yang tidak dibuat-buat. Ia teduh dalam bertutur. Tenang dalam bersikap. Tidak mudah memperlihatkan ego. Dan yang paling menarik, ia memiliki kesediaan untuk mendengarkan.

Bagi sebagian orang, mendengarkan mungkin merupakan perkara sederhana. Tetapi bagi seseorang yang berada dalam posisi terhormat, memiliki otoritas, dan menjadi pusat perhatian banyak orang, kemampuan mendengarkan sesungguhnya merupakan kualitas kepemimpinan yang tidak sederhana.

Gus Kikin tidak terburu-buru memotong pembicaraan. Ia memberi ruang kepada lawan bicaranya untuk menyelesaikan pikiran. Ia tidak tampak sibuk menunjukkan bahwa dirinya lebih tahu. Bahkan ketika berhadapan dengan seseorang yang jauh lebih muda dan tidak memiliki status sosial yang menonjol, sikapnya tetap sama: manusia diperlakukan sebagai manusia.

Di situlah sisi tersembunyi Gus Kikin yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar jabatan formal yang kini disandangnya. Kebesaran yang tidak menciptakan jarak. Ada pemimpin yang ketika memperoleh kedudukan semakin sulit ditemui. Ada pula yang ketika semakin tinggi posisinya justru semakin mudah diajak berbicara. Gus Kikin berada pada kategori kedua.

Pengalamannya sebagai pengasuh pesantren dan tokoh Nahdlatul Ulama tidak membuatnya merasa perlu menciptakan tembok sosial dengan orang lain. Ia tidak menjadikan status sebagai ukuran utama dalam membangun komunikasi. Hal itu terasa dalam percakapan-percakapan yang berlangsung jauh sebelum Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang.

Beberapa bulan sebelum Muktamar, misalnya, Gus Kikin tidak segan berbincang dengan saya yang bukan siapa-siapa. Sekadar anak muda yang menggawangi berdirinya Kaukus Intelektual Nahdlatul Ulama (KALAM NU. Yang menarik bukan semata-mata siapa yang berbicara dengan siapa. Yang lebih penting adalah apa yang dibicarakan.

Percakapan itu tidak berhenti pada persoalan pribadi, apalagi sekadar basa-basi. Ada kegelisahan tentang masa depan NU. Ada gagasan tentang bagaimana PBNU harus bergerak maju. Ada pembicaraan mengenai organisasi yang perlu semakin modern, profesional, terbuka terhadap pemikiran, tetapi tetap berakar kuat pada tradisi dan khazanah ke-NU-an.

Di sana terlihat bahwa Gus Kikin tidak hanya mendengarkan orang-orang yang datang membawa jabatan. Ia juga mendengarkan gagasan. Dan pemimpin yang mampu mendengarkan gagasan dari siapa pun sesungguhnya sedang menunjukkan kualitas intelektual sekaligus kualitas akhlak.

Tidak Bertanya: “Siapa Anda?”, tetapi “Apa Gagasan Anda?”

Ada perbedaan besar antara pemimpin yang hanya ingin mendengar orang-orang penting dan pemimpin yang ingin mendengar pemikiran yang penting. Yang pertama menjadikan status sebagai pintu masuk. Yang kedua menjadikan gagasan sebagai pintu masuk.

Dari cara Gus Kikin berinteraksi dengan banyak orang, termasuk dengan mereka yang secara sosial tidak berada dalam lingkaran elite, tampak sebuah prinsip sederhana: nilai sebuah percakapan tidak ditentukan oleh status orang yang berbicara, melainkan oleh bobot gagasan yang dibicarakan. Sikap semacam ini sangat relevan bagi NU hari ini.

Organisasi sebesar NU tidak mungkin hanya dibangun dari suara mereka yang berada di pusat struktur. NU membutuhkan ruang bagi para kiai, ulama, intelektual, akademisi, aktivis, profesional, anak muda, pesantren, dan warga nahdliyin di akar rumput untuk menyampaikan pikiran. Sebab organisasi yang besar tidak boleh kehilangan kemampuan untuk mendengar.

Kepemimpinan yang kuat bukanlah kepemimpinan yang selalu berbicara paling banyak, melainkan kepemimpinan yang mampu mendengar lebih jauh daripada yang terdengar. Singkatnya, akhlak sebelum Keekuasaan. Mungkin inilah pelajaran paling penting dari Gus Kikin.

Sebelum seseorang berbicara tentang kepemimpinan, ia perlu memperlihatkan akhlak kepemimpinan itu sendiri. Sebab kekuasaan dapat membuat seseorang terlihat besar di mata manusia. Tetapi akhlaklah yang menentukan apakah kebesaran itu memiliki makna. Kerendahan hati bukan berarti kelemahan.

Tidak memotong pembicaraan bukan berarti tidak memiliki pendirian. Mendengarkan pendapat orang lain bukan berarti kehilangan otoritas. Justru sebaliknya. Orang yang mampu mendengarkan tanpa kehilangan dirinya adalah orang yang memiliki kematangan dalam memimpin.

Gus Kikin menunjukkan bahwa kewibawaan tidak selalu lahir dari suara yang keras, gestur yang dominan, atau kalimat yang panjang. Terkadang kewibawaan justru hadir dari ketenangan, kesabaran, dan kemampuan membuat orang lain merasa dihargai.

Dari Tebuireng untuk PBNU

Kini, ketika Gus Kikin dipercaya menakhodai PBNU periode 2026–2031 bersama Kiai Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam, kualitas manusiawinya itu menjadi modal penting dalam perjalanan organisasi. Tentu, kepemimpinan PBNU lima tahun ke depan tidak cukup hanya mengandalkan karakter personal.

NU menghadapi tantangan organisasi, kaderisasi, tata kelola, transformasi digital, ekonomi umat, pendidikan, politik kebangsaan, hingga perubahan sosial yang bergerak sangat cepat. Tetapi semua agenda besar itu membutuhkan satu fondasi yang sering kali justru terlupakan: kemampuan untuk mendengar.

Mendengar sebelum memutuskan. Mendengar sebelum mengoreksi. Mendengar sebelum menyimpulkan. Dan, yang paling penting, mendengar bukan hanya suara mereka yang berada di dalam lingkaran kekuasaan.

Jika kebiasaan itu mampu dibawa dari Tebuireng ke PBNU, maka kepemimpinan Gus Kikin berpotensi menghadirkan sesuatu yang sangat berharga: organisasi yang besar secara struktur, tetapi tetap rendah hati secara kultur. Itulah sisi yang tidak banyak terlihat dari Gus Kikin.

Di depan publik, orang mungkin mengenal Gus Kikin sebagai Pengasuh Tebuireng. Setelah Muktamar, ia dikenal sebagai Ketua Umum PBNU. Namun di balik jabatan itu terdapat sisi lain yang jauh lebih sunyi: seorang kiai yang bersedia duduk, berbincang, mendengarkan, dan memberi ruang kepada orang lain untuk menyampaikan pikirannya.

Bagi saya, justru di situlah letak kebesaran seorang pemimpin. Bukan ketika ia dikelilingi banyak orang. Bukan ketika namanya disebut di podium. Bukan ketika jabatannya membuat semua orang menunduk. Melainkan ketika ia tetap mampu memandang seseorang yang tidak memiliki jabatan sebagai manusia yang memiliki martabat dan gagasan.

Kebesaran sejati tidak membutuhkan jarak. Dan mungkin, itulah sisi tersembunyi Gus Kikin yang paling layak diperbincangkan: seorang pemimpin yang tidak sibuk memperlihatkan kebesarannya, karena akhlaknya telah berbicara lebih dahulu.

Itulah pengalaman dan pengamatan saya yang terangkum dalam testimoni, yang bisa jadi berbeda dengan yang dialami orang lain. Setidaknya, pengalaman tersebut diperoleh sejak Gus Kikin sebelum ditetapkan sebagai penjabat Ketua PWNU Jawa Timur.

Penulis adalah Founder dan Senior Managing Partner Firma Hukum PROGRESIF LAW Jakarta; Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK); Ketua Umum Kaukus Intelektual Nahdlatul Ulama (KALAM NU)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *