Wartaindo Cisarua Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta menyelenggarakan Workshop Dosen pada 17–18 September 2026 di Hotel Taman Teratai, Cisarua. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pimpinan dan dosen STT IKAT Jakarta.
Workshop tahun ini mengusung tema Penguatan Kapasitas Dosen untuk Pendidikan yang Relevan, Inklusif, dan Berdampak Melalui Transformasi Pembelajaran Berbasis OBE (Outcome-Based Education).
Rektor/Ketua STT IKAT Jakarta, Dr. Jimmy MR Lumintang, M.A., M.B.A., dalam sambutannya pada 17 September 2026, menyatakan bahwa workshop tersebut menjadi ruang bersama bagi pimpinan dan dosen untuk memperkuat kapasitas akademik dan profesional, serta menyesuaikan penyelenggaraan pembelajaran dengan perkembangan kebijakan dan standar mutu pendidikan tinggi.
Dalam sambutannya, Lumintang menyebut dosen di perguruan tinggi teologi memiliki tanggung jawab ganda. Di satu sisi, dituntut menghadirkan pendidikan yang berakar pada nilai teologis, pembentukan karakter, dan pelayanan. Di sisi lain, sebagai bagian dari sistem pendidikan tinggi nasional, dituntut profesionalisme, pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, pengembangan kompetensi, penjaminan mutu, dan pemenuhan regulasi.
“Workshop ini tidak hanya diarahkan pada penyelesaian dokumen akademik. Implementasi Outcome-Based Education, penyusunan RPS, proses pembelajaran, dan asesmen harus benar-benar terhubung dengan capaian atau hasil yang diharapkan dari mahasiswa. OBE tidak cukup terlihat di dalam dokumen, tetapi harus hidup dalam praktik pembelajaran,” jelas Lumintang dalam sambutannya.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber utama. Pertama, Dr. Weldemina Yudit Tiwery, S.Si., M.Hum. dari Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI. Kehadiran Ditjen Bimas Kristen tersebut, menurut Rektor, dimaknai sebagai bagian dari sistem kontrol dan pembinaan untuk menjaga keselarasan antara regulasi pendidikan tinggi keagamaan Kristen dan implementasinya di perguruan tinggi.
Kedua, Dr. Markus Oci, S.Th., M.Pd.K., Asesor LAMDIK/LAMGAMA. Lumintang menyampaikan, perspektif penjaminan mutu eksternal dinilai penting agar institusi tidak hanya memastikan suatu proses telah dilaksanakan, tetapi juga mampu menunjukkan bahwa proses tersebut memenuhi standar, dapat dievaluasi, dan menghasilkan capaian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Seluruh proses diskusi, tugas mandiri, presentasi, simulasi,
dan Rencana Tindak Lanjut (RTL) didampingi oleh Dr. Donna Sampaleng, M.Pd.,D.Th. selalu narasumber internal.
Rangkaian workshop selama dua hari mencakup materi penguatan mutu dosen, penyusunan RPS berbasis OBE, rencana tindak lanjut, hingga ibadah penutupan.
Di akhir sambutannya, Rektor berharap hasil workshop dapat terlihat dalam perbaikan RPS, kualitas pembelajaran, pelaksanaan Tridarma, dan budaya mutu di lingkungan STT IKAT Jakarta.
“Seluruh regulasi, kurikulum, dan sistem penjaminan mutu bermuara pada satu hal: menghadirkan proses pendidikan yang semakin baik dan bertanggung jawab bagi mahasiswa,” tulisnya.