Wartaindo Jakarta Sri Eko Sriyanto Galgendu pasca gelar Doa dan pembacaan syair Bhuwana Bahasa Bumi mendapat gelar baru sebagai Begawan Ismaya atau Begawan Spiritual. Dalam pagelaran ini, Eko berhasil menorehkan sejarah baru di dunia spiritual. Menarik langkah yang dilakukan Sri Eko Galgendu di tengah keriuhan kondisi bangsa, namun dengan penuh keheningan dan ketulusan Eko mendoakan para tokoh dan pemimpin bangsa berlangsung dari tanggal 2-3 Agustus ini, bertempat di Gedung Antara Heritage, Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Sebuah pagelaran yang sudah dirancang setahun lalu ini bertajuk PERSEMBAHAN SPIRITUAL “MA HA IS MAYA – 20 JAM NON STOP” Membangkitkan Kembali Spiritualitas Nusantara melalui Doa dan Syair Bahasa Bumi
Kegiatan yang dilakukan dalam upaya menggugah kembali kesadaran spiritual dan kearifan lokal Nusantara. “MA HA IS MAYA 20 Jam Non Stop” sebuah acara ini dipersembahkan oleh Sri Eko Sriyanto Galgendu dan diselenggarakan oleh Zahra Event, menghadirkan pembacaan Doa dan Syair Ayat-Ayat Bhuwana dalam bahasa bumi bahasa spiritual yang menyatu dengan tanah air dan jiwa manusia.
Ruang Refleksi 20 Jam Non-Stop
Dengan durasi unik selama 20 jam tanpa henti, kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi peserta untuk mendalami peran sebagai pemimpin atas diri sendiri, menyelaraskan hubungan antara diri, sesama, alam, dan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Gelar doa dan pembacaan syair ayat-ayat Bhuwana dalam bahasa bumi di bagi 7 sesi utama, di mana setiap sesinya dibacakan syair dan doa sebanyak 11 orang. Di mana para peserta akan disuguhkan persembahan spiritual melalui pembacaan doa dan syair dalam bahasa bumi untuk 79 tokoh Bangsa lintas Agama dan budaya dan Profesi yang terdiri dari 25 tokoh yang sudah Wafat dan 54 tokoh yang akan hadir baik secara langsung atau luring dan secara online atau daring ( lewat zoom meeting) dan Doa bersama untuk bumi dan kehidupan
Menghimpun Tokoh Bangsa Lintas Latar
Sejumlah undangan nampak hadir seperti Yudhi Latif, Mataliti anggota DPD RI, Habib Chirzin, Pangeran Bios, Prof. Yudhi Haryono, Dr. dr. Siti Fadilah Supari, SP. JP(K), Boki Ratu Nita Budhi Susanti, SE. M.M, Azisoko Harmoko putra Harmoko, Joseph Osdar wartawan senior Kompas, Romo Nardjo Sumargono, DJ, Ir. Sayuti Asyathri, Juliani Malik, SH dan lain sebagainya.
Menurut Eko bahwa kegiatan ini juga menjadi momentum pertemuan lintas agama, budaya, dan profesi. Hadir dalam acara ini: Para pemuka agama, Sultan dan Raja Nusantara, Tokoh adat, budayawan, Pejabat pemerintah, serta Pelaku usaha yang peduli pada nilai spiritualitas dan tanggung jawab sosial.
Kitab MA HA IS MAYA & Warisan Budaya
Hasil dari refleksi dan dokumentasi doa dalam acara ini akan dibukukan menjadi Kitab “MA HA IS MAYA”, sebagai salah satu bentuk pelestarian warisan budaya spiritual Nusantara. Harapannya, buku ini menjadi sumber inspirasi lintas generasi dalam menghadapi krisis eksistensi dan tantangan modern.
Menulis Kitab MA HA IS MAYA sungguh telah lama direncanakan sejak setahun silam (2024) sehingga telah menjadi topik bahasan disela perjalanan ziarah ke berbagai tempat di Indonesia. Dan sejak tiga bulan terakhir masuk dalam kalender program GMRI untuk diwujudkan dengan target utama menjadi Alkitab — sebagai bagian dari penuntun gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual untuk menuntun segenap aktivitas yang berpegang pada nilai-nilai spiritual yang menjaga etika, moral dan akhlak manusia yang mulia dihadapan Sang Pencipta dan Penguasa Jagat Raya ini.
Bersama ZAHRA EVENT Menghadirkan harmoni spiritual untuk masa depan yang lebih sadar, berbudaya, dan bertanggung jawab.