Delapan Puluh Tahun Panji Gumilang: Dari Ma’had Al-Zaytun Menuju 500 Titik Pendidikan untuk Indonesia

Wartaindo Indramayu– Usia 80 tahun bukan akhir perjalanan. Bagi Syaykh Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, usia itu justru menjadi titik tolak baru. Pada Kamis, 30 Juli 2026, keluarga besar Ma’had Al-Zaytun menggelar peringatan Milad ke-80 sang pendiri di Grand Musola Rahmatan Lil Alamin, Indramayu, Jawa Barat. Acara ini bukan sekadar seremoni. Di panggung itu, Panji Gumilang mengumumkan rencana besar: replikasi model pendidikan Al-Zaytun di 500 titik di seluruh Indonesia.

Pendidik yang Membangun dari Nol

Publik perlu mengenal sosok ini dari sisi yang paling mendasar, yaitu sebagai pendidik dan pendiri lembaga pendidikan. Panji Gumilang lahir di Desa Sembung Anyar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, pada 30 Juli 1946. Ia tumbuh dalam tradisi belajar yang kuat. Pagi hari ia belajar di Sekolah Rakyat. Sore hari ia mengaji di langgar desa. Pola ini menanamkan disiplin ganda sejak dini: ilmu umum dan ilmu agama berjalan seiring.

Ia kemudian menempuh pendidikan di Pondok Modern Gontor, lalu melanjutkan studi ke IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada Fakultas Adab, Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam. Perpaduan Gontor dan kampus Ciputat membentuk cara pandangnya tentang pendidikan Islam yang modern, terbuka, dan berwawasan kebangsaan. Pada 24 Mei 2003, ia menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang Management, Education and Human Resources dari International Management Centres Association. Penghargaan itu diberikan atas jasanya mewujudkan paradigma baru pendidikan Islam di Indonesia melalui Ma’had Al-Zaytun.

Karya terbesarnya adalah Ma’had Al-Zaytun. Pembangunan pesantren ini dimulai pada 13 Agustus 1996 di Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, di atas lahan seluas 1.200 hektar. Pembelajaran perdana dibuka pada 1 Juli 1999. Presiden ketiga Republik Indonesia, Prof. Dr.-Ing. B.J. Habibie, meresmikannya pada 27 Agustus 1999. Harian The Washington Times pada 2005 menyebut Al-Zaytun sebagai pesantren terbesar di Asia Tenggara. Ribuan santri dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Malaysia, Singapura, Timor Leste, dan Afrika Selatan, menimba ilmu di sana.

Toleransi, Perdamaian, dan Kemandirian

Visi Al-Zaytun tertuang jelas dalam mottonya:

“Al-Zaytun Pusat Pendidikan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian Menuju Masyarakat Sehat, Cerdas, dan Manusiawi”

Motto ini bukan hiasan dinding. Ia menjadi arah kerja seluruh lembaga. Misi Al-Zaytun adalah mempersiapkan peserta didik yang beraqidah kokoh, berakhlak mulia, berilmu pengetahuan luas, dan berketerampilan tinggi. Semua itu terangkum dalam prinsip bashthotan fil ‘ilmi wal jismi, yaitu keluasan ilmu dan kekuatan jasmani. Tujuannya agar lulusan sanggup hidup dinamis di tengah bangsa sendiri maupun masyarakat antarbangsa.

Panji Gumilang menerapkan Sistem Pendidikan Satu Pipa atau One Pipe Education System. Pendidikan berjalan tanpa putus dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dalam satu ekosistem. Ia juga menekankan kemandirian sebagai pilar. Al-Zaytun mengelola pertanian terpadu, ketahanan pangan, dan ekonomi internal secara mandiri. Lembaga pendidikan, menurutnya, tidak boleh bergantung pada pihak luar. Gaya kepemimpinannya dikenal mengandalkan manajemen “kekitaan”, bukan “keakuan”. Pendidikan adalah kerja bersama, bukan panggung satu orang.

Milad ke-80: Syukur yang Melahirkan Rencana Besar

Peringatan milad ini mengusung semangat mensyukuri pencapaian dan terus melangkah menuju kemajuan. Sorotan utama acara adalah pemaparan rencana strategis Panji Gumilang. Ia ingin menduplikasi ekosistem sekolah berasrama modern ala Al-Zaytun di 500 titik di penjuru Tanah Air. Rencana ini dirancang untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia bangsa. Titik beratnya jelas: penguasaan sains dan pembentukan karakter.

Rencana ini relevan dengan kebutuhan Indonesia hari ini. Bangsa ini menghadapi bonus demografi. Pendidikan berkualitas yang merata menjadi kunci agar bonus itu tidak berubah menjadi beban. Model pendidikan terpadu yang menggabungkan iman, ilmu, keterampilan, dan kemandirian pangan menawarkan jawaban konkret. Ini bukan wacana. Al-Zaytun telah membuktikannya selama lebih dari seperempat abad.

Apresiasi Lintas Tokoh dan Lintas Iman

Deretan tokoh nasional hadir memberi penghormatan. Prof. Dr. H. Ermaya Suradinata, Rektor dan Gubernur Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Menyoroti peran Syekh sebagai tokoh pembaharu pendidikan yang sangat luar biasa. Beliau menekankan bahwa sistem pendidikan yang dibangun di Al-Zaytun adalah upaya untuk mempersiapkan generasi bangsa yang cemerlang dengan menanamkan nilai-nilai karakter, nasionalisme, dan rasa hormat terhadap keberagaman

Demikian pula Prof. Connie Rahakundini Bakrie, Guru Besar Hubungan Internasional Saint Petersburg State University, Rusia. Menyampaikan sebuah surat terbuka bagi Syekh. Beliau memberikan apresiasi mendalam atas dedikasi Syekh, seraya menekankan pentingnya gagasan-gagasan besar yang ditinggalkan sang pendidik agar terus dirasakan manfaatnya oleh dunia dan peradaban

Orasi ilmiah dibawakan oleh Dr. (H.C.) Gita Irawan Wirjawan, Chairman Ancora Group dan Menteri Perdagangan RI periode 2011 sampai 2014. Menyampaikan mengenai pengembangan modal manusia, pentingnya penguasaan bidang STEM (Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika), serta peran infrastruktur dalam menavigasi masa depan kecerdasan buatan.

Dalam pidatonya, Sultan Paser ke-18, Dr. Sultan A.H. Adrian Sulaiman, Menyatakan komitmennya untuk mereplikasi model pendidikan Al-Zaytun di wilayah Kalimantan Timur. Sebagai hadiah ulang tahun, Sultan Paser menyerahkan kado berupa dokumen pendirian Yayasan Nusantara yang akan dinakhodai oleh beliau sendiri. Yayasan ini bertujuan untuk mengintegrasikan kepulauan Indonesia melalui jalur pendidikan yang berbasis pada Asta Cita keempat

Dari kalangan sahabat, hadir antara lain Mayjen TNI (Purn.) Kivlan Zen, Kepala Staf Kostrad periode 1996 – 1997, serta Drs. Ch. Robin Simanullang, wartawan senior Majalah Tokoh Indonesia. Menyampaikan beberapa pesan Menegaskan posisinya sebagai saksi mata dan pencatat sejarah yang telah mendalami alam pikiran Syekh Panji Gumilang selama lebih dari 20 tahun. Ia tidak sekadar mengamati, tetapi mendokumentasikan perjalanan Al-Zaytun sejak awal. Robin mendoakan agar usia Syekh terus berlanjut hingga melampaui 100 tahun, agar pemikiran dan karya beliau dapat lebih membumi di Nusantara serta menjadi panduan bagi peradaban dunia. Sebagai kado ulang tahun, ia mempersembahkan refleksi dan hasil dokumentasi saksi mata sejarah yang ia tulis mengenai pemikiran Syekh terkait solusi pendidikan modern di Indonesia untuk mencapai kemajuan yang abadi.

Kehadiran tokoh lintas iman memberi warna tersendiri. Hadir mewakili Persatuan Wartawan Nasrani (Pewarna) Indonesia, Dr. Antonius Natan menyampaikan pesan bahwa Usia 80 mengandung nilai numerik (gematria). ‘Dalam Alkitab yang saya percayai bahwa angka 8 melambangkan awal yang baru, kebangkitan, dan keselamatan. Angka ini sering kali digambarkan sebagai tanda dari tatanan ciptaan baru. Ma’had Al Zaytun memasuki horison yang baru (new Beginning). Al-Zaytun sebagai miniatur Indonesia yang sesungguhnya. Indonesia kecil yang harus menjadi Indonesia raya. Membawa Pembelajaran ke seluruh Indonesia. Bahwa doa orang benar besar kuasanya”

Hadir juga sahabat lainya Pdt. Ir. Danny Supangat dari Pasundan Menyembah bersama Pdt. Wim Wairata, M.Th. dari Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia. Dan berbagai rekan Pendeta dari bergai kota turut hadir.

Warisan yang Harus Dirawat Bersama

Delapan puluh tahun adalah anugerah. Panji Gumilang menunjukkan bahwa usia panjang bermakna ketika diisi dengan karya bagi sesama. Dari lahan di Indramayu, ia membangun kampus peradaban. Kini ia bermimpi menghadirkan 500 titik pendidikan serupa bagi bangsa ini. Mimpi itu layak didukung semua anak bangsa, apa pun latar iman dan golongannya.

Pendidikan adalah jalan sunyi menuju perubahan besar. Kitab Amsal mengingatkan, didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu. Semangat yang sama hidup di Al-Zaytun. Semoga perayaan ini menjadi momentum bagi seluruh pegiat pendidikan di Indonesia untuk terus menanam benih kejujuran, toleransi, dan kemandirian. Bangsa ini akan memanennya di masa depan.

Pro Ecclesia Et Patria

Dr. Antonius Natan, SH., M.Th.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *