Wartaindo IAKN Kupang (Kemenag) Di tengah dinamika sosial, ekonomi, dan pendidikan yang kian kompleks di kawasan timur Indonesia, perguruan tinggi ditantang untuk tidak sekadar mencetak lulusan berijazah, tetapi membentuk manusia tangguh, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan zaman. Itulah inti pesan dari Prof. Dr. Adrianus Amheka, ST., M.Eng, Kepala LLDIKTI Wilayah XV, dalam sambutannya pada Wisuda ke-7 Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang.
Berbicara di hadapan para lulusan, dosen, dan undangan yang memenuhi Ballroom Hotel Aston Kupang, Prof. Amheka menyampaikan bahwa dunia pendidikan tinggi, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), tengah berada dalam fase krusial: antara mengejar ketertinggalan dan menghadapi kenyataan. Ia menyebut empat tantangan besar yang terus mengintaikesenjangan akses, kualitas pendidikan yang belum merata, pengangguran terbuka di kalangan sarjana, serta kemiskinan ekstrem yang masih membelenggu banyak wilayah di Indonesia Timur.
Namun di tengah semua itu, harapan tetap menyala. “Reformasi karakter adalah kuncinya. Bukan hanya memperkuat kualitas akademik, tetapi juga membangun mentalitas dan integritas sebagai fondasi utama,” tegas Prof. Amheka.
Menurutnya, lembaga pendidikan tinggi harus kembali pada roh pendidikannya: membentuk manusia seutuhnya. Ia menekankan bahwa di tengah derasnya arus digitalisasi dan ekonomi pasar, nilai-nilai dasar seperti etos kerja, tanggung jawab, dan solidaritas sosial justru menjadi pembeda utama lulusan yang benar-benar siap pakai.
Prof. Amheka juga mengapresiasi IAKN Kupang sebagai salah satu kampus keagamaan yang konsisten mendukung ekosistem riset dan inovasi, sekaligus menjadi penopang penguatan pendidikan agama Kristen yang relevan dengan realitas masyarakat. “IAKN Kupang telah menunjukkan bahwa pendidikan keagamaan tidak hanya berbicara soal doktrin, tetapi juga tentang dampak sosial dan penguatan karakter publik,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kepercayaan publik terhadap perguruan tinggi masih sangat tinggi, meski banyak institusi saat ini menghadapi tantangan internal. Karena itu, sinergi internal, kondusivitas lingkungan akademik, dan kolaborasi lintas fungsi menjadi sangat penting untuk memastikan Tri Dharma Perguruan Tinggi — pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat benar-benar memberi hasil nyata.
“Perguruan tinggi harus solid. Jangan terpecah oleh ego sektoral. Semua komponen dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan harus bergerak bersama demi satu misi: menciptakan dampak,” ujarnya penuh penekanan.*
Penulis : Merling Messakh & Devrialdo Pa’at